Harga Emas Turun 11% dalam Sepekan, Ini Penyebabnya

Harga Emas Turun 11% dalam Sepekan, Ini Penyebabnya

Harga Emas Anjlok Meski Konflik Iran Memanas, Ini Penjelasan Lengkapnya

Ketegangan geopolitik akibat konflik dengan Iran telah mengganggu aliran minyak global, merusak infrastruktur energi, serta meningkatkan kekhawatiran akan konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini biasanya mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas. Namun yang terjadi justru sebaliknya—harga emas mengalami penurunan tajam.

Mengutip laporan CNN pada Sabtu (21/3/2026), harga emas turun sekitar 11% dalam sepekan, mencatat penurunan mingguan terbesar sejak 1983. Bahkan sejak konflik dimulai, harga emas telah merosot lebih dari 14%. Pada penutupan perdagangan Jumat, 20 Maret 2026, harga emas tercatat turun 0,7% ke level USD 4.574,90 per ounce.

Safe Haven Tak Lagi Jadi Pilihan Utama?

Dalam situasi krisis global, emas biasanya menjadi pilihan utama investor untuk melindungi nilai aset. Logam mulia ini dikenal sebagai “safe haven” karena cenderung bertahan saat inflasi tinggi, mata uang melemah, atau terjadi gejolak ekonomi.

Namun kali ini, dinamika pasar berubah. Alih-alih membeli emas, investor justru beralih ke instrumen lain yang dianggap lebih menguntungkan dalam kondisi saat ini.

Peran Suku Bunga dan Kebijakan The Fed

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS tersebut akan mempertahankan suku bunga tinggi sepanjang 2026.

Berdasarkan data dari CME Group melalui indikator FedWatch, kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat sangat kecil. Bahkan, The Fed telah menahan suku bunga tetap stabil dalam dua pertemuan terakhir.

Kondisi ini membuat instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Sebab, emas tidak memberikan bunga atau dividen, sehingga biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi lebih tinggi saat suku bunga naik.

Economic Strategist dari Fundstrat, Hardika Singh, menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi menjadi faktor utama di balik penurunan harga emas baru-baru ini.

Lonjakan Dolar AS Tekan Harga Emas

Selain suku bunga, penguatan dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor penting. Sejak konflik dimulai, indeks dolar AS tercatat naik hampir 2%, mengakhiri tren pelemahan dalam beberapa bulan sebelumnya.

Karena harga emas diperdagangkan dalam dolar AS, penguatan mata uang ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor global. Akibatnya, permintaan emas pun menurun.

Sebaliknya, emas biasanya lebih diminati saat dolar melemah karena harganya menjadi relatif lebih murah bagi pembeli di luar AS.

Dampak Harga Energi dan Inflasi Global

Konflik di Timur Tengah juga memicu lonjakan harga energi, terutama minyak. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi global kembali meningkat.

Hal ini membuat banyak bank sentral dunia mengambil sikap hati-hati dengan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Salah satu contohnya adalah Reserve Bank of Australia yang mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter.

Kondisi ini semakin menekan harga emas karena lingkungan suku bunga tinggi cenderung tidak menguntungkan bagi logam mulia.

Perubahan Perilaku Investor Global

Selain faktor makroekonomi, perubahan perilaku investor juga berperan. Banyak investor kini lebih memilih aset likuid dan berimbal hasil tinggi, seperti obligasi atau dolar AS, dibandingkan emas.

Di sisi lain, sebagian investor juga memindahkan dana ke pasar energi dan komoditas lain yang dianggap lebih diuntungkan dari konflik geopolitik.

Prospek Harga Emas ke Depan

Ke depan, pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada beberapa faktor utama, antara lain:

  • Arah kebijakan suku bunga The Fed
  • Pergerakan dolar AS
  • Stabilitas geopolitik di Timur Tengah
  • Tren inflasi global

Jika konflik semakin meluas atau terjadi krisis finansial baru, emas masih berpotensi kembali menguat sebagai aset lindung nilai. Namun selama suku bunga tetap tinggi dan dolar kuat, tekanan terhadap harga emas kemungkinan masih akan berlanjut.