Gen Z Makin Gemar Taruhan Olahraga, Pakar Soroti Risiko Finansial
Gen Z Mulai Gunakan Dana Investasi untuk Taruhan Olahraga, Pakar Soroti Risiko terhadap Masa Depan Keuangan
Lebih dari separuh investor Gen Z berusia 18-29 tahun di Amerika Serikat mengaku mengalihkan sebagian uang yang semula ditujukan untuk investasi ke taruhan olahraga dalam setahun terakhir. Temuan ini menunjukkan semakin tipisnya batas antara investasi, hiburan, dan aktivitas spekulatif di kalangan investor muda.
Berdasarkan 2026 Retail Investor Survey yang dilakukan Betterment, sebanyak 52% investor Gen Z mengatakan mereka telah mengalihkan uang yang awalnya diperuntukkan bagi investasi ke taruhan olahraga dalam 12 bulan terakhir. Survei tersebut melibatkan 1.000 investor ritel dari empat generasi dan dirilis Betterment pada 12 Agustus 2026.
Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 26% investor Gen Z menganggap taruhan olahraga sebagai bagian yang disengaja dari strategi keuangan jangka panjang mereka. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan generasi milenial yang hanya 14%, Gen X 6%, dan baby boomers sekitar 1%.
CEO Betterment Sarah Levy menilai perkembangan tersebut menunjukkan adanya persoalan ketika produk seperti sportsbook atau pasar prediksi mulai dipandang sebagai sarana untuk mempersiapkan masa depan finansial.
“Ketika pasar prediksi atau sportsbook mulai terasa seperti strategi pensiun, terdapat sebuah masalah,” ujar Levy, seperti dikutip Yahoo! Finance.
Menurutnya, produk tersebut pada dasarnya tidak dirancang untuk membantu seseorang membangun kekayaan dalam jangka panjang. Karena itu, investor perlu memahami perbedaan antara mengikuti tren atau mencari keuntungan cepat dengan membangun portofolio yang dapat menopang kondisi keuangan mereka di masa depan.
Taruhan Mulai Dipandang Seperti Investasi
Perubahan perilaku tersebut menjadi perhatian karena sebagian Gen Z tidak lagi melihat taruhan olahraga semata-mata sebagai hiburan.
Bagi sebagian investor muda, taruhan olahraga mulai dianggap sebagai cara untuk memperoleh keuntungan dengan cepat. Persepsi ini berbeda dengan konsep investasi tradisional yang biasanya mengandalkan pertumbuhan aset dalam jangka panjang, diversifikasi, serta pengelolaan risiko.
Betterment menemukan bahwa 26% investor Gen Z memasukkan taruhan olahraga ke dalam strategi finansial jangka panjang mereka. Sebaliknya, sebagian Gen Z lainnya masih memandang taruhan olahraga sebagai bentuk hiburan atau memilih untuk tidak menggunakannya sebagai strategi investasi.
Menurut Dan Egan, wakil presiden bidang investasi berbasis perilaku Betterment, investor muda membutuhkan batas yang jelas antara keputusan yang didorong oleh tren sesaat dan strategi membangun kekayaan.
Ia memperingatkan bahwa seseorang dapat tanpa sadar mengorbankan tujuan finansial jangka panjang demi mendapatkan kesenangan atau peluang keuntungan dalam jangka pendek.
Masalahnya menjadi semakin kompleks karena akses terhadap aktivitas spekulatif kini jauh lebih mudah. Taruhan olahraga, pasar prediksi, perdagangan opsi, cryptocurrency, dan saham meme dapat diakses melalui aplikasi digital hanya dengan beberapa kali klik.
Batas antara Investasi dan Spekulasi Semakin Kabur
Perkembangan teknologi finansial juga membuat perbedaan antara investasi dan spekulasi semakin sulit dipahami oleh investor pemula.
Investasi tradisional umumnya bertujuan membangun kekayaan melalui kepemilikan aset dalam jangka panjang. Sementara itu, taruhan olahraga bergantung pada hasil suatu pertandingan atau peristiwa tertentu dan memiliki karakteristik perjudian.
