Perang AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Malah Anjlok 4%
Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) setelah muncul laporan bahwa Pakistan tengah mengupayakan dimulainya kembali perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski demikian, pasar energi global masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik yang terus meningkat di Timur Tengah, sehingga pelaku pasar tetap mewaspadai potensi lonjakan harga dalam waktu dekat.
Mengutip CNBC, Sabtu (25/7/2026), harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional turun hampir 4% dan ditutup di level US$96,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi sekitar 3% ke posisi US$89,31 per barel.
Penurunan harga tersebut dipicu laporan bahwa Pakistan, dengan dukungan China, berupaya membuka kembali jalur diplomasi antara Washington dan Teheran. Harapan terhadap kemungkinan meredanya konflik membuat investor mulai melakukan aksi ambil untung setelah reli tajam harga minyak sepanjang pekan.
Tiga narasumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan upaya Pakistan tersebut mendapat dukungan dari pemerintah China yang memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas pasokan energi global.
“China merasa tidak senang karena serangan Iran terhadap negara-negara Teluk lainnya serta penutupan Selat Hormuz telah merugikan kepentingan mereka,” kata seorang pejabat pemerintah Pakistan.
China diketahui merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia. Lebih dari 40% impor minyak negara tersebut berasal dari kawasan Timur Tengah. Karena itu, setiap gangguan terhadap jalur distribusi energi di kawasan Teluk berpotensi meningkatkan biaya impor energi China sekaligus memperlambat aktivitas manufaktur dan perdagangan global.
Meski harga minyak terkoreksi pada perdagangan terakhir pekan ini, secara mingguan minyak masih mencatatkan kenaikan yang cukup tajam. WTI menguat sekitar 8% sepanjang pekan, sedangkan Brent melonjak hampir 10% seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap pasokan global.
Para analis menilai volatilitas harga minyak masih akan tetap tinggi selama belum ada kepastian mengenai perkembangan diplomatik antara AS dan Iran. Setiap sinyal menuju gencatan senjata dapat menekan harga, sementara eskalasi konflik berpotensi kembali mendorong Brent menembus level psikologis US$100 per barel.
Serangan Militer AS Berlanjut
Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan serangan malam ke-13 secara berturut-turut terhadap sejumlah target strategis di Iran.
Operasi tersebut menyasar pusat komando militer, fasilitas penyimpanan drone, jaringan komunikasi, lokasi pengawasan pesisir, hingga kemampuan pertahanan maritim Iran.
CENTCOM menyatakan serangan dilakukan untuk mengurangi ancaman Iran terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
“Serangan ini bertujuan semakin mengurangi ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap para pelaut sipil dan kapal-kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz,” demikian pernyataan CENTCOM.
Militer AS juga menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional tersebut masih tetap terbuka.
“Jalur pelayaran internasional tersebut tetap terbuka untuk dilalui meskipun baru-baru ini terjadi serangan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran. Kapal-kapal niaga masih dapat melintasi selat tersebut dengan aman berkat dukungan militer Amerika Serikat.”
CENTCOM menambahkan lebih dari 50.000 personel militer AS saat ini masih beroperasi di kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari operasi pengamanan wilayah.
Selat Hormuz sendiri memiliki peran vital dalam perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya melewati jalur sempit tersebut. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini berpotensi langsung memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan biaya logistik internasional.
Selain minyak mentah, jalur tersebut juga menjadi rute utama pengiriman gas alam cair (LNG) dari Qatar menuju pasar Asia dan Eropa. Oleh sebab itu, konflik di kawasan Teluk tidak hanya memengaruhi harga minyak, tetapi juga harga gas alam global.
Trump Pertimbangkan Serangan Lebih Besar
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan serangan berskala besar terhadap Iran setelah konflik di Timur Tengah meluas hingga kawasan Laut Merah.
Trump menegaskan operasi militer yang dipertimbangkan akan jauh lebih besar dibandingkan serangan-serangan sebelumnya.
“Saya sedang mempertimbangkan serangan besar. Lebih besar daripada yang pernah dilakukan sebelumnya. Saya sudah hampir mengambil keputusan. Semuanya sudah siap,” kata Trump.
Pernyataan tersebut muncul setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Trump juga memperingatkan Iran akan bertanggung jawab apabila Houthi kembali melancarkan serangan.
“Jika mereka melakukan ini lagi, Amerika Serikat akan meminta Iran bertanggung jawab karena Houthi merupakan kelompok yang didukung dan menjadi proksi Iran. Hukuman militer yang besar akan dijatuhkan kepada Iran dan tentu saja kepada Houthi sendiri,” tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan Korps Garda Revolusi Iran telah menyerang fasilitas militer AS di sebuah pangkalan Amerika di Yordania sebagai balasan atas serangan Washington.
Risiko Inflasi Global Kembali Menguat
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut pendekatan Trump dalam menghadapi perang dengan Iran sebagai strategi “kepala dibalas kepala” (a head for an eye).
Di sisi lain, Analis Senior Pasar Capital.com Daniela Hathorn menilai meningkatnya ketidakstabilan di jalur-jalur pelayaran utama kembali memunculkan premi risiko geopolitik yang besar di pasar minyak.
“Sentimen investor melemah akibat gangguan yang terus berlanjut di Laut Merah, di mana serangan terhadap kapal-kapal niaga semakin memperbesar kekhawatiran terhadap perdagangan global dan keamanan pasokan energi,” kata Hathorn.
Ia menambahkan ketegangan di sekitar Selat Hormuz semakin memperkuat pandangan bahwa risiko geopolitik tidak akan mereda dalam waktu dekat.
“Jika dikombinasikan dengan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, perkembangan ini memperkuat pandangan bahwa risiko geopolitik kecil kemungkinan akan mereda dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat pasar energi tetap ketat dan meningkatkan risiko inflasi,” ujarnya.
Sejumlah ekonom juga memperingatkan bahwa apabila harga minyak kembali bertahan di atas US$100 per barel dalam waktu lama, tekanan inflasi global berpotensi meningkat. Kondisi tersebut dapat mempersulit bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), dalam menentukan arah kebijakan suku bunga karena tingginya harga energi berisiko mendorong kenaikan biaya produksi, transportasi, hingga harga pangan di berbagai negara.
Bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia, kenaikan harga minyak dunia juga dapat meningkatkan beban impor energi, memperbesar tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta memengaruhi subsidi energi apabila harga minyak bertahan tinggi dalam jangka waktu yang panjang. Karena itu, perkembangan konflik di Timur Tengah dan setiap upaya diplomatik antara AS dan Iran akan terus menjadi perhatian utama pelaku pasar global dalam beberapa pekan mendatang.
0 Comments