Bank of Korea Ungkap Dampak Stablecoin Dolar terhadap Mata Uang Lokal
Stablecoin yang nilainya mengikuti dolar Amerika Serikat (AS) semakin banyak digunakan dalam transaksi aset kripto. Namun, meningkatnya permintaan terhadap stablecoin berbasis dolar ternyata dapat memberikan dampak terhadap nilai tukar mata uang lokal.
Temuan tersebut disebut dalam studi Bank of Korea. Berdasarkan materi studi yang ditampilkan, pembelian stablecoin dolar menggunakan mata uang lokal dapat menciptakan tekanan terhadap mata uang negara tersebut melalui mekanisme pasar valuta asing.
Cara Stablecoin Dolar Memengaruhi Mata Uang Lokal
Mekanismenya berawal ketika seseorang membeli stablecoin yang nilainya mengikuti dolar AS menggunakan mata uang domestik.
Sebagai contoh, seseorang di Brasil membeli stablecoin dolar menggunakan real Brasil. Market maker yang menyediakan stablecoin tersebut kemudian perlu menyeimbangkan posisi asetnya.
Dalam proses tersebut, mata uang lokal dapat dijual dan dolar AS dibeli di pasar valuta asing.
Dengan demikian, transaksi yang awalnya terlihat seperti pembelian aset kripto dapat berujung pada transaksi di pasar valuta asing dan berpotensi memengaruhi nilai tukar.
Permintaan Stablecoin Bisa Mendorong Penguatan Dolar
Studi yang dikaitkan dengan Bank of Korea tersebut menunjukkan adanya hubungan antara meningkatnya permintaan terhadap stablecoin dolar dan pelemahan mata uang lokal.
Sederhananya, ketika semakin banyak investor menukar mata uang lokal untuk mendapatkan aset digital yang berdenominasi dolar, permintaan terhadap dolar ikut meningkat.
Pada saat yang sama, mata uang lokal digunakan untuk membeli dolar tersebut. Kondisi ini dapat menciptakan tekanan terhadap mata uang domestik.
Artinya, stablecoin dolar tidak hanya berfungsi sebagai instrumen dalam ekosistem kripto, tetapi juga dapat memiliki keterkaitan dengan pasar valuta asing.
Contoh Dampaknya di Brasil
Salah satu contoh yang ditampilkan dalam materi studi adalah Brasil.
Disebutkan bahwa ketika pencarian Google untuk Bitcoin meningkat, yang digunakan sebagai salah satu indikator permintaan terhadap kripto, kondisi tersebut berkaitan dengan penurunan nilai real Brasil sebesar 0,118%.
Angka tersebut memang relatif kecil. Namun, temuan tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa aktivitas terkait aset kripto dapat memiliki hubungan yang terukur dengan pergerakan mata uang di pasar tradisional.
Mengapa Temuan Ini Penting?
Perkembangan stablecoin membuat batas antara pasar kripto dan sistem keuangan tradisional semakin tipis.
Stablecoin berbasis dolar memungkinkan masyarakat di berbagai negara mengakses aset digital yang nilainya mengikuti mata uang AS tanpa harus selalu menggunakan sistem perbankan tradisional untuk menyimpan atau mentransfer dolar.
Jika penggunaan stablecoin dolar terus meningkat, dampaknya terhadap arus permintaan dolar dan mata uang lokal menjadi perhatian bagi bank sentral.
Fenomena tersebut juga memperkuat posisi dolar AS dalam ekonomi digital. Semakin banyak masyarakat menggunakan aset digital yang berbasis dolar, semakin besar pula peran dolar dalam aktivitas keuangan lintas negara.
Stablecoin dan Tantangan bagi Bank Sentral
Bagi bank sentral, perkembangan ini menjadi tantangan baru karena pergerakan nilai tukar tidak hanya dipengaruhi oleh perdagangan barang, investasi, suku bunga, dan kebijakan moneter.
Aktivitas di pasar aset kripto juga berpotensi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Meski demikian, hubungan antara permintaan stablecoin, aktivitas kripto, dan pelemahan mata uang lokal tidak berarti setiap pembelian stablecoin secara otomatis menyebabkan nilai mata uang suatu negara turun. Besarnya dampak dapat dipengaruhi oleh kondisi pasar, volume transaksi, likuiditas, serta faktor ekonomi lainnya.
Perkembangan stablecoin karena itu menjadi semakin relevan untuk diperhatikan, terutama ketika penggunaan stablecoin berbasis dolar terus berkembang di berbagai negara.
0 Comments