Ekonomi Indonesia Kuartal III 2026 Diprediksi Tumbuh Melambat, Ekspor Jadi Penopang Utama

Ekonomi Indonesia Kuartal III 2026 Diprediksi Tumbuh Melambat, Ekspor Jadi Penopang Utama

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 diperkirakan masih berada dalam kondisi kuat, meskipun mengalami sedikit perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Sejumlah ekonom menilai ekspor dan aktivitas manufaktur menjadi penopang utama ekonomi, sementara konsumsi rumah tangga mulai menunjukkan pelemahan.

Ekonom Institute for Economic and Social Research Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III 2026 tumbuh sebesar 5,28% secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Proyeksi tersebut berada dalam kisaran 5,25% hingga 5,30%, hampir sama dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 yang mencapai 5,29%.

Namun, LPEM FEB UI menilai pertumbuhan ekonomi yang tercatat secara resmi belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang dirasakan masyarakat.

Dalam kajian Indonesia Economic Outlook 2027, lembaga tersebut memperkenalkan konsep felt growth atau pertumbuhan yang dirasakan masyarakat. Berdasarkan perhitungan LPEM FEB UI, pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masyarakat pada kuartal III 2026 diperkirakan hanya mencapai 4,74%.

“Manfaat dari pertumbuhan PDB mungkin tidak dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Indonesia,” tulis Teuku dalam kajian tersebut, dikutip Rabu (4/11/2026).

LPEM FEB UI juga memproyeksikan pertumbuhan PDB resmi sepanjang 2026 mencapai 5,39%, sedangkan felt growth diperkirakan sebesar 4,77%. Untuk 2027, pertumbuhan ekonomi resmi diprediksi berada di level 5,25%, sementara pertumbuhan yang dirasakan masyarakat diperkirakan mencapai 4,90%.

Keyakinan Konsumen Mulai Melemah

Perlambatan ekonomi juga tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Rata-rata indeks pada kuartal III 2026 tercatat sebesar 117,8, lebih rendah dibandingkan kuartal II yang mencapai 120,6.

Meski masih berada di zona optimistis, penurunan tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Tekanan paling besar terlihat pada rumah tangga dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Indeks keyakinan konsumen kelompok ini turun 4,7 poin menjadi 107,4.

Sementara itu, kelompok rumah tangga dengan pengeluaran Rp4,1 juta hingga Rp5 juta per bulan relatif tidak mengalami perubahan.

Kenaikan harga kebutuhan pokok turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya beli masyarakat. Inflasi pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%, sedangkan inflasi harga bergejolak atau volatile food mencapai 5,03%.

LPEM FEB UI menilai kenaikan harga pangan memberikan tekanan lebih besar kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Hal ini disebabkan porsi pengeluaran mereka untuk kebutuhan pangan relatif lebih besar dibandingkan kelompok berpenghasilan tinggi.

Selain itu, pola pengelolaan keuangan rumah tangga juga menunjukkan perubahan. Pertumbuhan simpanan berjangka meningkat menjadi 13,11% dari sebelumnya 10,51%. Namun, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan justru turun menjadi 16% dari 17,6%.

Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat dan pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan ekonomi.

Meski demikian, optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan masih terjaga. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Konsumen yang meningkat menjadi 128,7 pada September 2026.

Ekonom BCA Prediksi Ekonomi Tumbuh 5,15%-5,20%

Pandangan serupa disampaikan ekonom BCA David Sumual. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 sedikit melambat menjadi 5,15% hingga 5,20%.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 sebesar 5,29%.

Meski demikian, David memperkirakan ekonomi Indonesia masih berpeluang mencapai pertumbuhan sekitar 5,3% hingga akhir 2026.

Menurutnya, ekspor dan aktivitas manufaktur menjadi dua sektor yang berperan penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi selama kuartal III.

“Ekspor dan aktivitas manufaktur menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal III,” ujar David.

Kinerja perdagangan Indonesia turut mendukung proyeksi tersebut. Ekspor pada Agustus 2026 tercatat tumbuh 6,72%, didorong kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan, seperti minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), batu bara, emas, serta besi dan baja.

Kenaikan harga komoditas tersebut memberikan dukungan terhadap penerimaan ekspor dan aktivitas sektor industri pengolahan.

Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah Melambat

Di tengah kuatnya kinerja ekspor, konsumsi justru menjadi salah satu faktor yang menahan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

David Sumual mengatakan perlambatan terjadi pada konsumsi rumah tangga maupun belanja pemerintah dibandingkan kuartal sebelumnya.

“Konsumsi, baik di sektor rumah tangga maupun pemerintah, tampak melambat dibanding kuartal sebelumnya,” katanya.

Penurunan tersebut terlihat dari sejumlah indikator, termasuk penjualan ritel dan indeks belanja masyarakat.

Menurut David, pelemahan daya beli juga dipengaruhi oleh peningkatan inflasi dan depresiasi nilai tukar rupiah.

“Penjualan ritel dan indeks belanja masyarakat turun. Daya beli juga menurun karena peningkatan inflasi dan pelemahan kurs,” ujar David.

Tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian tersendiri. Hingga September 2026, nilai tukar rupiah tercatat melemah 6,48% sejak awal tahun.

Pelemahan mata uang domestik berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk barang dan bahan baku yang dibutuhkan industri. Kondisi tersebut juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga barang di dalam negeri.

Harga Minyak dan Geopolitik Jadi Penentu Pertumbuhan Berikutnya

Untuk periode selanjutnya, David menilai faktor eksternal masih akan memengaruhi arah pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Konflik geopolitik dan dampaknya terhadap harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

“Booster-nya masih isu eksternal terkait konflik geopolitik dan pengaruhnya terhadap harga minyak,” ujar David.

Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia akan lebih menguntungkan apabila harga minyak dunia mengalami penurunan, sementara harga komoditas ekspor tetap berada pada level tinggi.

Situasi tersebut dapat memberikan keuntungan ganda bagi Indonesia. Di satu sisi, penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan biaya energi dan impor. Di sisi lain, harga komoditas ekspor yang tetap tinggi dapat menjaga kinerja perdagangan nasional.

Dengan demikian, prospek ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 masih ditopang oleh ekspor dan manufaktur. Namun, pelemahan konsumsi, tekanan inflasi, serta depresiasi rupiah menjadi sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.