Gus Miftah Salurkan Bantuan Rp 500 Juta untuk Korban Gempa NTT

Gus Miftah Salurkan Bantuan Rp 500 Juta untuk Korban Gempa NTT

Gus Miftah Salurkan Bantuan Rp500 Juta dan Banpres untuk Korban Gempa NTT

Pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah terbang ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak gempa bumi sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Gus Miftah dijadwalkan mengunjungi sejumlah wilayah yang mengalami dampak cukup parah, termasuk Lanting dan Kabupaten Manggarai Timur. Dalam kunjungan tersebut, ia membawa bantuan senilai Rp500 juta yang berasal dari dana pribadi.

Dana tersebut sebelumnya telah ditransfer kepada jaringan Gus Miftah di NTT agar dapat segera dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan warga yang paling mendesak. Bantuan diprioritaskan untuk kebutuhan yang benar-benar diperlukan masyarakat di lokasi pengungsian.

“Besok saya akan berangkat ke NTT. Saya akan memberikan bantuan kemanusiaan untuk sahabat-sahabat kita di NTT sebesar Rp500 juta. Posisinya sudah saya transfer ke jaringan saya di sana untuk bisa dibelanjakan kepada teman-teman terdampak yang paling membutuhkan,” ujar Gus Miftah di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (18/8/2026) malam.

Koordinasi dengan Pemerintah dan Relawan

Dalam proses penyaluran bantuan, Gus Miftah tidak bekerja sendiri. Ia berkoordinasi dengan sejumlah pihak di daerah, termasuk Korwil Banser dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTT.

Koordinasi tersebut dilakukan agar bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran, terutama kepada warga yang masih bertahan di pengungsian dan membutuhkan pasokan kebutuhan dasar.

“Kebetulan saya juga koordinasi dengan Korwil Banser yang ada di sana, yang kebetulan jemaah saya, sekaligus Kakanwil Kemenag NTT. Kita besok akan hadir langsung ke sana untuk menyerahkan bantuan,” katanya.

Gus Miftah juga menyebut kebutuhan pangan masih menjadi salah satu prioritas utama warga terdampak. Karena itu, bantuan awal yang disiapkan berupa sembako. Namun, ia mengatakan kebutuhan di lapangan akan kembali dipetakan setelah dirinya tiba dan melihat langsung kondisi para pengungsi.

Bawa Amanah Banpres untuk Rumah Ibadah

Selain menggunakan dana pribadi, Gus Miftah juga mendapat amanah untuk menyalurkan Bantuan Presiden atau Banpres untuk memperbaiki rumah ibadah yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Bantuan tersebut ditujukan kepada rumah ibadah lintas agama. Tidak hanya masjid, tetapi juga gereja, pura, dan tempat ibadah lainnya yang mengalami kerusakan.

“Saya juga mendapatkan amanah untuk menyalurkan Banpres renovasi rumah-rumah ibadah. Jadi salah satu fungsi Banpres itu adalah untuk memberikan bantuan-bantuan kemanusiaan,” ujar Gus Miftah.

Ia menargetkan bantuan tersebut dapat menyentuh setidaknya sekitar 10 tempat ibadah. Penyaluran dilakukan secara inklusif dengan mempertimbangkan tingkat kerusakan dan kebutuhan masing-masing bangunan.

Gus Miftah menjelaskan Banpres tersebut bukan ditujukan untuk membangun rumah ibadah baru. Bantuan lebih diarahkan untuk renovasi atau memperbaiki bagian bangunan yang rusak, seperti tembok roboh, genteng yang jatuh, maupun kerusakan lainnya akibat gempa.

Untuk penyalurannya, ia menyebut koordinasi dilakukan dengan Sekretariat Kabinet dan Sekretariat Negara.

Perjalanan ke Lokasi Pengungsian

Gus Miftah mengatakan perjalanan menuju lokasi terdampak tidak mudah. Setelah tiba di bandara, ia dan tim masih harus menempuh perjalanan darat sekitar tiga jam menuju salah satu titik pengungsian besar di Lanting.

Di lokasi tersebut, ia berencana menyerahkan bantuan sembako sekaligus melihat secara langsung kebutuhan masyarakat.

“Saya tadi dikasih titik pertama di Lanting, karena besok saya baru landing jam setengah dua, kemudian ke lokasi pengungsian itu sekitar tiga jam. Saya targetkan di satu pengungsian besar di Lanting itu,” ujarnya.

