Pendiri CoinEx Kritik Keamanan Binance Usai Peretasan Kripto Rp100 Triliun
Pendiri CoinEx, Haipo Yang, melontarkan kritik terhadap sistem keamanan Binance setelah bursa kripto tersebut mengalami pencurian aset digital senilai US$6,3 miliar pada 29 Oktober. Ia menilai insiden tersebut terjadi akibat lemahnya penerapan prosedur keamanan internal, bukan karena kurangnya teknologi perlindungan siber.
Dalam unggahannya di platform X, Yang mengidentifikasi tiga kelemahan utama yang menurutnya seharusnya dapat dicegah, yakni pengelolaan akses sistem produksi, autentikasi karyawan, dan mekanisme penandatanganan transaksi.
Menurut Yang, ketiga aspek tersebut merupakan prinsip dasar keamanan yang seharusnya diterapkan oleh perusahaan pengelola aset digital berskala besar.
“Tidak satu pun dari hal ini membutuhkan teknologi canggih. Yang tidak ada adalah disiplin,” tulis Yang.
Kritik tersebut muncul setelah Binance merilis laporan awal mengenai insiden peretasan. Dalam laporan itu, perusahaan menjelaskan bahwa pelaku berhasil mengakses perangkat karyawan dan sistem internal yang berkaitan dengan proses penarikan aset kripto.
Tiga Kelemahan Keamanan Binance Menurut Pendiri CoinEx
Kritik pertama Haipo Yang berkaitan dengan pemisahan lingkungan pengembangan dan sistem produksi.
Ia menilai karyawan yang memiliki akses ke sistem keuangan aktif seharusnya menggunakan komputer khusus tanpa perangkat lunak atau aplikasi lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaan tersebut.
Aktivitas seperti pengembangan perangkat lunak, komunikasi, dan penjelajahan internet sebaiknya dilakukan melalui perangkat terpisah. Langkah ini dinilai dapat mengurangi risiko ketika salah satu perangkat karyawan berhasil diretas.
Kritik kedua menyasar sistem autentikasi. Yang menilai satu kredensial yang dicuri seharusnya tidak cukup untuk memberikan akses ke layanan produksi yang sensitif.
Ia merekomendasikan penggunaan kunci keamanan perangkat keras atau hardware security key serta perangkat seperti AWS Session Manager untuk memperkuat proses verifikasi akses.
Sementara itu, kritik ketiga berkaitan dengan teknologi Multi-Party Computation (MPC), yaitu mekanisme yang membagi tanggung jawab penandatanganan transaksi kepada beberapa pihak.
Menurut Yang, pihak-pihak yang terlibat dalam proses penandatanganan transaksi Binance seharusnya melakukan pemeriksaan secara independen.
Ia menilai sistem tersebut berisiko apabila satu pihak yang berhasil dikompromikan dapat memengaruhi keseluruhan proses persetujuan transaksi.
“Multisig hanya berfungsi ketika para penandatangan saling tidak mempercayai satu sama lain,” tulis Yang.
Meski demikian, kritik tersebut merupakan penilaian Yang terhadap insiden peretasan. Binance belum mengonfirmasi seluruh dugaan kelemahan sistem internal yang disampaikannya.
Laporan Binance Ungkap Modus Wawancara Kerja Palsu
Dalam laporan insiden yang diterbitkan pada 3 November, Binance mengungkap bahwa serangan siber tersebut telah direncanakan selama beberapa bulan.
Pada Juni, seorang teknisi yang menangani operasional dompet kripto mengunduh installer Homebrew yang telah dimodifikasi ketika mencoba memasang perangkat AI untuk membantu pekerjaan pemrograman.
Tim keamanan Binance mendeteksi aktivitas mencurigakan tersebut. Perusahaan kemudian mengganti komputer yang terdampak dan memperbarui kredensial terkait.
Namun, insiden itu diduga telah memberikan informasi kepada penyerang mengenai karyawan yang bekerja pada infrastruktur dompet kripto Binance.
Pada September, pelaku kembali menargetkan teknisi lain melalui proses rekrutmen palsu. Karyawan tersebut akhirnya berhasil dibujuk untuk mengunduh perangkat lunak berbahaya.
Pada 20 Oktober, penyerang memanfaatkan perangkat yang telah dikompromikan serta alat AI internal untuk memperoleh akses ke sistem teknik lainnya.
