Kenaikan Tarif Energi Picu Kekhawatiran di Industri Manufaktur

Kenaikan Tarif Energi Picu Kekhawatiran di Industri Manufaktur

Biaya Energi Jadi Tantangan Terbesar Industri Manufaktur, Transisi ke Energi Hijau Kian Mendesak

Tekanan biaya energi kini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor manufaktur nasional. Kenaikan tarif energi dalam beberapa tahun terakhir, ditambah tuntutan efisiensi di tengah perlambatan ekonomi global, membuat pelaku industri mulai mencari strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing.

Pada industri tekstil, misalnya, biaya listrik diketahui dapat menyumbang sekitar 15–25 persen dari total biaya produksi. Kondisi ini membuat efisiensi energi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlanjutan bisnis, terutama bagi perusahaan yang berorientasi ekspor.

CEO Trivigo, Kunadi Setiadi mengatakan, di tengah persaingan ekspor yang semakin ketat, efisiensi energi kini tidak lagi sekadar upaya penghematan biaya operasional, melainkan faktor yang secara langsung memengaruhi margin usaha dan kemampuan perusahaan memenangkan pasar internasional.

“Pabrik tidak bangkrut dalam semalam karena tagihan listrik. Namun margin akan terus menyempit dari tahun ke tahun sampai suatu saat perusahaan menyadari bahwa mereka sudah tidak lagi kompetitif. Energi menjadi fondasi utama daya saing industri,” kata Kunadi, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Kunadi, persoalan biaya energi saat ini menjadi perhatian besar pelaku industri manufaktur, terutama sektor tekstil yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan berat akibat perlambatan permintaan global, meningkatnya biaya bahan baku, serta ketatnya persaingan dari negara produsen seperti Vietnam, Bangladesh, dan China.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih menjadi salah satu sektor strategis nasional dengan kontribusi besar terhadap ekspor manufaktur Indonesia. Namun, daya saing sektor ini terus menghadapi tantangan akibat struktur biaya produksi yang semakin tinggi, termasuk beban energi yang terus meningkat.

Kunadi menilai masih banyak perusahaan yang belum melihat persoalan energi secara strategis. Ia menepis anggapan bahwa investasi energi surya atau energi terbarukan masih terlalu mahal bagi industri.

Menurutnya, banyak pelaku usaha masih terlalu fokus pada biaya investasi awal tanpa mempertimbangkan manfaat jangka panjang yang dapat diperoleh perusahaan dari efisiensi energi.

“Pertanyaan yang benar bukan berapa biaya pemasangannya, tetapi berapa biaya yang harus ditanggung jika kita tidak melakukannya. Dengan kondisi teknologi dan skema pembiayaan saat ini, banyak proyek dapat mencapai pengembalian investasi dalam empat hingga enam tahun, sementara manfaat penghematan bisa dinikmati hingga puluhan tahun berikutnya,” jelasnya.

Selain efisiensi biaya, tren global saat ini juga semakin mendorong perusahaan manufaktur untuk memperhatikan aspek keberlanjutan dalam proses produksi.

Pemanfaatan Energi Terbarukan Semakin Dibutuhkan

Sejalan dengan meningkatnya tekanan biaya energi, tuntutan pasar global terhadap produk rendah karbon, serta semakin terbukanya peluang pemanfaatan energi terbarukan mendorong industri manufaktur Indonesia mempercepat transisi menuju energi hijau.

Kunadi menegaskan bahwa saat ini terdapat tiga faktor besar yang bergerak secara bersamaan dan menjadi momentum terbaik bagi industri untuk mulai beralih ke energi hijau. Menurutnya, dukungan regulasi yang semakin terbuka, harga teknologi panel surya yang semakin terjangkau, serta tuntutan pasar global terhadap jejak karbon produk Indonesia menjadi kombinasi yang jarang terjadi dalam satu waktu.

“Ada tiga hal yang jarang sekali bergerak bersamaan, dan ketiganya sedang bergerak sekarang. Regulasi semakin mendukung, harga teknologi semakin kompetitif, dan tekanan pasar global terhadap jejak karbon semakin nyata. Ketika ketiga faktor ini sudah sejajar, menunda keputusan justru menjadi kerugian yang kita pilih sendiri,” ujar Kunadi.

Dorongan menuju energi hijau juga semakin kuat setelah sejumlah negara tujuan ekspor mulai menerapkan kebijakan perdagangan berbasis emisi karbon. Uni Eropa, misalnya, secara bertahap mulai memberlakukan mekanisme Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), yaitu kebijakan yang mengenakan biaya tambahan terhadap produk impor dengan tingkat emisi karbon tinggi.

Kebijakan tersebut diperkirakan akan berdampak langsung terhadap industri manufaktur Indonesia yang selama ini bergantung pada pasar ekspor, termasuk sektor baja, aluminium, semen, pupuk, hingga tekstil.

Di sisi lain, harga teknologi energi surya global juga terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Laporan International Energy Agency (IEA) menunjukkan biaya pemasangan panel surya secara global telah turun signifikan dibandingkan satu dekade lalu, sehingga semakin membuka peluang bagi industri untuk berinvestasi pada energi bersih.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan peningkatan porsi energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional sebagai bagian dari komitmen transisi energi dan pencapaian target net zero emission pada 2060.

Pelaku industri menilai langkah adaptasi terhadap energi hijau kini bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

Dengan tekanan biaya energi yang terus meningkat, persaingan global yang semakin ketat, serta tuntutan pasar internasional terhadap produk ramah lingkungan, perusahaan manufaktur dinilai perlu mulai mempercepat transformasi agar tidak kehilangan daya saing di masa depan.