Setelah agenda di Lanting, Gus Miftah dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Manggarai Timur. Wilayah tersebut termasuk daerah yang mengalami dampak cukup berat akibat gempa.

Kunjungan langsung tersebut dinilai penting karena kebutuhan korban bencana dapat berubah sesuai kondisi di lapangan. Selain makanan, warga yang berada di pengungsian juga dapat membutuhkan air bersih, perlengkapan tidur, obat-obatan, pakaian, serta kebutuhan keluarga lainnya.

Gempa M7,7 Guncang NTT

Gempa yang memicu penyaluran bantuan tersebut terjadi pada 15 Agustus 2026. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa utama memiliki magnitudo 7,7 dengan pusat gempa sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, NTT, pada kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut sempat memicu peringatan potensi tsunami. 

Dampaknya meluas ke sejumlah wilayah di Flores. BNPB mencatat korban jiwa dan kerusakan bangunan terjadi di beberapa kabupaten, termasuk Manggarai dan Manggarai Timur. Pada pembaruan awal 15 Agustus, BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia, dengan korban tersebar di Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Manggarai Barat, Ngada, dan Ende. 

Jumlah korban kemudian terus diperbarui seiring proses pencarian, evakuasi, dan verifikasi data di lapangan. Hingga 19 Agustus 2026, BNPB melaporkan jumlah korban meninggal mencapai 71 orang. Pemerintah juga memastikan distribusi bantuan terus dilakukan kepada masyarakat di daerah terdampak dan lokasi pengungsian. 

Besarnya dampak gempa juga terlihat dari jumlah warga yang harus meninggalkan rumah. BNPB pada 16 Agustus mencatat lebih dari 5.000 orang berada di pengungsian, dengan konsentrasi pengungsi antara lain di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Manggarai. 

Ribuan Gempa Susulan Masih Terjadi

Situasi di Flores belum sepenuhnya stabil karena aktivitas gempa susulan masih berlangsung. BMKG mencatat ribuan aktivitas aftershock setelah gempa utama 15 Agustus.

Pada 20 Agustus pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sedikitnya 3.752 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sejumlah gempa susulan juga dirasakan cukup kuat di Manggarai Timur. 

Aktivitas tersebut berlanjut hingga 22-23 Agustus. BMKG mencatat gempa berkekuatan M5,2 pada 22 Agustus yang berlokasi sekitar 66 kilometer timur laut Manggarai Timur. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. 

Bahkan pada Minggu (23/8/2026), sejumlah gempa masih dirasakan di sekitar Manggarai. BMKG mencatat gempa magnitudo 4,0 pada pukul 10.41 WIB dengan pusat gempa di laut sekitar 42 kilometer utara Ruteng, Manggarai, pada kedalaman 10 kilometer. Gempa tersebut dirasakan dengan intensitas III-IV MMI di Kabupaten Manggarai. (BMKG)

Sebelumnya, pada 21 Agustus, BMKG juga menjelaskan bahwa rangkaian gempa di Flores merupakan aktivitas susulan dari gempa M7,7. BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan menghindari bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat gempa. 

Bantuan Tidak Hanya untuk Kebutuhan Jangka Pendek

Penyaluran bantuan Rp500 juta oleh Gus Miftah menjadi bagian dari respons kemanusiaan terhadap kebutuhan warga setelah bencana. Bantuan sembako diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama berada di pengungsian.

Sementara itu, bantuan untuk renovasi rumah ibadah memiliki fungsi yang lebih panjang. Kerusakan tempat ibadah tidak hanya menyangkut bangunan, tetapi juga fasilitas yang digunakan masyarakat untuk menjalankan aktivitas keagamaan dan sosial.

Dengan adanya bantuan renovasi, warga diharapkan dapat kembali menggunakan rumah ibadah yang mengalami kerusakan setelah dinyatakan aman untuk digunakan.

Gus Miftah menegaskan dirinya ingin melihat secara langsung kondisi masyarakat agar bantuan tidak hanya diberikan berdasarkan laporan, tetapi benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Kunjungan ke Lanting dan Manggarai Timur juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kebutuhan lanjutan para korban. Terlebih, aktivitas gempa susulan masih terjadi di kawasan Flores sehingga proses pemulihan masyarakat diperkirakan membutuhkan waktu.

Di tengah situasi tersebut, Gus Miftah berharap bantuan yang diberikan, baik dari dana pribadi maupun melalui Banpres, dapat membantu meringankan beban masyarakat NTT yang terdampak bencana serta mendukung proses pemulihan di wilayah yang mengalami kerusakan.