Bitcoin Turun di Bawah $63.000, Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Meningkat

Bitcoin Turun di Bawah $63.000, Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Meningkat

Bitcoin Turun di Bawah US$63.000 saat Harga Minyak dan Imbal Hasil Treasury Naik

Bitcoin kembali berada di bawah tekanan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Harga Bitcoin turun di bawah level US$63.000 ketika kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield) membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.

Bitcoin sempat turun ke sekitar US$62.970 di Binance pada awal perdagangan Asia. Penurunan ini sekitar 0,9% dibandingkan hari sebelumnya.

Tekanan terhadap Bitcoin terjadi ketika pasar menghadapi kombinasi kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, serta peningkatan imbal hasil obligasi AS. Kondisi tersebut biasanya membuat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk cryptocurrency.

Harga Minyak Naik

Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan harga minyak mentah.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik ke sekitar US$82,81 per barel. Sementara itu, minyak Brent berada di sekitar US$88,50 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ancaman Amerika Serikat untuk mempertahankan blokade laut terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Jika terjadi gangguan berkepanjangan, harga minyak berpotensi naik lebih tinggi.

Kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan berbagai kebutuhan bisnis. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kembali tekanan inflasi global.

Bagi pasar crypto, situasi ini penting karena inflasi yang lebih tinggi dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Imbal Hasil Treasury AS Ikut Naik

Selain harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga memberikan tekanan terhadap Bitcoin.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,66% pada 14 Agustus. Kenaikan yield membuat obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik bagi investor yang mencari aset dengan risiko relatif lebih rendah.

Ketika yield obligasi meningkat, sebagian investor dapat mengurangi investasi pada aset berisiko seperti Bitcoin, altcoin, dan saham teknologi.

Kenaikan yield jangka panjang juga mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Data Inflasi AS Memberikan Sedikit Angin Segar

Meski kondisi pasar cukup menekan, data ekonomi AS terbaru sebenarnya memberikan sedikit sentimen positif.

Inflasi konsumen AS naik 3,4% secara tahunan pada Juli 2026. Secara bulanan, inflasi hanya meningkat 0,1%.

Kenaikan bulanan yang relatif rendah membantu mengurangi kekhawatiran bahwa inflasi AS kembali meningkat secara tajam.

Data Producer Price Index (PPI) juga menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan. PPI Juli tercatat tidak berubah, sementara ekonom sebelumnya memperkirakan kenaikan sekitar 0,2%.

Data tersebut dapat mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh The Fed.

Namun, kenaikan harga minyak menjadi risiko baru. Jika harga energi terus naik, inflasi bisa kembali mendapatkan tekanan.

Bitcoin Menghadapi Level Support Penting

Penurunan Bitcoin di bawah US$63.000 menjadi perhatian karena level tersebut merupakan salah satu area support penting dalam jangka pendek.

Trader kini mengamati area US$63.000-US$63.700. Jika Bitcoin mampu bertahan di atas area tersebut, harga berpeluang kembali mencoba level US$65.000.

Namun, jika Bitcoin terus berada di bawah US$63.000, tekanan jual berpotensi meningkat.

Level berikutnya yang menjadi perhatian berada di sekitar US$61.500 dan US$60.000.

Level US$60.000 sangat penting bagi Bitcoin karena sebelumnya menjadi area support ketika pasar crypto mengalami tekanan besar pada 2026.

Sebaliknya, Bitcoin perlu kembali menembus area US$65.500-US$66.000 untuk memperbaiki momentum bullish jangka pendek.

Pasar Crypto Semakin Sensitif terhadap Kondisi Makroekonomi

Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar crypto semakin terhubung dengan kondisi ekonomi global.

Selain faktor internal industri crypto, investor juga memperhatikan harga minyak, yield Treasury, nilai tukar dolar AS, inflasi, serta kebijakan The Fed.

Ketika yield obligasi dan dolar AS naik, Bitcoin biasanya menghadapi tekanan karena investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman.

Sebaliknya, ketika suku bunga diperkirakan turun dan likuiditas global meningkat, aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin dapat memperoleh dukungan.

Kondisi tersebut membuat data ekonomi AS menjadi sangat penting bagi pergerakan pasar crypto dalam beberapa pekan ke depan.

Permintaan Spot Bitcoin Masih Menjadi Perhatian

Tekanan harga Bitcoin juga menunjukkan bahwa permintaan di pasar spot belum cukup kuat untuk memberikan sinyal bullish yang jelas.

Bitcoin masih bergerak di sekitar US$63.000, sementara aktivitas di pasar derivatif tetap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga.

Jika permintaan spot meningkat dan investor institusional kembali melakukan akumulasi, Bitcoin berpotensi mendapatkan momentum untuk pulih.

Namun, jika volume pembelian melemah sementara tekanan jual meningkat, Bitcoin dapat kembali menguji support yang lebih rendah.

Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?

Pergerakan Bitcoin selanjutnya kemungkinan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak, yield Treasury AS, data inflasi, serta ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Jika harga minyak terus naik akibat ketegangan geopolitik, kekhawatiran inflasi dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya.

Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik mereda, harga minyak turun, dan inflasi tetap terkendali, sentimen investor bisa membaik. Kondisi ini dapat membuka peluang bagi Bitcoin untuk kembali naik.

Untuk saat ini, area US$63.000 menjadi level yang perlu diperhatikan.

Jika Bitcoin mampu mempertahankan support tersebut, harga berpotensi kembali menguji US$65.000-US$66.000. Namun, jika tekanan jual membuat Bitcoin bertahan di bawah US$63.000, level US$60.000 dapat kembali menjadi target perhatian pasar.

Dengan demikian, prospek Bitcoin masih berada dalam kondisi campuran. Data inflasi AS memberikan sedikit dukungan, tetapi kenaikan harga minyak, yield Treasury, dan ketidakpastian geopolitik menjadi tantangan bagi Bitcoin serta pasar crypto secara keseluruhan.