Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Konflik AS-Iran Picu Kekhawatiran Pasokan Energi
Harga minyak dunia kembali melonjak dan menembus level US$100 per barel pada Rabu (9/9/2026). Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2% hingga mencapai US$100,01 per barel pada pukul 03.20 waktu setempat. Level tersebut terakhir kali tercatat pada Juli 2026.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November juga menguat 1,75% menjadi US$94,66 per barel.
Konflik AS-Iran Tekan Pasokan Minyak
Kenaikan harga minyak dunia terjadi setelah konflik antara AS dan Iran kembali memanas. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyebut militer AS menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah Iran pada Selasa.
Tindakan tersebut disebut sebagai respons terhadap upaya serangan terhadap kapal perang AS. Kapal perang Amerika berhasil menghindari serangan tersebut dan tidak ada personel AS yang terluka.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, terutama jika konflik semakin meluas dan mengganggu jalur pelayaran maupun fasilitas energi.
Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$120
Kepala Riset Komoditas Goldman Sachs, Daan Struyven, mengatakan eskalasi konflik AS-Iran meningkatkan risiko harga minyak Brent naik jauh lebih tinggi.
Menurutnya, harga minyak bahkan berpotensi menembus US$120 per barel apabila serangan terhadap kapal-kapal semakin intensif dan menghambat ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia.
“Hal itu sangat mungkin terjadi,” ujar Struyven dalam program Squawk Box Asia CNBC ketika ditanya mengenai kemungkinan harga minyak mencapai US$120 per barel.
Goldman Sachs masih memiliki skenario dasar bahwa ekspor minyak dari Teluk Persia secara bertahap akan kembali pulih. Produsen diperkirakan dapat beradaptasi terhadap gangguan melalui penggunaan rute pelayaran alternatif hingga peningkatan kapasitas pipa.
Harga Minyak Berpotensi Naik Lebih Tinggi
Meski demikian, Struyven menyebut perkembangan terbaru meningkatkan peluang terjadinya skenario bullish atau kenaikan harga minyak yang lebih tajam.
Dalam skenario tersebut, ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia gagal pulih dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi itu dapat mendorong harga Brent melewati US$120 per barel.
“Perkembangan selama beberapa hari terakhir memang mengindikasikan bahwa skenario kenaikan harga alternatif, di mana ekspor justru stagnan dalam beberapa bulan ke depan dan harga Brent melampaui US$120, memiliki probabilitas yang jelas meningkat, mengingat kita melihat adanya intensifikasi dan perluasan serangan terhadap kapal-kapal,” kata Struyven.
Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Ketegangan militer antara AS dan Iran sebelumnya sempat mereda selama sekitar satu bulan. Washington saat itu beralih menggunakan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Namun, situasi kembali memburuk setelah AS melancarkan serangan menjelang akhir bulan lalu. Eskalasi terbaru kemudian kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi global.
Jika konflik terus meluas dan menghambat arus ekspor minyak dari Timur Tengah, harga minyak dunia berpotensi tetap berada di bawah tekanan kenaikan dalam beberapa bulan mendatang.
0 Comments