Circle Mulai Bertransformasi Menjadi Blockchain Sendiri, Konflik Ini Dinilai Tak Disadari GENIUS
Strategi Blockchain Baru Circle Picu Kekhawatiran Regulasi
Selama dua tahun terakhir, Circle memposisikan diri sebagai penerbit stablecoin yang aman dan patuh regulasi. Perusahaan tersebut mempromosikan USD Coin sebagai dolar digital yang didukung cadangan penuh dan dirancang untuk mengikuti aturan, bukan mengambil risiko spekulatif ala kripto.
Namun kini Circle mulai bergerak lebih jauh dari sekadar penerbit stablecoin. Perusahaan tersebut sedang membangun blockchain layer-1 miliknya sendiri bernama Arc, langkah yang memunculkan kekhawatiran terkait konflik kepentingan dan dominasi infrastruktur pasar.
Pada Mei 2026, Circle mengumumkan berhasil mengumpulkan dana sebesar US$222 juta melalui token presale untuk Arc. Proyek tersebut memiliki valuasi terdilusi penuh sekitar US$3 miliar. Pendanaan dipimpin oleh Andreessen Horowitz, dengan dukungan dari BlackRock, Apollo Global Management, dan Intercontinental Exchange.
Arc dirancang sebagai blockchain yang berfokus pada stablecoin, di mana USDC akan menjadi aset utama untuk membayar biaya transaksi di jaringan tersebut. Dengan strategi ini, Circle tidak lagi hanya ingin menerbitkan dolar digital, tetapi juga menguasai infrastruktur blockchain tempat dolar tersebut digunakan.
Di sinilah kekhawatiran mulai muncul. Dalam sistem keuangan tradisional, penerbit aset biasanya dipisahkan dari infrastruktur yang memproses dan menyelesaikan transaksi. Pemisahan ini dibuat untuk menjaga netralitas dan keadilan pasar.
Melalui Arc, Circle akan mengontrol validasi transaksi, aturan jaringan, hingga proses settlement, sambil tetap bersaing melalui produk stablecoin miliknya sendiri, yaitu USDC. Artinya, stablecoin pesaing yang ingin menggunakan Arc harus beroperasi di atas jaringan milik kompetitor langsung mereka.
Kritikus menilai kondisi ini bisa memberi Circle kekuatan untuk menentukan biaya transaksi, memprioritaskan aktivitas tertentu, hingga mengatur standar jaringan yang berpotensi menguntungkan USDC dibanding stablecoin lain. Masalah utamanya bukan soal apakah Circle akan menyalahgunakan posisi tersebut, melainkan karena struktur bisnis seperti ini secara alami menciptakan konflik kepentingan.
Perdebatan ini juga memperlihatkan celah regulasi. Undang-undang GENIUS Act yang disahkan pada 2025 lebih fokus memastikan stablecoin benar-benar didukung cadangan dan dapat ditebus. Regulasi tersebut mengatur soal cadangan aset, transparansi, dan pengawasan penerbit stablecoin.
Namun, aturan itu belum membahas situasi ketika penerbit stablecoin juga memiliki blockchain settlement miliknya sendiri. Saat GENIUS Act dibuat, belum ada penerbit stablecoin besar yang mengoperasikan jaringan blockchain sendiri.
Daftar investor Arc juga menunjukkan bahwa proyek ini dipersiapkan sebagai infrastruktur keuangan besar di masa depan. BlackRock saat ini mengelola cadangan yang mendukung USDC, sementara Apollo dan Intercontinental Exchange merupakan pemain utama di sektor pasar keuangan global.
Institusi-institusi tersebut dinilai tidak sekadar berinvestasi untuk spekulasi harga token. Mereka tampaknya melihat Arc sebagai infrastruktur penting untuk tokenisasi dolar, aset digital, hingga pasar keuangan berbasis blockchain di masa depan.
Strategi Circle juga mencerminkan persaingan yang semakin ketat di industri stablecoin. USDC masih harus bersaing dengan Tether serta semakin banyak stablecoin yang diterbitkan bank dan perusahaan pembayaran.
Karena itu, banyak penerbit stablecoin mulai mencoba menguasai lebih banyak lapisan industri, mulai dari infrastruktur hingga distribusi. Circle tampaknya menilai bahwa hanya menjadi penerbit stablecoin akan membuat posisinya lebih lemah dibanding rival yang mulai membangun ekosistem blockchain sendiri.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai regulator kemungkinan perlu menerapkan aturan netralitas seperti yang berlaku pada bursa dan clearing house di sistem keuangan tradisional jika penerbit stablecoin diizinkan memiliki jaringan settlement sendiri.
Beberapa solusi yang diusulkan mencakup transparansi biaya transaksi, perlakuan yang setara bagi stablecoin pesaing, serta tata kelola jaringan yang dipisahkan dari kepentingan bisnis Circle terhadap USDC.
Regulator juga didorong untuk bergerak lebih cepat selagi Arc masih dalam tahap pengembangan. Sebab jika jaringan tersebut sudah menjadi bagian penting dari sistem keuangan digital, perubahan aturan di masa depan akan jauh lebih sulit dan mahal dilakukan.
Pada akhirnya, langkah Circle mencerminkan tren besar di industri kripto saat ini, di mana perusahaan tidak lagi ingin hanya menerbitkan aset digital, tetapi juga menguasai infrastruktur di baliknya. Strategi ini memang bisa memperkuat posisi bisnis Circle, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan besar soal persaingan, netralitas, dan masa depan pasar stablecoin global.
0 Comments