Arthur Hayes Peringatkan IPO AI SpaceX, Anthropic, dan OpenAI Bisa Tekan Bitcoin
Co-founder BitMEX Arthur Hayes memperingatkan bahwa gelombang penjualan saham setelah penawaran umum perdana (IPO) perusahaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi mengguncang pasar saham dan mengurangi likuiditas dolar AS. Kondisi tersebut juga dinilai dapat memberikan tekanan terhadap harga Bitcoin dalam jangka pendek.
Dalam esai terbarunya berjudul D is for Dilution, Hayes membahas potensi peningkatan pasokan saham yang dapat diperdagangkan setelah perusahaan besar seperti SpaceX, Anthropic, dan OpenAI melantai di bursa.
Menurut Hayes, pasar berpotensi kesulitan menyerap tambahan pasokan saham tersebut. Terlebih, perusahaan-perusahaan AI masih membutuhkan pendanaan besar untuk membangun pusat data, infrastruktur komputasi, dan mengembangkan teknologi kecerdasan buatan.
Hayes menilai penurunan harga saham teknologi dapat meningkatkan biaya pinjaman perusahaan. Situasi ini juga berpotensi memberikan tekanan kepada bank yang selama ini membiayai ekspansi industri AI.
Melihat risiko tersebut, perusahaan investasi miliknya, Maelstrom, memilih menahan diri dan menunggu kondisi pasar membaik sebelum meningkatkan eksposur investasinya.
Arthur Hayes Perkirakan Risiko Dilusi Saham Anthropic Capai 83%
Anthropic menjadi salah satu perusahaan yang mendapat perhatian khusus dalam analisis Arthur Hayes. Perusahaan pengembang AI tersebut membutuhkan pendanaan besar untuk mengembangkan model kecerdasan buatan dan memperluas infrastruktur teknologinya.
Berdasarkan dokumen pendaftaran perusahaan yang diperbarui, Hayes memperkirakan investor publik awal Anthropic berpotensi menghadapi risiko dilusi hingga 83% pada Juni 2027.
Perkiraan tersebut berkaitan dengan potensi bertambahnya jumlah saham yang dapat diperdagangkan setelah masa pembatasan penjualan saham milik karyawan dan investor lama berakhir.
Dalam dokumen yang diajukan pada 2 November, Anthropic mencantumkan sejumlah jadwal pelepasan saham. Beberapa pembatasan berlaku selama 180 hari, sedangkan pembatasan lainnya dapat berlangsung hingga 365 hari setelah penawaran saham.
Hayes menilai penjualan saham oleh pemegang saham lama berpotensi menekan harga saham dan merugikan investor baru, meskipun perusahaan masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan.
Dengan asumsi valuasi awal Anthropic mencapai US$1,5 triliun, Hayes memperkirakan pasar membutuhkan pembelian tambahan sekitar US$1,245 triliun untuk menyerap potensi pasokan saham tanpa menyebabkan penurunan harga.
Angka tersebut merupakan simulasi dan perkiraan Hayes, bukan kebutuhan pendanaan yang diumumkan secara resmi oleh Anthropic.
Sementara itu, dokumen perusahaan secara terpisah mencatat komitmen infrastruktur AI sekitar US$895,4 miliar. Angka ini menunjukkan besarnya kebutuhan belanja perusahaan untuk mendukung pengembangan teknologi AI.
SpaceX dan OpenAI Juga Menghadapi Risiko Tekanan Saham
Selain Anthropic, Hayes menyoroti potensi peningkatan pasokan saham SpaceX dan OpenAI.
Untuk SpaceX, Hayes memperkirakan sekitar 8,6 miliar saham tambahan berpotensi memenuhi syarat untuk diperdagangkan hingga Juni 2027. Jumlah tersebut setara dengan sekitar setengah dari jumlah saham yang telah beredar saat ini.
Menurutnya, tambahan pasokan tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga saham apabila perusahaan tidak mampu menghasilkan arus kas yang cukup untuk mendukung pengembalian kepada pemegang saham.
Hayes juga mengangkat kemungkinan dilusi lebih lanjut apabila terjadi merger antara SpaceX dan Tesla. Namun, kemungkinan tersebut masih bersifat spekulatif karena belum ada transaksi merger yang diselesaikan.
Sementara itu, rencana IPO OpenAI memiliki jadwal yang lebih tidak pasti. Hingga saat ini, perusahaan tersebut belum mengajukan dokumen pendaftaran IPO secara terbuka.