Sembilan hari kemudian, kredensial yang dicuri digunakan untuk memasukkan kode berbahaya yang berkaitan dengan penarikan aset kripto tanpa izin.
Sebelumnya, penyelidik mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok peretas TraderTraitor yang diduga memiliki hubungan dengan Korea Utara.
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) kemudian mengaitkan pencurian tersebut dengan pelaku siber yang didukung negara Korea Utara. Namun, Korea Utara membantah tuduhan tersebut.
Binance menjelaskan bahwa serangan dilakukan melalui kombinasi rekayasa sosial, malware, dan penyalahgunaan akses sistem internal.
Binance Klaim Sudah Memulihkan 98 Persen Aset Terdampak
Di tengah kritik terhadap sistem keamanannya, Co-CEO Binance Richard Teng menyampaikan perkembangan pemulihan aset yang terdampak peretasan.
Dalam pernyataan pada 3 November, Teng mengatakan Binance telah memulihkan atau mengganti 98 persen aset kripto yang terdampak insiden tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya verifikasi sebagai bukti transparansi perusahaan kepada pengguna.
Binance sebelumnya telah menyelesaikan verifikasi Proof of Reserves (PoR) untuk 10 aset kripto utama, termasuk Bitcoin, Ethereum, BNB, dan XRP.
Melalui mekanisme tersebut, pengguna dapat memeriksa apakah saldo aset mereka didukung oleh cadangan yang memadai.
Namun, verifikasi Proof of Reserves hanya menunjukkan dukungan cadangan untuk aset yang tercakup. Mekanisme ini tidak secara langsung membuktikan bahwa seluruh celah keamanan internal yang disoroti Yang telah diperbaiki.
Binance juga menyatakan sekitar US$2,85 miliar aset terdampak telah dibekukan atau berhasil dicegat selama proses pemulihan.
Perusahaan berkomitmen menanggung seluruh kerugian finansial menggunakan sumber daya perusahaan dan dana cadangan.
Teng menambahkan, Binance masih melanjutkan pemulihan aset yang tersisa, termasuk sejumlah mata uang kripto dengan likuiditas lebih rendah yang membutuhkan pembelian tambahan.
Binance Klaim Berhasil Menggagalkan 57 Ancaman Siber Terkait Korea Utara
Co-CEO Binance lainnya, Yi He, turut memberikan penjelasan mengenai upaya keamanan perusahaan melalui unggahan pada 3 November.
Ia mengungkapkan bahwa tim keamanan Binance telah mendeteksi dan menggagalkan 57 dugaan ancaman siber yang berkaitan dengan Korea Utara sepanjang 2026.
Upaya serangan tersebut menggunakan berbagai metode, mulai dari wawancara kerja palsu, perangkat pengembangan berbahaya, paket perangkat lunak yang telah disusupi, hingga aplikasi konferensi video palsu.
Penyerang juga memanfaatkan ekstensi browser dan teknik rekayasa sosial untuk mencuri kredensial maupun memasang malware yang memungkinkan akses jarak jauh ke perangkat korban.
“Kami berhasil mencegat banyak di antaranya, tetapi biaya dari kegagalan menghentikan satu saja sangat besar,” tulis Yi He.
Binance menyatakan telah membangun ulang sistem dompet yang terdampak, mengganti perangkat yang dikompromikan, serta menonaktifkan kredensial yang berkaitan dengan serangan.
Perusahaan juga memperkuat pengamanan dompet kripto dan memperluas pemantauan otomatis terhadap aktivitas mencurigakan pada perangkat karyawan maupun sistem internal.
Selain itu, Binance berencana melakukan audit keamanan siber secara independen serta meningkatkan investasi pada perlindungan perangkat, keamanan pengembangan perangkat lunak, dan deteksi ancaman.
Perusahaan menyebut sebagian langkah pengamanan tidak akan dipublikasikan secara terperinci untuk mencegah penyerang mengetahui titik pertahanan yang digunakan.
Insiden ini kembali menyoroti pentingnya disiplin operasional dan pengawasan akses internal dalam industri kripto. Selain mengandalkan teknologi keamanan canggih, bursa aset digital juga perlu memastikan setiap proses autentikasi, pengelolaan perangkat, dan persetujuan transaksi berjalan dengan pengawasan berlapis.
0 Comments