Harga Minyak Melemah 6% Sepekan, Ketegangan Selat Hormuz Mulai Mereda
Harga Minyak Dunia Turun Tajam, Pasar Sambut Peluang Kesepakatan AS-Iran Soal Selat Hormuz
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (13/6) setelah muncul sinyal positif terkait negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang disebut semakin dekat mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur distribusi energi paling strategis di dunia.
Sentimen tersebut langsung memicu aksi jual di pasar energi global karena investor menilai potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah mulai mereda setelah beberapa bulan terakhir ketegangan geopolitik mendorong harga minyak melonjak tajam.
Meski demikian, seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump menegaskan bahwa hasil akhir dari pembicaraan antara Washington dan Teheran masih belum sepenuhnya pasti, mengingat masih terdapat sejumlah isu sensitif yang belum mencapai titik temu.
Mengutip CNBC, Sabtu (13/6/2026), kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup turun 3,2% ke level US$ 84,88 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent mengalami penurunan lebih dalam sebesar 3,4% ke posisi US$ 87,33 per barel.
Secara akumulatif selama sepekan terakhir, harga minyak global telah terkoreksi sekitar 6%. Kendati demikian, dibandingkan posisi sebelum konflik Timur Tengah kembali memanas pada akhir Februari lalu, harga minyak masih berada lebih dari 20% lebih tinggi.
Analis menilai koreksi harga minyak kali ini mencerminkan optimisme pasar terhadap kemungkinan meredanya salah satu konflik geopolitik paling berpengaruh terhadap rantai pasok energi dunia.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. Sekitar 20% hingga 25% pasokan minyak global atau hampir 20 juta barel per hari melewati kawasan tersebut, termasuk ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, hingga Iran.
Ketika akses jalur ini terganggu, pasar energi global biasanya langsung merespons dengan lonjakan harga karena kekhawatiran terhadap gangguan distribusi.
Peluang Kesepakatan Dinilai Capai 80%
Menurut pejabat pemerintahan Trump, peluang tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari mendatang sudah mencapai 80%.
“Belum 100 persen. Sistem mereka sangat rumit. Sebagian besar orang yang kami ajak berbicara dan sebagian besar pihak yang memiliki kewenangan di dalam sistem mereka ingin menandatangani kesepakatan ini, tetapi tidak semuanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rancangan kesepakatan tersebut akan mencakup beberapa poin utama, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut AS, penghentian serta pembongkaran sebagian program nuklir Iran, hingga pemindahan uranium yang telah diperkaya ke lokasi yang diawasi secara internasional.
Sebagai imbalannya, Iran akan memperoleh sejumlah insentif ekonomi dalam skala besar apabila mematuhi seluruh ketentuan yang telah disepakati.
Insentif itu diperkirakan mencakup pencabutan sebagian sanksi ekonomi, pembukaan kembali akses perdagangan internasional, hingga peluang pemulihan ekspor minyak Iran yang selama beberapa tahun terakhir terhambat oleh embargo Barat.
Isi Dokumen Kesepakatan Versi Iran Berbeda
Meski pasar merespons positif kabar negosiasi tersebut, muncul ketidakpastian baru setelah rincian dokumen kesepakatan versi Washington ternyata berbeda dengan dokumen yang lebih dulu dipublikasikan kantor berita pemerintah Iran, Mehr.
Dalam dokumen versi Iran disebutkan bahwa AS akan menarik pasukan militer dari wilayah sekitar Iran, menghentikan blokade laut dalam waktu 30 hari, serta memberikan dana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar.
Iran juga disebut akan membuka kembali Selat Hormuz dalam jangka waktu 30 hari, namun dengan aturan navigasi yang tetap berada di bawah kendali Teheran.
Pejabat AS langsung membantah isi dokumen tersebut.
Menurutnya, kelompok garis keras di Iran sengaja membingkai isi kesepakatan seolah lebih menguntungkan Teheran demi kepentingan politik domestik di dalam negeri.
Presiden Donald Trump pun ikut merespons keras dokumen yang beredar tersebut.
“Ketentuan yang dibocorkan Iran kepada media berita palsu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ketentuan yang telah disepakati secara tertulis,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Trump juga kembali melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah Iran. Ia menilai Teheran tidak menunjukkan itikad baik dalam proses negosiasi dan masih berupaya memainkan tekanan politik di tengah pembicaraan berlangsung.
Ketegangan Militer Masih Membayangi Pasar
Di tengah proses negosiasi yang sedang berlangsung, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih jauh dari stabil.
Trump menuduh Iran meluncurkan pesawat nirawak atau drone yang menyerang sebuah kapal India pada malam sebelumnya. Insiden tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran bahwa eskalasi militer sewaktu-waktu masih dapat terjadi meskipun pembicaraan damai terus berjalan.
“Mereka harus segera membereskan situasi mereka,” tegas Trump.
Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai memantau respons negara-negara anggota OPEC+, khususnya Arab Saudi dan Rusia, yang sebelumnya telah menyesuaikan kebijakan produksi untuk menjaga stabilitas harga di tengah lonjakan geopolitik beberapa bulan terakhir.
Jika Selat Hormuz benar-benar kembali dibuka penuh dan sanksi terhadap Iran mulai dilonggarkan, analis memperkirakan tambahan pasokan minyak dari Iran dapat kembali masuk pasar global dalam jumlah signifikan.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) sebelumnya memperkirakan Iran memiliki kapasitas produksi lebih dari 3 juta barel minyak per hari, sehingga kembalinya ekspor Iran berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak dunia dalam beberapa bulan ke depan.
Investor kini menunggu perkembangan final negosiasi AS-Iran yang diperkirakan menjadi salah satu faktor penentu arah pasar energi global pada semester kedua 2026.
0 Comments