Bursa Saham Global Menguat, Wall Street dan Eropa Kompak Ditutup Hijau

Bursa Saham Global Menguat, Wall Street dan Eropa Kompak Ditutup Hijau

Bursa Saham Global Kompak Menguat, Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed Angkat Sentimen Pasar

Bursa saham global ditutup menguat pada perdagangan Jumat (3/7/2026) waktu setempat. Reli terjadi setelah investor menyambut positif data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) memiliki ruang lebih besar untuk mulai memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (4/7/2026), pasar saham Amerika Serikat atau Wall Street tidak melakukan perdagangan pada Jumat karena libur Hari Kemerdekaan AS (Independence Day). Meski demikian, sentimen dari perdagangan Kamis (2/7) masih mendominasi pergerakan pasar global, terutama setelah laporan tenaga kerja memicu perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS.

Selain memicu reli di pasar saham, data tersebut juga mendorong pelemahan dolar AS serta mengangkat harga emas, karena investor memperkirakan tekanan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi mulai berkurang.

Di Eropa, indeks STOXX Europe 600 ditutup menguat 0,69% sekaligus mencetak level tertinggi baru. Penguatan tersebut menandai kenaikan mingguan keempat berturut-turut dan menjadi performa mingguan terbaik sejak pertengahan Mei.

Analis menilai reli pasar Eropa didukung kombinasi prospek pelonggaran kebijakan moneter global, valuasi saham yang relatif lebih murah dibandingkan pasar AS, serta rotasi investor dari saham teknologi menuju sektor-sektor yang lebih defensif dan siklikal.

Saham sektor utilitas menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan sekitar 1,78%. Selain utilitas, sektor industri, material dasar, dan keuangan juga mencatat kenaikan seiring meningkatnya minat investor terhadap saham-saham nonteknologi.

Di antara bursa utama Eropa, indeks DAX Jerman memimpin penguatan dengan kenaikan 0,85%. FTSE MIB Italia naik 0,77%, disusul CAC 40 Prancis yang menguat 0,48%, sementara FTSE 100 Inggris bertambah 0,19%.

Secara global, indeks MSCI All Country World Index juga bergerak positif dan berada di jalur membukukan kenaikan mingguan sekitar 2%, menjadi performa terbaik sejak Mei 2026.

Bursa Asia Ikut Menghijau

Sentimen positif turut menjalar ke pasar Asia-Pasifik. Bursa Jepang ditutup menguat, dengan indeks acuan Nikkei 225 naik 1,47%, sedangkan indeks Topix menguat 1,17%.

Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 5,76% dan menjadi salah satu bursa dengan kinerja terbaik di kawasan. Kenaikan tersebut terjadi setelah aksi jual tajam pada saham-saham teknologi sehari sebelumnya mulai mereda, sehingga memicu aksi beli kembali oleh investor. Sementara itu, indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq justru terkoreksi 1,68%.

Bursa Australia juga ditutup menguat. Indeks S&P/ASX 200 naik 1,37%.

Di Hong Kong, indeks Hang Seng bertambah 1,28%, sedangkan indeks CSI 300 China daratan naik 1,15%. Sementara itu, indeks Taiex Taiwan menguat sekitar 0,2%.

Optimisme investor di kawasan Asia turut didukung oleh sejumlah indikator aktivitas manufaktur yang menunjukkan ekspansi pada Juni, sehingga menambah keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi regional masih cukup solid meski ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda.

Data Tenaga Kerja AS Jadi Sorotan

Penguatan pasar dipicu laporan nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang menunjukkan penciptaan lapangan kerja hanya mencapai sekitar 57.000 pada Juni, jauh di bawah ekspektasi pasar sekitar 110.000. Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja mulai melambat setelah sebelumnya menunjukkan ketahanan yang kuat.

Perlambatan tersebut membuat pelaku pasar semakin yakin bahwa The Fed tidak perlu lagi mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu ketat. Ekspektasi terhadap penurunan suku bunga pada pertemuan mendatang pun meningkat, sehingga mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko seperti saham.

Selain itu, pelaku pasar kini juga menantikan rilis data inflasi AS berikutnya yang diperkirakan akan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini.

Wall Street Bergerak Beragam

Pada perdagangan Kamis (2/7), sehari sebelum libur nasional AS, indeks-indeks utama Wall Street ditutup bervariasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 594,83 poin atau 1,14% ke level 52.900,07 dan mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang sejarah. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bahkan sempat menyentuh level intraday baru di 52.903,85.

Sementara itu, indeks S&P 500 bergerak relatif datar dengan kenaikan tipis ke posisi 7.483,24.

Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru melemah 0,8% menjadi 25.832,67 karena tekanan pada saham-saham teknologi dan semikonduktor.

Tekanan terhadap Nasdaq dipicu aksi jual di sektor chip yang berlanjut untuk hari kedua. ETF VanEck Semiconductor (SMH) anjlok 4,5%, dipimpin penurunan saham Teradyne sebesar 13,6% dan KLA yang melemah 11,5%.

Di sisi lain, Nvidia turun 1,4%, sedangkan Micron Technology terkoreksi 5,5%. Pelemahan saham-saham teknologi ini mencerminkan rotasi investor dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor menuju sektor-sektor yang dinilai lebih defensif serta sensitif terhadap potensi penurunan suku bunga.

Meski sektor teknologi mengalami tekanan, penguatan saham-saham industri, kesehatan, utilitas, dan keuangan berhasil menopang indeks utama Wall Street. Investor kini akan terus mencermati data inflasi, penjualan ritel, serta sejumlah indikator ekonomi AS berikutnya untuk memperoleh petunjuk yang lebih jelas mengenai waktu dan besaran potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada sisa tahun 2026.