Harga Bitcoin Tembus $75.000, Sentimen Bullish Menguat

Harga Bitcoin Tembus $75.000, Sentimen Bullish Menguat

Harga Bitcoin naik menembus $75.000 pada Senin malam, melanjutkan pemulihan kuat yang telah mendorong harga aset kripto tersebut naik hampir 25% dari level terendah pada Februari. Kenaikan ini juga kembali memicu sentimen bullish di pasar kripto.

Kripto terbesar di dunia itu berhasil melewati level psikologis $75.000 selama jam perdagangan di Amerika Serikat, setelah beberapa minggu bergerak dalam kisaran harga yang sempit. Level ini merupakan harga tertinggi Bitcoin sejak awal Februari, sekaligus mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko di pasar global.

Sebelumnya, harga Bitcoin sempat turun ke sekitar $63.000 pada Februari ketika ketegangan geopolitik meningkat akibat Iran–Israel War. Sejak saat itu, harga mulai pulih secara bertahap seiring stabilnya kondisi makroekonomi dan kembalinya kepercayaan investor.

Dalam periode yang sama, Bitcoin juga mengungguli kinerja aset tradisional seperti Gold dan indeks saham S&P 500.

Sentimen pasar turut membaik selama akhir pekan setelah muncul tanda-tanda meredanya ketegangan di sekitar Strait of Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia. Dua kapal tanker komersial dilaporkan melewati jalur tersebut pada Minggu untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai, setelah Iran menyatakan pembatasan pelayaran hanya berlaku bagi kapal yang terkait dengan pihak lawannya.

Permintaan korporasi terhadap Bitcoin meningkat

Minat perusahaan terhadap Bitcoin juga terus meningkat. Pada Senin, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor, yaitu Strategy, mengungkapkan telah membeli 22.337 Bitcoin tambahan senilai sekitar $1,57 miliar.

Dengan pembelian tersebut, total kepemilikan Bitcoin perusahaan mencapai 761.068 BTC, dengan nilai pasar sekitar $50 miliar.

Minat institusional juga meningkat di tingkat global. Perusahaan investasi yang terdaftar di Tokyo, Metaplanet, baru-baru ini berhasil mengumpulkan sekitar $255 juta dari investor global untuk mempercepat strategi treasury Bitcoin mereka. Pendanaan tersebut bahkan bisa meningkat menjadi lebih dari $530 juta melalui penerbitan warrant tambahan untuk pembelian Bitcoin di masa depan.

Pasar masih berhati-hati

Meski harga sedang naik, sebagian pelaku pasar masih berhati-hati untuk menyebut ini sebagai breakout besar.

Bitcoin sebelumnya juga sempat mengalami beberapa kenaikan serupa selama bear market kripto 2022, sebelum akhirnya jatuh ke bawah $16.000 setelah runtuhnya bursa kripto FTX.

Saat ini, para trader fokus memantau apakah Bitcoin mampu bertahan di atas level $75.000. Jika level tersebut mampu dipertahankan, harga berpotensi naik menuju $80.000, yang sebelumnya menjadi area support penting sebelum koreksi pada awal 2026.

Sementara itu, CEO Strike, Jack Mallers, menilai struktur pasar saat ini masih mendukung akumulasi jangka panjang. Ia bahkan menyarankan investor untuk “menyalakan DCA”, yaitu strategi dollar-cost averaging, di mana investor membeli Bitcoin secara rutin dalam jumlah tetap tanpa terlalu memperhatikan fluktuasi harga.

Menurut Mallers, Bitcoin saat ini diperdagangkan di dekat area support historis penting, dan periode konsolidasi yang panjang sering kali menjadi kesempatan baik bagi investor untuk mengakumulasi aset sebelum pergerakan pasar besar berikutnya.