Harga Minyak Dunia Melonjak, Brent Tembus US$104 per Barel akibat Konflik Iran
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan ancaman Badai Isaias di Teluk Meksiko. Serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global.
Mengutip CNBC pada Jumat (9/10/2026), harga minyak mentah Brent naik 4% dan ditutup pada level US$104,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 3,6% menjadi US$91,49 per barel.
Kenaikan harga minyak ini terjadi karena pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan, terutama akibat konflik yang melibatkan Iran dan ancaman terhadap jalur pengiriman minyak internasional.
Serangan Kapal Tanker di Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Minyak
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Selama sepekan terakhir, sembilan kapal tanker dilaporkan mengalami serangan di dalam dan sekitar selat tersebut.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke berbagai negara.
Berdasarkan data Kpler, sekitar 9,5 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz selama pekan yang berakhir pada Selasa. Jumlah tersebut masih sekitar 30% lebih rendah dibandingkan tingkat normal sebelum perang Iran.
Sementara itu, total aliran minyak mentah dari Timur Tengah, termasuk pasokan yang dialihkan melalui jalur pipa, mencapai 16,4 juta barel per hari. Angka ini hampir menyamai tingkat sebelum perang.
Meski arus pengiriman minyak mulai pulih, risiko serangan masih menjadi perhatian pelaku pasar. Gangguan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut dapat meningkatkan biaya transportasi dan menghambat distribusi minyak dunia.
Pernyataan Donald Trump Redam Kenaikan Harga Minyak
Harga minyak sempat turun dari level tertingginya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum sela pada November.
Pernyataan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terjadinya serangan militer dalam waktu dekat.
Sebelumnya, NBC News melaporkan bahwa Trump bersama tim keamanan nasionalnya sedang mempertimbangkan kemungkinan melancarkan kembali serangan terhadap Iran dalam beberapa minggu mendatang. Laporan tersebut mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.
Perbedaan informasi mengenai kemungkinan tindakan militer AS membuat situasi geopolitik tetap menjadi perhatian investor. Ketidakpastian tersebut dapat memicu perubahan harga minyak karena pelaku pasar terus memperhitungkan risiko gangguan pasokan.
Badai Isaias Ganggu Produksi Minyak di Teluk Meksiko
Selain konflik Timur Tengah, ancaman Badai Isaias turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Perusahaan-perusahaan minyak di Teluk Meksiko telah menghentikan produksi sekitar 500.000 barel minyak per hari akibat badai yang bergerak menuju pesisir Alabama, Mississippi, dan wilayah panhandle Florida.
Jumlah produksi yang dihentikan tersebut setara dengan sekitar 25% dari total produksi minyak lepas pantai di kawasan Teluk Meksiko.
Penghentian produksi akibat cuaca ekstrem dapat mengurangi pasokan minyak dalam jangka pendek. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pasar yang sebelumnya sudah menghadapi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
Kombinasi gangguan produksi di Amerika Serikat dan risiko pengiriman minyak dari Timur Tengah membuat pasar semakin sensitif terhadap perkembangan terbaru.
Serangan Houthi Tingkatkan Ketegangan di Timur Tengah
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah juga memburuk setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, meluncurkan rudal ke arah bandara di Riyadh dan kota Abha pada Selasa dan Rabu.
Menurut laporan media milik negara Arab Saudi, Al Arabiya, serangan tersebut menewaskan tiga orang dan menyebabkan 36 orang lainnya terluka.
Pada Kamis, militer Arab Saudi juga menyatakan telah mencegat sejumlah rudal balistik yang ditembakkan ke arah Riyadh dan Khamis Mushait.
Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap meluasnya konflik di kawasan tersebut. Investor turut mencermati kemungkinan dampaknya terhadap infrastruktur energi dan jalur perdagangan minyak internasional.
Arab Saudi merupakan salah satu produsen minyak utama dunia. Karena itu, peningkatan risiko keamanan di kawasan tersebut dapat memengaruhi sentimen pasar, terutama jika berpotensi mengganggu produksi atau distribusi minyak.
Risiko Pengiriman Minyak Masih Menjadi Perhatian Pasar
Direktur Strategi Komoditas TD Securities, Ryan McKay, menilai bahwa pemulihan arus pelayaran di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya menghilangkan risiko terhadap pasokan minyak.
Menurut McKay, kebutuhan akan pengawalan Angkatan Laut AS, kenaikan biaya, hambatan logistik, dan ancaman serangan yang masih berlangsung menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan pengiriman minyak melalui kawasan tersebut.
Ia menilai kondisi itu membuat premi risiko tetap perlu diperhitungkan dalam harga minyak.
Premi risiko merupakan tambahan nilai yang tercermin dalam harga komoditas akibat ketidakpastian atau potensi gangguan pasokan. Dalam situasi geopolitik yang memanas, harga minyak dapat meningkat meskipun belum terjadi kehilangan pasokan dalam jumlah besar.
Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global. Jika pengiriman melalui kawasan tersebut kembali terganggu, pasokan minyak ke pasar internasional berpotensi semakin terbatas.
Prospek Harga Minyak Dunia Masih Dibayangi Ketidakpastian
Kenaikan harga Brent ke atas US$104 per barel menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi faktor penting dalam pergerakan pasar minyak dunia.
Dalam jangka pendek, investor akan mencermati perkembangan konflik Iran, keamanan kapal tanker di Selat Hormuz, serta dampak Badai Isaias terhadap produksi minyak Amerika Serikat.
Pernyataan pemerintah AS mengenai kemungkinan tindakan militer juga berpotensi memengaruhi sentimen pasar.
Apabila gangguan pasokan berlanjut, harga minyak berpeluang tetap mendapat tekanan naik. Sebaliknya, pemulihan jalur pelayaran dan meredanya ketegangan geopolitik dapat mengurangi kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan minyak.
Dengan berbagai risiko tersebut, pergerakan harga minyak dunia masih akan sangat bergantung pada perkembangan situasi keamanan dan kelancaran distribusi energi global.
0 Comments