Harga Emas Antam Hari Ini 5 Agustus 2026 Turun Rp 4.000, Cek Rincian Lengkapnya

Harga Emas Antam Hari Ini 5 Agustus 2026 Turun Rp 4.000, Cek Rincian Lengkapnya

Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali melanjutkan tren koreksi pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Berdasarkan data terbaru, harga emas Antam turun Rp4.000 per gram dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya. Penurunan ini memperpanjang pelemahan yang telah terjadi dalam dua hari terakhir, sehingga akumulasi koreksi mencapai Rp11.000 per gram.

Mengacu pada laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini dipatok sebesar Rp2.599.000 per gram, turun dari posisi Rp2.603.000 per gram pada Selasa (4/8/2026). Meski mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir, harga emas domestik masih bertahan di level yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata harga sepanjang tahun lalu.

Sementara itu, harga buyback atau harga pembelian kembali emas Antam juga ikut terkoreksi sebesar Rp4.000 menjadi Rp2.370.000 per gram, dari sebelumnya Rp2.374.000 per gram. Harga buyback merupakan harga yang diterima pemilik emas apabila menjual kembali logam mulia kepada Antam.

Selisih antara harga jual dan harga buyback masih menjadi perhatian investor, terutama bagi mereka yang berinvestasi dalam jangka pendek. Sebab, keuntungan baru dapat diperoleh apabila harga emas naik cukup signifikan untuk menutup selisih tersebut.

Harga emas Antam sendiri bersifat fluktuatif karena mengikuti pergerakan harga emas dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta kondisi permintaan dan penawaran di pasar domestik. Oleh karena itu, harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar global.

Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 29 Januari 2026, ketika mencapai Rp3.168.000 per gram, sementara harga buyback berada di level Rp2.989.000 per gram. Artinya, dibandingkan rekor tersebut, harga emas saat ini masih lebih rendah sekitar Rp569.000 per gram, mencerminkan fase konsolidasi setelah sempat mencetak level tertinggi.

Meski demikian, banyak pelaku pasar menilai koreksi harga emas saat ini masih tergolong wajar setelah reli panjang yang terjadi sepanjang tahun. Investor jangka panjang umumnya memanfaatkan penurunan harga sebagai momentum untuk melakukan akumulasi pembelian secara bertahap.

Rincian Harga Emas Antam

  • 0,5 gram: Rp1.349.500
  • 1 gram: Rp2.599.000
  • 2 gram: Rp5.148.000
  • 3 gram: Rp7.704.000
  • 5 gram: Rp12.810.000
  • 10 gram: Rp25.540.000
  • 25 gram: Rp63.685.000
  • 50 gram: Rp127.205.000
  • 100 gram: Rp254.260.000
  • 250 gram: Rp635.340.000 (pre-order)
  • 500 gram: Rp1.270.400.000 (pre-order)
  • 1.000 gram: Rp2.539.600.000 (pre-order)

Harga Emas Dunia Masih Menguat

Di tengah pelemahan harga emas Antam, harga emas dunia justru mencatat kenaikan pada perdagangan Selasa (4/8/2026) waktu setempat atau Rabu pagi WIB. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global, serta berubahnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,6% menjadi US$4.078,10 per ons, sedangkan kontrak emas berjangka menguat 1,1% ke level US$4.134,60 per ons.

Penguatan harga emas terjadi ketika investor kembali meningkatkan kepemilikan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Selain itu, pasar juga masih menunggu sinyal lebih jelas mengenai langkah The Fed pada pertemuan kebijakan berikutnya.

Harga Minyak dan Suku Bunga Jadi Sorotan

Di sisi lain, harga minyak dunia memangkas penguatannya setelah Qatar menyampaikan bahwa upaya diplomatik untuk meredakan konflik antara AS dan Iran masih terus berlangsung. Meski demikian, gangguan terhadap jalur pelayaran utama masih menjadi perhatian pasar energi.

Harga minyak mentah Brent bahkan sempat turun lebih dari 4% setelah kabar tersebut. Menurut Global Head of Commodity Strategy TD Securities Bart Melek, pelemahan harga minyak turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap inflasi dan prospek suku bunga.

Ia menjelaskan bahwa turunnya harga energi dapat mengurangi tekanan inflasi, sehingga mendorong ekspektasi bahwa suku bunga jangka pendek tidak perlu dinaikkan secara agresif. Kondisi seperti ini umumnya menjadi sentimen positif bagi emas karena menurunkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Namun demikian, selama inflasi masih berada di atas target bank sentral, ruang penguatan emas diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter AS.

Pasar Menanti Data Ekonomi AS

Pelaku pasar saat ini juga menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah harga emas dalam jangka pendek.

Salah satunya adalah laporan ketenagakerjaan ADP Employment Change yang dijadwalkan dirilis pada Rabu, disusul data Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat. Kedua data tersebut akan menjadi acuan utama bagi investor untuk memperkirakan langkah The Fed pada pertemuan September mendatang.

Sebelumnya, Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyampaikan bahwa tekanan inflasi diperkirakan akan terus menurun secara bertahap. Namun, ia menegaskan bahwa bank sentral tetap siap menaikkan suku bunga apabila inflasi kembali menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan perhitungan pelaku pasar, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September saat ini berada di kisaran 61%, meski keputusan akhirnya akan sangat bergantung pada data inflasi dan ketenagakerjaan yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.

Bart Melek menambahkan, setiap indikator yang menunjukkan perlambatan ekonomi AS berpotensi menjadi katalis positif bagi harga emas. Menurutnya, pelemahan ekonomi dapat mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.

Ke depan, pergerakan harga emas Antam diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi beberapa faktor, mulai dari dinamika harga emas global, arah kebijakan suku bunga The Fed, perkembangan konflik geopolitik, pergerakan dolar AS, hingga nilai tukar rupiah. Selama ketidakpastian global masih tinggi, emas diperkirakan tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak dilirik investor sebagai aset pelindung nilai (safe haven), meskipun dalam jangka pendek volatilitas harga masih berpotensi terjadi.