Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen: Airlangga Beberkan 3 Syarat Kunci dan 4 Strategi Pemerintah

Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen: Airlangga Beberkan 3 Syarat Kunci dan 4 Strategi Pemerintah

Pemerintah membidik target ambisius bagi laju pertumbuhan ekonomi nasional. Indonesia ditargetkan mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027 sebelum dipacu hingga menembus 8 persen dalam jangka menengah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa lompatan target tersebut menuntut pemenuhan tiga prasyarat mendasar di sektor riil dan perdagangan.

"Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2027 menuju 8 persen dalam jangka menengah, tiga syarat utama. Pertama, investasi harus tumbuh lebih cepat daripada PDB; kedua, produktivitas dan kualitas SDM meningkat; dan ketiga yakni ekspor harus semakin bernilai tambah dan logistik semakin efisien," ujar Airlangga dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

3 Syarat Utama Menuju Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

Untuk keluar dari jebakan pertumbuhan moderat dan melesat ke level 8 persen, pemerintah menetapkan tiga pilar prasyarat:

  1. Investasi Tumbuh Melampaui PDB: Laju penanaman modal harus berputar lebih kencang dibanding pertumbuhan Produk Domestik Bruto guna memperluas kapasitas produksi nasional.
  2. Kualitas dan Produktivitas SDM: Peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal agar sejalan dengan kebutuhan industri masa depan.
  3. Ekspor Bernilai Tambah dan Efisiensi Logistik: Mengurangi ekspor bahan mentah melalui hilirisasi berkelanjutan sekaligus menekan biaya logistik nasional.

Target akselerasi ini dirancang di tengah tiga tantangan geopolitik dan ekonomi global yang masih membayangi, yakni:

  • Lonjakan harga energi dunia akibat ketegangan geopolitik.
  • Meningkatnya gelombang proteksionisme perdagangan internasional.
  • Tingginya volatilitas dan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Fundamental Domestik Tetap Solid

Meski dinamika global belum menentu, Airlangga menilai fondasi ekonomi domestik tetap berada pada trayek yang tangguh. Sejumlah indikator utama sepanjang 2026 menunjukkan tren positif:

  • Pertumbuhan Ekonomi: Realisasi Semester I-2026 tumbuh kokoh di angka 5,45 persen (year-on-year).
  • Pengendalian Inflasi: Angka inflasi per Agustus 2026 terjaga stabil di level 3,19 persen.
  • Realisasi Investasi: Arus modal masuk telah menembus Rp1.010,6 triliun.

Untuk menjaga momentum tersebut, bauran kebijakan nasional 2027 akan ditopang sinergi tiga pilar: fiskal sebagai katalisator belanja, moneter sebagai jangkar stabilitas nilai tukar dan harga, serta investasi sebagai penggerak penciptaan lapangan kerja.

4 Strategi Pamungkas Pemerintah Tutup Celah Target

Pemerintah menyiapkan empat langkah terobosan untuk mengakselerasi target pertumbuhan ekonomi:

  • Deregulasi dan Debottlenecking: Mengoptimalkan implementasi PP Nomor 28 Tahun 2025 dan Keppres Nomor 4 Tahun 2026 guna memangkas hambatan perizinan.
  • Penguatan Investasi Strategis: Mengakselerasi peran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Danantara, serta skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
  • Akselerasi SDM Vokasi: Mempercepat program magang industri dan kurikulum vokasi berbasis kebutuhan pasar kerja.
  • Ekspansi Pasar Luar Negeri: Memaksimalkan 25 perjanjian dagang aktif, menuntaskan negosiasi 13 perjanjian baru, serta mempercepat proses aksesi Indonesia menuju OECD dan CPTPP.

Penguatan Ekonomi Digital, AI, dan Iklim Usaha

Sebagai motor pertumbuhan baru, Indonesia mempertegas posisinya sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara sekaligus menjadi salah satu pendiri (founding member) World AI Cooperation Organization (WAICO) bersama 28 negara.

Dari sisi kepastian usaha, sistem Online Single Submission (OSS) kini diperkuat dengan batas waktu penerbitan izin berbasis Service Level Agreement (SLA). Di saat yang sama, sektor padat karya seperti Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) tetap diprioritaskan guna menjaga daya serap tenaga kerja.

"Kita memiliki pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang kuat, bonus demografi, basis industri yang terus berkembang, serta posisi strategis di kawasan. Arah kebijakan ke depan tetap berfokus pada investasi berkualitas, hilirisasi, peningkatan produktivitas, penguatan daya saing, serta perluasan akses pasar," pungkas Airlangga.