Pasar prediksi juga menawarkan kontrak berdasarkan hasil suatu peristiwa tertentu. Aktivitas tersebut semakin populer di Amerika Serikat dan menarik perhatian investor muda karena tampilannya menyerupai platform perdagangan finansial.
Kondisi tersebut membuat sebagian pengguna dapat menganggap aktivitas spekulatif sebagai bentuk investasi, terutama ketika mereka melihat peluang memperoleh keuntungan dalam waktu singkat.
Betterment sendiri menemukan bahwa 60% investor Gen Z menggunakan media sosial sebagai sumber berita finansial, sementara hampir separuh responden Gen Z mengatakan AI pernah memengaruhi keputusan finansial mereka.
Hal ini menunjukkan bagaimana generasi muda mendapatkan informasi keuangan dari sumber yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Media sosial dan AI dapat membantu memperluas akses terhadap informasi, tetapi juga berpotensi membuat keputusan finansial lebih dipengaruhi tren, popularitas, atau narasi keuntungan cepat.
Gen Z Merasa Tertinggal Secara Finansial
Fenomena taruhan olahraga tidak dapat dilepaskan dari tekanan ekonomi yang dihadapi banyak orang dewasa muda.
Harga rumah yang tinggi, biaya pendidikan, biaya hidup, serta ketidakpastian pekerjaan membuat sebagian Gen Z merasa sulit mengejar target keuangan mereka melalui cara tradisional.
Temuan tersebut juga terlihat dalam 2026 Planning & Progress Study dari Northwestern Mutual. Studi tersebut menunjukkan bahwa 32% Gen Z telah berinvestasi atau mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam taruhan olahraga atau pasar prediksi pada 2026. Angka tersebut dibandingkan dengan 24% pada kelompok milenial, 10% Gen X, dan hanya 3% baby boomers.
Ketertarikan Gen Z juga terlihat pada aset spekulatif lainnya. Sebanyak 32% Gen Z berinvestasi atau mempertimbangkan cryptocurrency, 17% mempertimbangkan opsi, dan 14% mempertimbangkan saham meme.
Dengan demikian, persoalannya bukan hanya mengenai taruhan olahraga. Ada perubahan yang lebih luas dalam cara sebagian investor muda memandang risiko dan peluang mendapatkan kekayaan.
Fenomena “Financial Nihilism”
Northwestern Mutual menyebut salah satu faktor di balik tren tersebut sebagai “financial nihilism”, yaitu kondisi ketika seseorang merasa terlalu tertinggal secara finansial sehingga mengambil risiko lebih besar untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Dalam studi tersebut, 73% orang Amerika yang berinvestasi atau mempertimbangkan aset spekulatif mengatakan mereka melakukan hal tersebut karena merasa tertinggal secara finansial dan percaya instrumen berisiko tinggi dapat membawa mereka lebih cepat menuju tujuan finansial.
Pada Gen Z, angkanya bahkan mencapai 80%.
Artinya, sebagian investor muda tidak selalu mengambil risiko semata-mata karena ingin berjudi. Ada pula faktor psikologis berupa keinginan untuk mempercepat pencapaian finansial.
Jika seseorang merasa membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengumpulkan kekayaan melalui investasi biasa, peluang mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat bisa terlihat jauh lebih menarik.
Namun, potensi keuntungan yang lebih besar selalu disertai risiko kehilangan yang lebih besar pula.
Kondisi Finansial Mulai Membaik, tetapi Kekhawatiran Tetap Ada
Menariknya, laporan Northwestern Mutual juga menunjukkan bahwa kondisi finansial masyarakat Amerika secara keseluruhan mengalami perbaikan.
Pada 2026, 50% orang dewasa AS mengatakan mereka merasa aman secara finansial, naik dari 44% pada tahun sebelumnya. Untuk Gen Z, tingkat keamanan finansial meningkat dari 36% menjadi 39%. Sementara itu, tingkat keamanan finansial milenial meningkat dari 43% menjadi 53%.
Namun, peningkatan tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan kecemasan mengenai masa depan.
