Harga Emas Melemah Dua Minggu Berturut-turut, Pasar Fokus ke Kebijakan The Fed
Harga Emas Turun Dua Pekan Beruntun, Investor Tunggu Keputusan The Fed dan Arah Suku Bunga AS
Harga emas global bergerak menuju penurunan mingguan kedua secara berturut-turut pada perdagangan Jumat, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) akan bertahan di level tinggi lebih lama. Tekanan terhadap logam mulia semakin kuat menjelang rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Mengutip data CNBC pada Sabtu (13/6/2026), harga emas spot tercatat relatif stabil di level US$ 4.225,73 per ounce, namun secara akumulatif masih melemah sekitar 2,4% sepanjang pekan ini. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru ditutup naik 3% ke level US$ 4.238,80 per ounce, menunjukkan masih adanya aktivitas beli jangka pendek dari sebagian investor.
Pelaku pasar kini tengah mengantisipasi arah kebijakan The Fed yang dinilai akan menjadi faktor utama penentu pergerakan emas dalam beberapa pekan ke depan. Ekspektasi bahwa bank sentral AS belum akan memangkas suku bunga, bahkan masih membuka peluang kenaikan tambahan, membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset safe haven seperti emas.
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menilai tekanan terhadap harga emas masih berkaitan erat dengan kekhawatiran inflasi yang belum sepenuhnya terkendali di AS.
“Saya pikir inflasi akan bertahan untuk beberapa waktu, bahkan jika harga minyak turun. Kita sudah pernah melihat situasi seperti ini sebelumnya, dan pasar masih menyimpan tingkat skeptisisme tertentu,” ujar Grant.
Selain faktor suku bunga, sentimen pasar global juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak dunia anjlok lebih dari 2% setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran berpotensi menandatangani memorandum kesepakatan guna menghentikan ketegangan konflik di kawasan Teluk Persia.
Sejumlah sumber diplomatik menyebutkan kesepakatan tersebut bisa ditandatangani paling cepat pada Minggu mendatang, dengan Jenewa, Swiss, disebut sebagai lokasi yang paling mungkin dipilih untuk pertemuan kedua negara.
Namun demikian, kantor berita Iran, Fars News Agency, membantah rumor tersebut setelah mengutip sumber yang disebut dekat dengan proses negosiasi. Ketidakpastian ini membuat volatilitas di pasar komoditas kembali meningkat.
Sejak konflik di kawasan Teluk memanas pada akhir Februari lalu, harga emas beberapa kali mengalami tekanan akibat kekhawatiran investor bahwa lonjakan harga energi akan memperburuk inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi memaksa bank-bank sentral, terutama The Fed, mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Daya Tarik Emas Mulai Berkurang
Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai atau hedging terhadap inflasi. Namun dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tarik emas biasanya menurun karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah atau instrumen pendapatan tetap lainnya.
Berdasarkan data terbaru dari CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan terdapat 57% peluang Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun 2026, naik dibandingkan proyeksi bulan sebelumnya.
Sejumlah data ekonomi AS yang dirilis sepanjang pekan ini semakin memperkuat ekspektasi tersebut. Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) pada Mei tercatat naik lebih tinggi dari proyeksi analis, sementara inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) kembali meningkat dan bertahan di atas level 4% secara tahunan.
Data pasar tenaga kerja AS juga masih menunjukkan ketahanan ekonomi. Klaim pengangguran mingguan tetap berada di level rendah, sementara pertumbuhan upah masih cukup kuat. Kondisi ini memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama tanpa khawatir menekan ekonomi terlalu dalam.
Perhatian investor kini tertuju pada rapat kebijakan Federal Reserve yang akan berlangsung pada 16–17 Juni 2026. Pertemuan tersebut menjadi rapat penting karena merupakan pertemuan pertama yang dipimpin Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, setelah menggantikan Jerome Powell beberapa bulan lalu.
Meski pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini, investor akan mencermati pernyataan resmi The Fed untuk mencari petunjuk terkait arah kebijakan pada semester kedua tahun ini.
UBS Pangkas Proyeksi Harga Emas
Di tengah meningkatnya tekanan pasar, bank investasi global UBS turut merevisi proyeksi harga emas dalam jangka pendek. UBS memperingatkan bahwa tertundanya pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dapat menekan harga emas lebih dalam.
Dalam laporan terbarunya, UBS memperkirakan harga emas berpotensi turun ke kisaran US$ 3.850 hingga US$ 4.000 per ounce dalam beberapa bulan ke depan apabila tekanan inflasi AS tetap tinggi dan bank sentral menunda perubahan kebijakan.
Sejumlah analis komoditas lainnya juga mulai memperingatkan potensi koreksi lanjutan. Goldman Sachs dalam catatan pasar terbarunya menyebut bahwa penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Treasury menjadi dua faktor utama yang dapat terus membatasi ruang kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Meski demikian, sebagian investor jangka panjang masih melihat emas sebagai aset defensif, terutama jika ketegangan geopolitik global kembali meningkat atau ekonomi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan pada paruh kedua 2026.
Untuk saat ini, pasar emas diperkirakan akan bergerak sangat sensitif terhadap keputusan The Fed pekan depan. Arah kebijakan suku bunga AS dipandang menjadi faktor paling menentukan apakah harga emas mampu bertahan di atas level psikologis US$ 4.200 per ounce, atau justru melanjutkan tren koreksi lebih dalam menuju area support berikutnya.
0 Comments