Coinbase Beralih ke Open USD? Ini Alasan di Balik Dukungannya terhadap Stablecoin Penantang USDC

Coinbase Beralih ke Open USD? Ini Alasan di Balik Dukungannya terhadap Stablecoin Penantang USDC

Pasar stablecoin selama ini didominasi oleh perusahaan penerbit token, yang memperoleh keuntungan dari dana cadangan (reserve) yang ditempatkan pada surat utang pemerintah jangka pendek. Namun, perusahaan yang mendistribusikan stablecoin kini ingin memperoleh porsi pendapatan yang lebih besar.

Perubahan ini menjadi latar belakang hadirnya Open USD (OUSD), proyek stablecoin baru yang didukung lebih dari 140 perusahaan dari sektor keuangan, teknologi, dan kripto. Beberapa nama besar yang terlibat antara lain Coinbase, Visa, Mastercard, Stripe, BlackRock, dan Google.

OUSD menawarkan pencetakan (minting) dan penukaran (redemption) token tanpa biaya bagi pelaku bisnis. Selain itu, sebagian besar pendapatan dari aset cadangan akan dibagikan kepada perusahaan yang membantu mendorong adopsi stablecoin tersebut.

Bagi Circle, penerbit USD Coin (USDC), dukungan Coinbase terhadap OUSD menjadi perhatian besar. Selama ini, Coinbase merupakan salah satu mitra distribusi terpenting bagi USDC. Berdasarkan laporan kuartal pertama Coinbase, lebih dari 25 persen USDC yang beredar, atau sekitar US$19 miliar, tersimpan di berbagai produk miliknya. Sementara itu, jaringan layer-2 Base memproses sekitar 62 persen volume transaksi stablecoin on-chain global pada periode tersebut.

Karena itu, keterlibatan Coinbase di OUSD bukan sekadar dukungan biasa. Langkah tersebut memberi Coinbase posisi dalam model stablecoin baru yang berpotensi menjadi pesaing USDC.

Distribusi Jadi Kunci Persaingan

Peluncuran OUSD menjadi tantangan baru bagi pasar stablecoin yang saat ini memiliki kapitalisasi lebih dari US$320 miliar.

Selama bertahun-tahun, penerbit stablecoin seperti Circle dan Tether menikmati keuntungan besar karena memperoleh seluruh pendapatan bunga dari dana cadangan. Namun, kini perusahaan yang memiliki akses langsung ke pengguna mulai menuntut pembagian pendapatan yang lebih adil.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, OUSD menghapus biaya minting dan redemption sekaligus membagikan sebagian besar pendapatan dari aset cadangan kepada mitra distribusinya.

Pasar langsung merespons kabar ini. Saham Circle sempat turun 16 persen setelah konsorsium OUSD diumumkan. Penurunan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap hubungan bisnis Circle dengan Coinbase.

Hubungan keduanya selama ini sangat menguntungkan. Pada 2024, Circle membayar sekitar US$908 juta kepada Coinbase melalui perjanjian pembagian pendapatan USDC. Bahkan, pada 2025, pendapatan Coinbase yang berasal dari stablecoin mencapai sekitar US$1,35 miliar atau sekitar 19 persen dari total pendapatannya.

Perjanjian distribusi antara Circle dan Coinbase juga akan berakhir pada Agustus 2026. Menurut Tiger Research, posisi Coinbase sebagai salah satu pendiri OUSD memberikan nilai tawar yang lebih kuat dalam negosiasi kontrak berikutnya.

CEO Coinbase Brian Armstrong hanya mengatakan bahwa perusahaannya ingin mempercepat adopsi stablecoin dan memodernisasi sistem keuangan global. Namun, di balik pernyataan tersebut, semakin terlihat bahwa perusahaan distribusi ingin memperoleh bagian pendapatan yang lebih besar dari bisnis stablecoin.

Circle Pertahankan Model USDC

CEO Circle Jeremy Allaire menilai keberhasilan stablecoin tidak hanya bergantung pada pembagian pendapatan, tetapi juga pada kekuatan jaringan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Dalam unggahannya di X, Allaire mengatakan USDC memproses hampir US$30 triliun transaksi on-chain sepanjang kuartal pertama 2026. Berdasarkan data Artemis, angka tersebut mewakili sekitar 80 persen transaksi stablecoin berbasis dolar AS di berbagai blockchain utama.

Allaire juga meragukan efektivitas konsorsium yang melibatkan begitu banyak perusahaan besar. Menurutnya, kelompok besar sering kali memiliki kepentingan yang berbeda sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lambat dan menghambat inovasi.

Ia mengungkapkan bahwa Circle pernah mencoba model konsorsium pada masa awal pengembangan USDC. Namun, perusahaan akhirnya memilih kerja sama yang lebih kecil dan fleksibel karena dinilai lebih efektif.

Selain itu, Allaire menegaskan bahwa seluruh pendapatan dari aset cadangan tidak bisa langsung dibagikan kepada mitra. Sebagian dana tetap diperlukan untuk membiayai perizinan global, kepatuhan terhadap regulasi, serta pengelolaan cadangan selama 24 jam.

OUSD Masih Menghadapi Tantangan

Meski didukung banyak perusahaan besar, sejumlah analis menilai OUSD masih menghadapi tantangan besar untuk berkembang.

Direktur Riset Aset Digital ARK Invest, Lorenzo Valente, mengatakan stablecoin baru harus mengatasi masalah awal karena pasar saat ini sudah didominasi oleh USDT dan USDC. Menurutnya, membangun likuiditas baru bukanlah hal yang mudah.

Valente juga mempertanyakan efektivitas konsorsium yang terdiri dari ratusan perusahaan. Ia menilai proses pengambilan keputusan berpotensi berlangsung lambat dibandingkan Circle atau Tether yang dapat mengambil keputusan secara mandiri.

Selain itu, OUSD juga berpotensi menghadapi pengawasan regulator dan otoritas persaingan usaha karena melibatkan perusahaan-perusahaan besar dari berbagai sektor.

Di sisi lain, beberapa anggota konsorsium juga masih mengembangkan strategi stablecoin masing-masing. Stripe, misalnya, telah mengakuisisi perusahaan infrastruktur stablecoin Bridge, sementara Ripple telah meluncurkan stablecoin sendiri. Sejumlah bank besar juga tengah mengembangkan sistem tokenisasi simpanan mereka sendiri.

Kondisi tersebut membuat komitmen jangka panjang para anggota OUSD masih menjadi tanda tanya.

Kayla Phillips, investor blockchain dari Hivemind, mempertanyakan bagaimana lebih dari 140 anggota konsorsium dapat menyusun tata kelola yang efektif. Menurutnya, jika tidak semua anggota memiliki peran dalam pengambilan keputusan, insentif untuk tetap aktif di dalam konsorsium bisa berkurang.

Persaingan Stablecoin Memasuki Babak Baru

Kemunculan OUSD menunjukkan bahwa persaingan stablecoin kini tidak lagi hanya soal teknologi, tetapi juga mengenai pembagian keuntungan dalam ekosistem.

Bagi Circle, mempertahankan posisi USDC berarti harus terus mengembangkan layanan tambahan seperti Cross-Chain Transfer Protocol (CCTP) dan berbagai solusi untuk institusi agar menawarkan nilai lebih di luar bisnis penerbitan stablecoin.

Ke depan, persaingan stablecoin diperkirakan akan semakin berfokus pada siapa yang menguasai jaringan distribusi dan bagaimana pendapatan dari aset cadangan dibagi di antara para pelaku industri.