3 Strategi Investasi Ala Warren Buffett yang Bisa Mengubah USD 10.000 Jadi Kekayaan
Warren Buffett Kembali Jadi Sorotan, Ini Cara Mengubah Modal Rp 168 Juta Jadi Kekayaan Besar ala Oracle of Omaha
Warren Buffett kembali menjadi sorotan publik seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi saham dan aset keuangan pada 2026. Di tengah maraknya tren trading cepat, aset digital, hingga euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), investor legendaris yang dijuluki Oracle of Omaha ini justru tetap konsisten menggaungkan prinsip investasi klasik yang menekankan kesabaran, disiplin, dan pemahaman bisnis.
Buffett, yang telah puluhan tahun memimpin Berkshire Hathaway, pernah mengungkap cara sederhana namun terbukti efektif untuk mengubah modal awal relatif kecil—sekitar USD 10 ribu atau setara Rp 168 juta (kurs USD 1 = Rp 16.840)—menjadi kekayaan besar dalam jangka panjang. Pendekatan ini dinilai masih sangat relevan, bahkan ketika pasar global menghadapi ketidakpastian suku bunga, geopolitik, dan perubahan teknologi yang sangat cepat.
Mengutip laporan finance.yahoo.com, Selasa (13/1/2025), Buffett menegaskan bahwa membangun kekayaan bukanlah soal mencari keuntungan instan, melainkan soal bagaimana investor mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Ia dikenal sebagai pendukung kuat strategi buy and hold, yakni membeli saham perusahaan berkualitas dan menahannya selama bertahun-tahun.
Dalam berbagai kesempatan, termasuk rapat tahunan pemegang saham Berkshire Hathaway, Buffett berulang kali mengingatkan bahwa saham seharusnya dipandang sebagai kepemilikan atas sebuah bisnis nyata, bukan sekadar instrumen spekulasi yang naik-turun setiap hari. Cara pandang inilah yang membedakan investor jangka panjang dengan pelaku pasar yang hanya mengejar momentum.
Menariknya, prinsip-prinsip yang Buffett sampaikan sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an dinilai tetap relevan hingga 2026. Bahkan di era dominasi saham teknologi, AI, dan otomatisasi, Buffett tetap menekankan pentingnya nilai fundamental, arus kas yang kuat, serta manajemen perusahaan yang dapat dipercaya.
Buffett juga menilai investor pemula tidak perlu ikut-ikutan tren atau euforia pasar. Menurutnya, mengejar saham yang sedang populer justru berisiko membuat investor membeli aset dengan harga terlalu mahal. Sebaliknya, fokus pada nilai intrinsik perusahaan dan prospek jangka panjang jauh lebih penting.
Ia bahkan pernah mengatakan bahwa jika harus memulai kembali dari nol dengan modal terbatas, strategi investasinya tidak akan banyak berubah. Buffett akan tetap berinvestasi pada bisnis yang dipahami, memulai sedini mungkin, dan mencari peluang di perusahaan kecil yang sering kali luput dari perhatian investor besar dan institusi.
Berikut tiga strategi utama Warren Buffett yang dinilai masih relevan dan dapat diterapkan oleh investor pemula maupun berpengalaman pada 2026.
1. Pahami Lingkaran Kompetensi
Salah satu prinsip paling terkenal dari Buffett adalah circle of competence atau lingkaran kompetensi. Ia menekankan bahwa investor hanya perlu berinvestasi pada bisnis yang benar-benar dipahami, tanpa harus mengetahui seluruh sektor industri.
Menurut Buffett, memahami bisnis berarti mengetahui bagaimana perusahaan menghasilkan uang, apa keunggulan kompetitifnya, siapa pesaing utamanya, serta risiko yang mungkin dihadapi dalam jangka panjang. Dengan pemahaman ini, investor tidak mudah panik saat pasar mengalami koreksi.
Buffett bahkan mengingatkan bahwa penurunan harga saham hingga 50 persen bukan alasan untuk menjual saham secara tergesa-gesa, selama fundamental bisnis tetap kuat.
“Anda harus siap, ketika membeli saham, untuk kemungkinan saham tersebut turun 50 persen—atau lebih—dan tetap merasa nyaman dengan kepemilikan itu, selama Anda yakin pada kualitas bisnisnya,” kata Buffett.
Prinsip ini semakin relevan di 2026, ketika volatilitas pasar meningkat akibat perubahan kebijakan moneter global dan percepatan inovasi teknologi.
2. Mulai Investasi Sedini Mungkin
Buffett kerap menyebut bunga majemuk sebagai “keajaiban dunia kedelapan”. Ia mengibaratkan proses membangun kekayaan seperti bola salju yang menggelinding dari puncak bukit—semakin dini dimulai, semakin besar bola salju tersebut saat mencapai bawah.
“Kami memulai dengan bola salju kecil di atas bukit yang sangat tinggi,” ujar Buffett.
“Kami mulai sejak usia sangat dini menggulirkan bola salju ke bawah, dan sifat bunga majemuk memang bekerja seperti itu,” tambahnya.
Fakta menunjukkan sebagian besar kekayaan Buffett justru terkumpul setelah usia 65 tahun. Pada 1999, kekayaan bersihnya tercatat sekitar USD 30 miliar atau setara Rp 504,6 triliun. Namun berkat konsistensi investasi dan efek bunga majemuk, kekayaannya kini melonjak hampir lima kali lipat menjadi sekitar USD 150 miliar atau Rp 2.526 triliun, menurut Bloomberg.
Data ini menegaskan bahwa waktu dan konsistensi jauh lebih penting dibandingkan besarnya modal awal.
3. Fokus pada Perusahaan Kecil Berkualitas
Buffett juga pernah menyatakan bahwa jika ia hanya memiliki modal USD 10 ribu, ia akan fokus mencari perusahaan kecil dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan besar. Menurutnya, perusahaan kecil sering kali belum banyak dilirik investor besar sehingga harganya masih relatif murah.
“Saya mungkin akan fokus pada perusahaan-perusahaan kecil karena bekerja dengan modal yang lebih kecil memberi lebih banyak peluang yang terlewatkan oleh pasar,” ujar Buffett.
Sejarah mencatat, beberapa investasi awal Buffett berasal dari bisnis berskala kecil yang kemudian berkembang pesat, seperti See’s Candies dan berbagai perusahaan regional di Amerika Serikat. Strategi ini dinilai masih relevan, terutama bagi investor ritel yang tidak memiliki modal besar.
Kedisiplinan Jadi Kunci
Secara keseluruhan, strategi investasi Warren Buffett menegaskan bahwa membangun kekayaan bukan soal keberuntungan atau menebak arah pasar, melainkan soal disiplin, pemahaman, dan kesabaran. Di tengah tantangan ekonomi global pada 2026, prinsip-prinsip ini tetap menjadi panduan berharga bagi siapa pun yang ingin mengembangkan aset secara berkelanjutan.
Dengan memahami bisnis yang diinvestasikan, memulai sejak dini, serta fokus pada nilai jangka panjang, investor memiliki peluang lebih besar untuk meniru—setidaknya sebagian—kesuksesan sang legenda investasi dunia.
0 Comments