Membongkar Rahasia Kotor: Mana yang Paling Boros Listrik—Bitcoin, Streaming, AI, atau Media Sosial?
Seberapa Besar Konsumsi Energi Bitcoin Dibandingkan Data Center dan AI?
Pada 2025, penambangan Bitcoin mengonsumsi sekitar 171 terawatt-hour (TWh) listrik. Angka ini memang besar, tetapi hanya mewakili sekitar 16% dari total konsumsi energi seluruh data center di dunia.
Sebagai perbandingan, seluruh data center tradisional—termasuk cloud computing, media sosial, layanan streaming, dan sistem perusahaan—mengonsumsi antara 448 hingga 1.050 TWh pada 2025. Kebutuhan energi ini diperkirakan akan terus meningkat, terutama karena pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Data Center dan AI Mengonsumsi Energi Jauh Lebih Besar dari Bitcoin
Data center yang berfokus pada AI diperkirakan telah mengonsumsi 82 hingga 536 TWh listrik pada 2025. Rentang angka yang lebar ini terjadi karena kecepatan adopsi AI dan sulitnya melacak penggunaan energi secara akurat.
Beberapa proyeksi menyebutkan total konsumsi listrik data center global bisa menembus 1.000 TWh mulai 2026.
Menurut Gartner:
- Server khusus AI menyumbang 21% konsumsi listrik data center pada 2025
- Angkanya bisa naik menjadi 44% pada 2030
Artinya, AI, layanan streaming, dan media sosial saat ini menggunakan energi lebih besar dibandingkan Bitcoin, serta tumbuh jauh lebih cepat.
Bitcoin Menggunakan Energi yang Lebih Bersih
Penambangan Bitcoin memiliki bauran energi yang lebih ramah lingkungan dibandingkan rata-rata data center. Sekitar 52% energi Bitcoin berasal dari sumber berkelanjutan, seperti energi terbarukan dan nuklir. Sementara itu, rata-rata industri data center global berada di kisaran 42%.
Komposisi energi Bitcoin meliputi:
- Pembangkit listrik tenaga air (hidro): ±23%
- Angin: ±14%
- Surya: ±5%
- Nuklir: ±10%
Penggunaan batu bara terus menurun dan digantikan oleh gas alam sebagai bahan bakar fosil utama. Secara keseluruhan, bauran energi Bitcoin lebih bersih dibandingkan rata-rata jaringan listrik global.
Perbedaan Utama Bitcoin dengan Layanan Digital Lain
Keunggulan utama penambangan Bitcoin adalah fleksibilitasnya. Aktivitas mining dapat dihentikan dalam hitungan detik.
Hal ini memungkinkan penambang Bitcoin untuk:
- Mengurangi konsumsi listrik saat beban puncak
- Membantu menstabilkan jaringan listrik
- Menyerap energi terbarukan yang berpotensi terbuang
Di beberapa wilayah seperti Texas, penambang Bitcoin bahkan dimanfaatkan sebagai beban listrik fleksibel untuk mencegah pemadaman dan mengurangi kebutuhan pembangkit listrik cadangan.
Sebaliknya, AI, cloud, dan layanan streaming harus beroperasi 24 jam nonstop, sehingga hampir tidak memiliki fleksibilitas dalam penggunaan listrik.
Efisiensi Meningkat, tapi Konsumsi Total Tetap Naik
Baik di sektor Bitcoin, AI, maupun streaming, efisiensi teknologi terus meningkat. Perangkat keras terbaru membutuhkan energi jauh lebih sedikit dibanding generasi lama.
Namun, efisiensi yang lebih tinggi justru mendorong penggunaan yang lebih luas, sehingga total konsumsi listrik tetap meningkat.
Contohnya:
- AI menjadi jauh lebih efisien, tetapi total konsumsi energinya diproyeksikan melonjak tajam
- Streaming semakin hemat energi, namun jam tontonan global terus bertambah
- Bitcoin juga mengikuti pola yang sama
Posisi Bitcoin dalam Gambaran Besar Energi Global
Konsumsi listrik Bitcoin setara dengan sekitar 0,6% dari total listrik global, sebanding dengan konsumsi listrik tahunan negara berukuran menengah.
Sementara itu, seluruh sektor data center diperkirakan akan menyerap 3–4% listrik dunia dalam beberapa tahun ke depan, dengan AI sebagai pendorong utama.
Kripto lain menunjukkan bahwa teknologi blockchain tidak selalu boros energi. Ethereum, misalnya, berhasil menurunkan konsumsi energinya lebih dari 99% setelah beralih ke mekanisme proof-of-stake. Bitcoin tetap menggunakan proof-of-work karena dianggap memberikan tingkat keamanan jaringan yang lebih tinggi.
Mengapa Bitcoin Sering Jadi Sasaran Kritik?
Bitcoin sering mendapat sorotan negatif tidak sebanding dengan porsi energi yang digunakannya, jika dibandingkan dengan AI, media sosial, dan layanan streaming yang konsumsi listriknya jauh lebih besar dan terus meningkat.
Bitcoin memang bukan tanpa dampak lingkungan. Sistem proof-of-work secara sadar menggunakan energi untuk menjaga keamanan dan keandalan jaringan, dan pilihan ini layak dikritisi.
Namun, kritik seharusnya proporsional dengan fakta.
Berdasarkan data, Bitcoin bukan penyebab utama lonjakan konsumsi energi digital global. Lonjakan terbesar justru datang dari ekspansi data center—khususnya AI—dan diskusi soal energi seharusnya melihat gambaran secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada Bitcoin.
0 Comments