Harga Minyak Dunia Turun 3 Hari Berturut-turut, Ini Alasannya
Harga Minyak Dunia Turun Tiga Hari Berturut-turut, Kekhawatiran Ekonomi dan Produksi OPEC+ Jadi Faktor
Harga minyak dunia terus menurun selama tiga hari berturut-turut hingga Rabu (Kamis waktu Jakarta), dipicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global akibat shutdown pemerintah AS. Para pedagang juga menyoroti rencana peningkatan produksi minyak oleh OPEC+ yang bisa menambah pasokan di pasar
Mengutip CNBC, Kamis (2/10/2025), harga minyak Brent turun 68 sen atau 1,03% menjadi USD 65,35 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 59 sen atau 0,95%, ditutup pada USD 61,78 per barel. Penurunan harga ini menandai tren negatif selama beberapa hari terakhir, yang menunjukkan sentimen hati-hati dari investor global.
Analis dari Rystad Energy, Janiv Shah, mengatakan bahwa para pedagang memperkirakan OPEC+ akan meningkatkan produksi pada November mendatang, kemungkinan setara dengan kenaikan 500.000 barel per hari yang terjadi pada September, meski permintaan dari AS dan Asia mulai melambat. Hal ini dapat menambah tekanan pada harga minyak, karena pasokan yang lebih tinggi dapat menurunkan harga jika permintaan tidak mengikuti.
OPEC+, yang terdiri dari OPEC dan produsen sekutu seperti Rusia, sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi minyak hingga 500.000 barel per hari pada bulan November. Peningkatan ini akan tiga kali lipat dari kenaikan yang dibuat pada bulan Oktober. Arab Saudi, sebagai salah satu produsen utama, disebut-sebut ingin merebut kembali pangsa pasar global melalui kebijakan ini.
Namun, OPEC menegaskan melalui akun resmi di X (sebelumnya Twitter) bahwa laporan media tentang rencana peningkatan produksi sebesar 500.000 barel per hari dianggap menyesatkan. OPEC menekankan bahwa keputusan produksi akan didasarkan pada evaluasi pasar yang hati-hati dan koordinasi antaranggota.
Selain faktor produksi, kekhawatiran investor juga dipengaruhi oleh data ekonomi global yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan di beberapa negara, termasuk di Eropa dan Asia. Data terbaru dari Bank Dunia memperingatkan risiko perlambatan global, yang dapat menekan permintaan energi.
Sementara itu, analis pasar energi memperingatkan bahwa volatilitas harga minyak bisa meningkat dalam beberapa minggu ke depan. “Investor perlu memperhatikan kombinasi faktor geopolitik, kebijakan OPEC+, dan kondisi ekonomi global. Semua ini bisa memicu fluktuasi harga yang signifikan,” ujar Shah.
Secara keseluruhan, harga minyak dunia berada di bawah tekanan dari dua sisi: potensi kenaikan pasokan dan kekhawatiran perlambatan ekonomi. Para pelaku pasar tetap berhati-hati, menunggu sinyal dari data ekonomi dan kebijakan OPEC+ selanjutnya.
0 Comments