Lebih dari separuh masyarakat yang disurvei juga mengakui adanya kelemahan dalam perencanaan keuangan, yakni terlalu fokus meningkatkan kekayaan tetapi kurang memperhatikan perlindungan aset dan pengelolaan risiko.
Pada Gen Z, proporsi yang mengakui kesenjangan perencanaan tersebut mencapai 57%, sedangkan pada milenial mencapai 62%.
Risiko Terbesar adalah Kehilangan Waktu
Pakar keuangan mengingatkan bahwa salah satu kerugian terbesar dari keputusan spekulatif bukan hanya kehilangan uang, tetapi juga kehilangan waktu untuk membangun kekayaan.
Dalam investasi jangka panjang, waktu memungkinkan keuntungan majemuk atau compound growth bekerja. Dana yang terus diinvestasikan dan menghasilkan keuntungan dapat berkembang secara signifikan selama bertahun-tahun.
Sebaliknya, kerugian besar di usia muda dapat membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke posisi finansial sebelumnya.
Ashley Russo dari Northwestern Mutual menilai waktu merupakan salah satu aset paling berharga dalam perencanaan keuangan. Menurutnya, keputusan mengambil risiko secara agresif dapat mengikis keuntungan lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk memulihkannya.
Bukan Berarti Semua Gen Z Gemar Bertaruh
Meski angka yang ditemukan Betterment cukup tinggi, survei tersebut juga menunjukkan bahwa tidak semua investor Gen Z menjadikan taruhan olahraga sebagai bagian dari strategi finansial.
Sebagian responden masih menganggap taruhan olahraga sebagai hiburan, sementara sebagian lainnya memilih untuk sepenuhnya menghindarinya sebagai strategi investasi.
Karena itu, temuan survei sebaiknya tidak diartikan bahwa seluruh Gen Z memiliki perilaku finansial yang sama. Justru, data tersebut menggambarkan adanya kelompok investor muda yang semakin terbuka terhadap instrumen berisiko tinggi.
Perbedaan cara pandang tersebut menjadi penting karena keputusan finansial pada usia 20-an dapat memberikan dampak panjang terhadap kondisi keuangan pada usia 30-an, 40-an, bahkan masa pensiun.
Tren Ini Menjadi Peringatan bagi Investor Muda
Meningkatnya popularitas taruhan olahraga, pasar prediksi, cryptocurrency, opsi, dan saham meme menunjukkan bahwa investor muda semakin tertarik pada peluang dengan potensi keuntungan tinggi.
Namun, keuntungan cepat dan pembangunan kekayaan jangka panjang merupakan dua hal yang berbeda.
Data Betterment menunjukkan bahwa 52% investor Gen Z telah mengalihkan dana investasi ke taruhan olahraga dalam satu tahun terakhir, sementara 26% bahkan melihat taruhan olahraga sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Di sisi lain, data Northwestern Mutual memperlihatkan bahwa 80% Gen Z yang berinvestasi atau mempertimbangkan aset spekulatif karena merasa tertinggal secara finansial percaya instrumen tersebut dapat membantu mereka mencapai tujuan lebih cepat dibandingkan metode tradisional.
Kombinasi antara tekanan ekonomi, kemudahan akses digital, pengaruh media sosial, dan keinginan mendapatkan keuntungan dengan cepat menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Bagi investor muda, tantangan terbesar bukan sekadar memilih aset dengan potensi keuntungan tinggi, tetapi memahami berapa besar risiko yang sanggup ditanggung tanpa mengorbankan tujuan finansial jangka panjang.
Pada akhirnya, taruhan olahraga mungkin menawarkan peluang mendapatkan uang dalam waktu singkat, tetapi aktivitas tersebut tidak dapat disamakan dengan strategi membangun kekayaan secara konsisten. Seperti yang menjadi perhatian Betterment, ketika uang yang seharusnya digunakan untuk membangun masa depan mulai dialihkan ke aktivitas spekulatif, batas antara hiburan dan perencanaan keuangan menjadi semakin penting untuk dijaga.
0 Comments