Harga Minyak Dunia Naik 7% Usai Kapal Tanker Arab Saudi Diserang
Harga Minyak Dunia Tembus US$ 100 per Barel, Memanasnya Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Global
Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (23/7/2026) setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan terhadap kapal tanker minyak di Laut Merah dan meningkatnya ancaman militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi global mendorong investor memburu aset komoditas, sehingga harga minyak menembus level psikologis US$ 100 per barel.
Mengutip CNBC, Jumat (24/7/2026), harga minyak Brent melonjak sekitar 7% dan ditutup di level US$ 100,69 per barel. Ini merupakan kali pertama Brent diperdagangkan di atas US$ 100 sejak 26 Mei 2026. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 6% dan ditutup pada US$ 92,19 per barel.
Secara bulanan, harga minyak telah melonjak lebih dari 30% sepanjang Juli. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan global akibat meluasnya konflik di Timur Tengah, yang merupakan salah satu kawasan penghasil minyak terbesar di dunia.
Sentimen pasar semakin memburuk setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi menggunakan drone dan rudal. Kelompok tersebut menyatakan serangan dilakukan karena kapal-kapal itu dianggap melanggar blokade maritim yang mereka umumkan terhadap Riyadh.
Insiden tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa jalur pelayaran strategis di Laut Merah kembali menjadi sasaran serangan. Kawasan ini merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia yang menghubungkan Terusan Suez dengan Samudra Hindia. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi meningkatkan biaya pengiriman, memperlambat distribusi minyak, serta memperketat pasokan global.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Trump menegaskan Washington akan meminta pertanggungjawaban Teheran atas setiap serangan Houthi terhadap kapal-kapal yang melintas di Laut Merah dan mengancam akan memberikan “hukuman militer besar” kepada Iran maupun kelompok militan di Yaman.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump juga mengungkapkan dirinya tengah mempertimbangkan operasi militer yang jauh lebih besar terhadap Iran.
“Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan. Kita semua sudah siap,” kata Trump.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik yang selama ini berlangsung melalui kelompok proksi dapat berkembang menjadi konfrontasi langsung antara AS dan Iran.
Serangan terhadap kapal tanker juga terjadi hanya beberapa jam setelah Trump memperingatkan bahwa AS akan menghancurkan jembatan maupun pembangkit listrik di Iran apabila Teheran terlibat dalam serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati selat sempit tersebut setiap hari. Karena itu, setiap ancaman terhadap keamanan kawasan ini langsung memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan volatilitas pasar energi internasional.
Iran merespons ancaman tersebut dengan memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap infrastruktur dan aset energi yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan AS di kawasan apabila Washington benar-benar melancarkan serangan.
“Jika Amerika menargetkan jembatan atau pembangkit listrik di Iran, Iran akan, pada gilirannya, menyerang infrastruktur dan jembatan di wilayah tersebut, termasuk fasilitas energi tempat Amerika Serikat memiliki kepentingan,” kata seorang sumber militer Iran kepada kantor berita Tasnim.
Eskalasi Dinilai Memasuki Fase yang Lebih Berbahaya
Global Head of Commodity Strategy RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai konflik antara AS dan Iran kini telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Menurutnya, pertempuran tidak lagi terbatas pada wilayah daratan, tetapi telah meluas ke jalur pelayaran internasional di Laut Merah dan berpotensi mengancam fasilitas energi penting di kawasan Teluk.
Croft mengatakan tekanan geopolitik yang terus meningkat berpotensi mendorong harga minyak Brent melampaui rekor tertinggi tahun 2022 di kisaran US$ 128 per barel, ketika Rusia menginvasi Ukraina.
Bahkan, dalam skenario terburuk apabila perang regional berskala penuh benar-benar terjadi di Timur Tengah dan mengganggu produksi maupun distribusi minyak secara signifikan, harga Brent diperkirakan dapat melampaui rekor sepanjang masa pada 2008 yang mencapai sekitar US$ 146 per barel.
Menurut Croft, pasar minyak saat ini menghadapi tekanan dari dua kawasan konflik sekaligus, yakni Timur Tengah dan Eropa Timur. Selain meningkatnya ketegangan di Teluk, perang Rusia-Ukraina juga terus mengganggu rantai pasok energi dunia.
Ia menyebut Kyiv telah meningkatkan serangan terhadap armada tanker di Laut Hitam dan Laut Azov sepanjang bulan ini, sehingga memperburuk risiko terhadap distribusi minyak dari kawasan tersebut.
Serangan-serangan itu memaksa Konsorsium Pipa Kaspia (Caspian Pipeline Consortium/CPC) menghentikan sementara aktivitas pemuatan minyak mentah di terminal Laut Hitam.
Padahal, sekitar 80% ekspor minyak mentah Kazakhstan bergantung pada jalur pipa CPC tersebut.
“Durasi penutupan masih belum pasti, tetapi jalur alternatif untuk Kazakhstan sangat terbatas dan kemungkinan tidak mampu sepenuhnya menggantikan kapasitas CPC. Akibatnya, produksi sekitar 1,7 juta barel per hari berpotensi mengalami penghentian sementara,” ujar Croft.
Pasar Menanti Perkembangan Konflik
Pelaku pasar kini terus mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, terutama potensi eskalasi yang dapat mengganggu arus pengiriman minyak melalui Laut Merah maupun Selat Hormuz. Apabila ketegangan terus meningkat atau melibatkan lebih banyak negara, risiko terhadap pasokan energi global diperkirakan akan semakin besar.
Analis menilai volatilitas harga minyak kemungkinan masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Selain dipengaruhi perkembangan konflik, pergerakan harga juga akan ditentukan oleh respons negara-negara produsen minyak, termasuk langkah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+), serta kebijakan negara-negara konsumen dalam menjaga stabilitas pasokan energi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
0 Comments