Hayes memperkirakan OpenAI dapat menawarkan sekitar 5% sahamnya kepada publik pada tahap awal. Setelah itu, karyawan dan investor awal berpotensi memperoleh kesempatan untuk menjual kepemilikan saham mereka.
Proyeksi tersebut menggunakan asumsi IPO pada Januari dengan valuasi mendekati US$1,5 triliun. Namun, jadwal dan valuasi tersebut bukan rencana penawaran saham yang telah diumumkan secara resmi oleh OpenAI.
Hayes menilai IPO dapat memberikan akses pendanaan yang lebih luas bagi perusahaan AI, termasuk melalui pasar obligasi korporasi. Pendanaan tersebut diperlukan untuk membiayai kebutuhan komputasi dan pembangunan infrastruktur teknologi.
Biaya Pinjaman AI Bisa Mengurangi Likuiditas Dolar AS
Kekhawatiran utama Arthur Hayes bukan hanya berkaitan dengan penurunan harga saham perusahaan AI, tetapi juga dampaknya terhadap sistem keuangan.
Hayes memperingatkan bahwa penurunan saham teknologi dapat membuat investor lebih berhati-hati dalam membeli obligasi perusahaan. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil atau yield obligasi karena investor meminta kompensasi lebih tinggi atas risiko yang meningkat.
Jika biaya pinjaman semakin mahal, perusahaan AI akan menghadapi beban pendanaan yang lebih besar untuk membangun pusat data dan mengembangkan infrastruktur komputasi.
Situasi tersebut dapat memaksa perusahaan meninjau kembali rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) mereka.
Di sisi lain, bank memiliki keterlibatan dalam pembiayaan bisnis AI, pemberian pinjaman, hingga kepemilikan instrumen keuangan yang berkaitan dengan sektor teknologi.
Hayes menilai penurunan kepercayaan terhadap investasi AI dapat memperlambat aktivitas tersebut dan membatasi penyaluran kredit baru ke perekonomian.
Ia juga menyinggung penurunan mingguan terbaru pada neraca bank komersial Amerika Serikat. Meski demikian, satu data mingguan belum cukup untuk membuktikan adanya tren penurunan likuiditas yang berkelanjutan.
Dalam skenario yang dipaparkan Hayes, perlambatan penyaluran kredit perbankan dapat mengurangi ketersediaan likuiditas dolar AS. Kondisi ini berpotensi menciptakan tekanan di pasar keuangan, termasuk pasar Bitcoin dan aset kripto lainnya.
Prospek Bitcoin Bergantung pada Respons Bank Sentral
Meskipun memperingatkan risiko tekanan pasar dalam jangka pendek, Arthur Hayes tetap optimistis terhadap prospek Bitcoin dalam jangka panjang.
Ia memperkirakan pemerintah dan otoritas moneter dapat turun tangan apabila masalah pembiayaan infrastruktur AI berkembang menjadi krisis keuangan yang lebih serius.
Intervensi tersebut berpotensi dilakukan melalui pelonggaran kebijakan moneter atau langkah lain yang meningkatkan jumlah uang beredar di pasar keuangan.
Menurut Hayes, tambahan likuiditas dapat menjadi faktor pendukung bagi Bitcoin. Hal ini karena aset kripto terbesar tersebut berpotensi mendapatkan keuntungan ketika kondisi likuiditas global membaik.
Namun, waktu dan bentuk intervensi bank sentral masih belum dapat dipastikan. Belum ada kepastian bahwa otoritas moneter akan melakukan penyelamatan keuangan seperti yang diperkirakan Hayes.
Dalam analisis sebelumnya, Hayes juga menghubungkan risiko kredit industri AI dengan proyeksi harga Bitcoin yang dapat mencapai US$1 juta pada 2030.
Untuk saat ini, Maelstrom memilih menunggu tanda-tanda perbaikan likuiditas sebelum kembali meningkatkan investasi di pasar.
Selain Bitcoin, Hayes turut menyebut FLOP Network dan Genlayer sebagai proyek yang berpotensi memperoleh keuntungan dari penurunan biaya komputasi. Ia juga mengungkapkan bahwa Maelstrom bertindak sebagai penasihat bagi Genlayer, yang tengah mempersiapkan peluncuran token generation event (TGE).
Peringatan Hayes menunjukkan bahwa perkembangan industri AI tidak hanya berdampak pada sektor teknologi, tetapi juga berpotensi memengaruhi pasar saham, perbankan, likuiditas dolar AS, hingga pergerakan Bitcoin. Meski demikian, seluruh skenario tersebut masih berupa analisis dan proyeksi, bukan kepastian bahwa tekanan pasar akan terjadi.
0 Comments