CEO Anthropic Memperingatkan Bahwa AI Berpotensi Menghilangkan Hingga 50% Pekerjaan Pemula

CEO Anthropic Memperingatkan Bahwa AI Berpotensi Menghilangkan Hingga 50% Pekerjaan Pemula

Revolusi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini bergerak jauh melampaui sekadar wacana futuristik. Teknologi ini mulai menunjukkan dampak nyata terhadap struktur pasar kerja global, terutama di sektor kerah putih. Peringatan terbaru datang dari CEO Anthropic, Dario Amodei, yang menilai perkembangan AI berpotensi memicu gelombang besar pemangkasan pekerjaan, khususnya bagi tenaga kerja tingkat pemula.

Dalam wawancara di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 di Davos, Swiss, Amodei menyampaikan kekhawatirannya bahwa hingga 50 persen pekerjaan entry-level di sektor profesional dapat tergerus dalam beberapa tahun ke depan. Pekerjaan yang selama ini menjadi pintu masuk karier, seperti analis junior, staf administrasi, hingga programmer pemula, dinilai paling rentan terdampak otomatisasi berbasis AI.

Amodei mencontohkan kemampuan Claude, model AI yang dikembangkan Anthropic, yang kini mampu melakukan pengkodean kompleks, menulis dokumentasi teknis, hingga memperbaiki bug secara mandiri. Kemampuan tersebut, menurutnya, berpotensi mengurangi kebutuhan akan insinyur perangkat lunak junior secara signifikan.

“Kita sedang memasuki dunia di mana tugas-tugas insinyur perangkat lunak tingkat junior, bahkan sebagian pekerjaan level senior, mulai diambil alih oleh sistem AI. Dan tren ini tidak akan berhenti di sini, melainkan akan berkembang semakin luas,” ujar Amodei, dikutip dari Straits Times, Sabtu (24/1/2026).

Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan teknologi saat ini semakin terdorong untuk mengadopsi AI demi efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas. Dalam jangka pendek, langkah tersebut dinilai menguntungkan dunia usaha, tetapi berisiko menciptakan tekanan sosial berupa lonjakan pengangguran dan kesenjangan keterampilan.

Meski demikian, Amodei tetap menegaskan bahwa AI membawa manfaat besar dalam jangka panjang, termasuk percepatan inovasi dan penciptaan jenis pekerjaan baru. Namun, ia mengakui tidak semua pekerja mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan tersebut.

“Sayangnya, akan ada banyak orang di berbagai industri yang akan kesulitan untuk menyesuaikan diri. Tanpa kebijakan transisi yang tepat, dampaknya bisa sangat menyakitkan,” katanya.

Sejumlah lembaga internasional sebelumnya juga telah mengeluarkan peringatan serupa. Laporan terbaru dari berbagai konsultan global menyebutkan bahwa otomatisasi berbasis AI diperkirakan akan mengubah struktur pekerjaan di sektor keuangan, hukum, media, dan teknologi informasi dalam satu dekade ke depan. Negara-negara berkembang, termasuk di Asia, berisiko menghadapi tantangan lebih besar akibat kesenjangan pendidikan dan keterampilan digital.

Ketegangan Geopolitik dan Persaingan Teknologi

Di luar isu ketenagakerjaan, perkembangan AI juga memperuncing rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan China. Industri semikonduktor menjadi medan utama persaingan kedua negara, mengingat chip canggih merupakan tulang punggung pengembangan AI modern.

CEO Nvidia, Jensen Huang, dijadwalkan melakukan kunjungan ke China pada akhir Januari 2026. Langkah ini dipandang sebagai upaya diplomasi bisnis untuk menjaga akses Nvidia ke salah satu pasar teknologi terbesar di dunia, setelah sebelumnya terdampak pembatasan ekspor chip canggih oleh pemerintah AS.

Namun, rencana tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak, termasuk Dario Amodei. Ia melontarkan perumpamaan keras dengan menyebut pengiriman teknologi AI mutakhir ke China setara dengan menjual senjata nuklir ke Korea Utara, mengingat potensi pemanfaatannya untuk kepentingan militer dan keamanan nasional.

Saat ini, Nvidia masih dilarang mengekspor chip AI dengan spesifikasi tertinggi ke China. Meski demikian, seiring adanya pelonggaran terbatas aturan ekspor dari pemerintah AS, Beijing diperkirakan akan memberikan izin impor chip Nvidia H200 generasi sebelumnya untuk penggunaan komersial pada kuartal pertama 2026.

Permintaan Komersial China Tetap Tinggi

Terlepas dari pembatasan tersebut, permintaan pasar komersial di China terhadap chip AI tetap melonjak tajam. Perusahaan teknologi raksasa seperti Alibaba Group dan ByteDance dilaporkan tengah bersiap memborong chip Nvidia H200 dalam jumlah besar.

Berdasarkan laporan Bloomberg News, kedua perusahaan tersebut disebut telah menyatakan minat pribadi untuk memesan lebih dari 200.000 unit chip H200. Chip ini direncanakan untuk mendukung pengembangan pusat data, layanan cloud, serta model AI generatif untuk kebutuhan bisnis dan konsumen.

Meski diizinkan untuk penggunaan komersial, chip tersebut tetap dilarang keras untuk keperluan militer, infrastruktur kritis, dan lembaga pemerintah China. Pembatasan ini mencerminkan upaya AS menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi global dan risiko keamanan nasional.

Bagi Nvidia, langkah membuka kembali akses pasar China menjadi momen krusial bagi kelangsungan pertumbuhan bisnisnya di Asia. Sementara itu, bagi komunitas global, situasi ini menjadi gambaran nyata tantangan besar era AI: bagaimana menyeimbangkan inovasi teknologi, stabilitas ekonomi, perlindungan tenaga kerja, dan keamanan geopolitik dalam satu tarikan napas.