Dana Investasi Ramai Memborong Saham Kripto. Apakah Instrumen Ini Lebih Aman atau Justru Lebih Berisiko?
Cathie Wood melalui ARK Invest membeli saham-saham perusahaan kripto senilai sekitar US$77 juta sepanjang Juni. Berdasarkan laporan transaksi harian ARK, pembelian tersebut meliputi saham Coinbase (COIN) senilai US$44 juta, Circle (CRCL) sebesar US$25,25 juta, dan Bullish (BLSH) sekitar US$8,2 juta. Langkah ini dilakukan di tengah periode terburuk Bitcoin dalam empat tahun terakhir.
Aksi tersebut mempertegas pandangan yang telah lama dipegang Cathie Wood dan sejumlah manajer investasi lainnya, yakni bahwa saham perusahaan kripto dapat menjadi cara yang teregulasi untuk memperoleh eksposur terhadap pasar aset digital tanpa harus memiliki aset kripto secara langsung.
Namun, analisis CryptoSlate terhadap data harga harian hingga 2 Juli menunjukkan bahwa strategi tersebut memiliki konsekuensi tersendiri. Dari sembilan saham perusahaan kripto yang tercatat di bursa Amerika Serikat, volatilitas terealisasi tahunan dalam 30 hari terakhir berada di kisaran 68% hingga 90%, atau hampir dua kali lipat dibanding volatilitas Bitcoin yang mencapai sekitar 37,6%.
Dalam periode 90 hari, volatilitas Circle bahkan mencapai 103,6%, sedangkan Bitcoin hanya sekitar 37,8%. Selain itu, saham Circle telah turun 51,4% dari puncaknya pada 2026, Strategy (MSTR) melemah 48,6%, dan Bullish turun 43,6%. Penurunan tersebut lebih dalam dibanding koreksi Bitcoin sebesar 36,4% dari level tertingginya pada Januari di kisaran US$97.000.
Perbedaan volatilitas ini mungkin membuat saham-saham tersebut tampak seperti versi Bitcoin dengan leverage. Namun, data korelasi menunjukkan gambaran yang berbeda. Korelasi mengukur seberapa erat pergerakan dua aset, dengan nilai 1 menunjukkan pergerakan yang hampir identik dan nilai 0 berarti tidak memiliki hubungan.
Selama 90 hari perdagangan terakhir, saham Circle, Robinhood (HOOD), dan Bullish hanya memiliki korelasi sekitar 0,55 hingga 0,58 terhadap Bitcoin. Artinya, hanya sekitar sepertiga pergerakan harian saham-saham tersebut yang dipengaruhi oleh Bitcoin, sedangkan sisanya berasal dari faktor internal perusahaan, seperti laporan keuangan, persaingan bisnis, kebutuhan pendanaan, maupun penerbitan saham baru.
Dengan kata lain, investor yang membeli saham perusahaan kripto tidak hanya memperoleh eksposur terhadap Bitcoin, tetapi juga menanggung risiko tambahan yang berasal dari bisnis perusahaan itu sendiri.
Hanya Strategy yang Benar-Benar Mencerminkan Pergerakan Bitcoin
Berdasarkan data tersebut, Strategy merupakan satu-satunya saham yang benar-benar dapat dianggap sebagai proksi Bitcoin.
Saham ini memiliki beta sebesar 1,59 dan korelasi 0,85 terhadap Bitcoin. Artinya, setiap pergerakan 1% pada Bitcoin cenderung diikuti perubahan sekitar 1,59% pada saham Strategy. Karena itu, saat pasar melemah, penurunan saham Strategy juga lebih tajam dibanding Bitcoin.
Sementara itu, Coinbase dinilai sebagai saham yang paling mendekati keseimbangan. Sepanjang tahun ini, saham Coinbase turun sekitar 26,8%, sedikit lebih baik dibanding Bitcoin. Beta sahamnya mencapai 1,26 dengan korelasi tertinggi kedua terhadap Bitcoin. Meski demikian, volatilitas Coinbase tetap hampir dua kali lipat dibanding Bitcoin dan harganya masih sekitar 60,6% di bawah rekor tertinggi pada Juli 2025 sebesar US$419,78.
Circle justru menjadi contoh bahwa risiko saham perusahaan dapat jauh lebih besar dibanding risiko aset kripto itu sendiri. Korelasi Circle terhadap Bitcoin merupakan yang terendah dalam kelompok tersebut, sedangkan volatilitasnya mencapai 103,6%, tertinggi di antara seluruh saham yang dianalisis.
Hal itu terlihat pada 30 Juni ketika saham Circle anjlok 17,5% hanya dalam satu hari setelah peluncuran Open USD, stablecoin pesaing yang didukung lebih dari 140 perusahaan, termasuk Coinbase, Stripe, Visa, Mastercard, dan BlackRock. Penurunan tersebut hampir tidak berkaitan dengan pergerakan Bitcoin, melainkan dipicu oleh meningkatnya persaingan di industri stablecoin.
Robinhood menunjukkan kondisi yang berbeda. Sepanjang tahun, saham perusahaan ini hanya turun sekitar 0,3% dengan koreksi terdalam sekitar 8,5%. Hal tersebut karena bisnis Robinhood tidak hanya bergantung pada perdagangan aset kripto, tetapi juga mencakup saham, opsi, dan berbagai produk investasi lainnya.
Sementara itu, perusahaan-perusahaan penambang Bitcoin justru mencatat kinerja yang mengejutkan. Riot naik sekitar 74,5% sepanjang tahun, MARA menguat 38,1%, dan CleanSpark naik 24,7%, meski Bitcoin sendiri turun sekitar 29,5%.
Kinerja positif tersebut didorong oleh transformasi model bisnis perusahaan tambang yang mulai beralih ke layanan komputasi berkinerja tinggi (high-performance computing/HPC) dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Pendapatan dari bisnis AI menjadi faktor utama yang menopang kenaikan saham mereka, bukan semata-mata pergerakan harga Bitcoin.
0 Comments