Benjamin Cowen Ungkap Alasan Altcoin Season Tak Pernah Terjadi
Selama sebagian besar tahun 2025, para pemegang altcoin hanya bisa menunggu sambil menyaksikan Bitcoin terus naik hingga mencapai rekor tertinggi baru di kisaran $126.000. Mereka mengharapkan pola yang biasanya terjadi—setelah Bitcoin mencapai puncak, akan ada rotasi dana ke altcoin, memicu lonjakan besar yang sering disebut sebagai altseason. Namun, hal itu tidak terjadi.
Menurut Benjamin Cowen, siklus kali ini berbeda. Ia menyebut bahwa Bitcoin mencapai puncaknya dalam kondisi “apathy” (minim antusiasme), bukan “euphoria” (euforia) seperti pada siklus sebelumnya. Pernyataan ini menjelaskan banyak hal tentang pergerakan pasar di 2025.
Secara pola, Bitcoin sebenarnya masih bergerak seperti biasanya, yaitu mencapai puncak pada kuartal keempat setelah halving, sama seperti siklus-siklus sebelumnya. Namun jika dilihat lebih dalam, ada perbedaan besar dari sisi minat pasar. Pada tahun 2017 dan 2021, puncak Bitcoin terjadi saat minat publik sangat tinggi—ditandai dengan lonjakan pencarian, pembahasan di media sosial, dan masuknya investor ritel dalam jumlah besar. Sebaliknya, pada 2025, Bitcoin justru mencapai harga tertinggi saat minat publik berada di level rendah. Tidak ada hype besar, tidak ada gelombang investor baru, dan tidak ada dorongan dari media mainstream.
Perbedaan ini berdampak besar pada altcoin. Dalam siklus yang penuh euforia, biasanya terjadi pola yang jelas: setelah Bitcoin mencapai puncak, investor awal mengambil keuntungan dan mengalihkan dana mereka ke aset yang lebih berisiko seperti altcoin. Hal ini mendorong kenaikan harga altcoin secara signifikan. Namun, ketika pasar berada dalam kondisi apatis, pola ini tidak terjadi karena tidak ada cukup investor baru yang masuk untuk membeli altcoin.
Akibatnya, altcoin tidak mengalami lonjakan, melainkan justru mengalami penurunan secara perlahan. Banyak altcoin terus kehilangan nilai terhadap Bitcoin sepanjang siklus, baik saat pasar bullish maupun setelahnya.
Cowen juga menyoroti bahwa faktor makroekonomi global memainkan peran penting. Sebelumnya, pasar kripto berkembang dalam lingkungan ekonomi yang mendukung pengambilan risiko, terutama setelah krisis finansial 2008 ketika ekonomi berada dalam fase pemulihan. Namun pada 2025, kondisi ekonomi global sudah memasuki fase siklus akhir, di mana investor cenderung lebih berhati-hati dan menghindari risiko.
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman. Di pasar kripto, Bitcoin dipandang sebagai aset yang lebih kuat dibandingkan altcoin. Hal ini menjelaskan mengapa altcoin terus melemah terhadap Bitcoin, bahkan ketika harga Bitcoin sendiri masih naik.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Situasi serupa pernah terjadi pada tahun 2019, ketika altcoin juga gagal mengalami reli besar dan justru terus melemah terhadap Bitcoin tanpa adanya fase altseason.
Selain itu, kondisi likuiditas global yang ketat juga memperparah keadaan. Saat likuiditas rendah—seperti yang terjadi pada periode krisis 2008 dan 2018–2019—investor cenderung menghindari aset spekulatif. Mereka lebih memilih menyimpan dana di aset yang lebih stabil.
Secara keseluruhan, kombinasi dari minimnya antusiasme pasar, tidak adanya aliran dana baru, tekanan dari kondisi makroekonomi, serta likuiditas yang ketat menjadi alasan utama mengapa altcoin tidak mengalami kenaikan signifikan di tahun 2025.
0 Comments