Harga Daging Sapi Naik, Pedagang di Pasar Gondangdia Hentikan Penjualan

Harga Daging Sapi Naik, Pedagang di Pasar Gondangdia Hentikan Penjualan

Sejumlah lapak pedagang daging sapi di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat, terpantau tutup dan tidak beroperasi pada Kamis. Kondisi tersebut merupakan dampak dari aksi mogok dagang yang dilakukan para pedagang sebagai bentuk protes atas melonjaknya harga daging sapi dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga ini dinilai semakin memberatkan pedagang maupun konsumen, terutama menjelang bulan Ramadan yang biasanya diiringi peningkatan kebutuhan pangan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, area penjualan daging sapi terlihat kosong tanpa aktivitas jual beli. Lapak-lapak yang biasanya ramai pembeli tampak tertutup, berbeda dengan pedagang ayam dan ikan yang masih melayani pelanggan seperti biasa. Sejumlah pedagang menilai harga daging sapi yang terus naik membuat minat beli masyarakat menurun drastis, sehingga mereka memilih menghentikan sementara aktivitas perdagangan.

“Tukang daging enggak buka semua, banyak yang libur. Lagi pada demo karena harganya kemahalan,” ujar Mahmud (65), pedagang ikan di Pasar Gondangdia, dikutip dari Antara, Jumat (23/1/2026).

Mahmud menjelaskan, situasi tersebut baru terjadi dalam beberapa hari terakhir, seiring harga daging sapi yang dinilai sudah tidak lagi terjangkau bagi sebagian besar pembeli pasar tradisional. Meski demikian, ia menyebut suasana Pasar Gondangdia secara umum masih cukup ramai karena masyarakat tetap berbelanja kebutuhan lain, seperti sayur, ayam, dan ikan.

Sejumlah pedagang memperkirakan aksi mogok ini bersifat sementara. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan melalui kebijakan stabilisasi harga, baik dengan memperbaiki distribusi, menambah pasokan, maupun mengendalikan harga di tingkat hulu agar aktivitas jual beli bisa kembali normal.

Pedagang Memilih Tutup Lapak

Pedagang ayam di Pasar Gondangdia, Deni (40), mengatakan bahwa sehari sebelumnya masih ada beberapa pedagang daging sapi yang tetap berjualan meski dengan harga yang relatif tinggi. Namun, pada Kamis ini, sebagian besar pedagang memutuskan menutup lapaknya sebagai bentuk solidaritas terhadap aksi mogok.

“Kemungkinan besok ada lagi (demo). Kalau kemarin sih masih jualan,” katanya.

Absennya pedagang daging sapi membuat sebagian warga terpaksa mengalihkan pilihan belanja ke sumber protein lain. Ayam dan ikan menjadi alternatif utama karena harganya relatif lebih stabil dan pasokannya masih terjaga. Kondisi ini dinilai sebagai bentuk penyesuaian konsumen di tengah tekanan harga bahan pangan.

Salah satu pembeli, Amel (27), mengaku memilih membeli ayam dan ikan karena harga daging sapi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, terlebih menjelang Ramadan yang biasanya memicu kenaikan harga bahan pokok.

“Saya ganti ke yang lain, ayam atau ikan kalau daging sapi tetap naik pas puasa,” ujarnya.

Meski demikian, tidak sedikit warga yang tetap membutuhkan daging sapi untuk konsumsi keluarga. Namun, mereka harus menyesuaikan anggaran belanja dengan membeli dalam jumlah lebih kecil.

Konsumen Tetap Beli, Tapi Lebih Sedikit

Pembeli lainnya, Nita (31), mengatakan tetap akan membeli daging sapi meski harganya mahal. Namun, ia mengurangi porsi pembelian agar tetap sesuai dengan kondisi keuangan rumah tangga.

“Kalau saya kayaknya bakal tetap beli untuk keluarga. Meski mahal, paling belinya setengah saja,” tuturnya.

Secara keseluruhan, aktivitas Pasar Gondangdia masih berjalan relatif normal meski lapak daging sapi banyak yang tutup. Warga berharap pasokan segera kembali lancar agar harga daging sapi bisa lebih terkendali dalam waktu dekat, sehingga kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa membebani daya beli.

Aksi Mogok Meluas di Jabodetabek

Sebelumnya, bandar sapi potong dan pedagang daging di pasar tradisional wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) melakukan aksi mogok dagang selama tiga hari, mulai Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026). Aksi ini menjadi sinyal kuat adanya tekanan serius di sektor perdagangan daging sapi, baik dari sisi pasokan maupun harga.

Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) DKI Jakarta, Wahyu Purnama, menyatakan bahwa aksi mogok dilakukan sebagai respons atas kenaikan harga sapi hidup dan daging sapi yang semakin memberatkan masyarakat, khususnya kalangan menengah ke bawah serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti pedagang warung makan.

Menurutnya, tanpa intervensi kebijakan yang jelas, lonjakan harga berpotensi berlanjut dan memicu penurunan konsumsi daging sapi di masyarakat. Oleh karena itu, APDI mendesak pemerintah pusat untuk segera mengambil langkah konkret, mulai dari pengawasan rantai distribusi, penguatan stok nasional, hingga evaluasi kebijakan impor dan tata niaga sapi.

Pihak pedagang juga meminta Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, untuk segera turun tangan guna meredam gejolak harga dan memastikan stabilitas pasokan daging sapi, terutama menjelang periode Ramadan dan Idulfitri yang biasanya diiringi lonjakan permintaan.