Harga Minyak Hari Ini, Rabu 18 Maret 2026, Naik Tajam
Harga minyak dunia kembali melonjak signifikan pada Selasa (17/3/2026), didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait keamanan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Kekhawatiran pasar semakin besar setelah muncul keraguan bahwa Donald Trump mampu membentuk koalisi internasional yang solid untuk mengamankan jalur tersebut.
Mengutip laporan CNBC, harga minyak Brent melonjak 3,2% atau USD 3,21 menjadi USD 103,42 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari AS naik 2,9% atau USD 2,71 ke level USD 96,21 per barel. Kenaikan ini memperpanjang tren reli harga minyak dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan global.
Pemicunya adalah situasi keamanan yang memburuk di Selat Hormuz, jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global. Jalur ini dilaporkan mengalami penurunan signifikan dalam lalu lintas kapal tanker setelah serangan yang dikaitkan dengan Iran. Kondisi tersebut memicu salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam beberapa tahun terakhir, bahkan disebut sebagai salah satu yang paling serius dalam sejarah modern perdagangan energi.
Dalam pernyataannya, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa sekutu NATO tidak menunjukkan minat untuk terlibat dalam potensi konflik dengan Iran. Ia bahkan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak bergantung pada dukungan militer sekutu untuk menangani situasi ini. Pernyataan tersebut justru meningkatkan kekhawatiran pasar, karena absennya kerja sama internasional dinilai dapat memperlambat respons terhadap krisis.
Sebelumnya, AS sempat mendorong negara-negara sekutu untuk mengirimkan pasukan guna mengawal kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Namun hingga kini, rencana tersebut belum terealisasi. Salah satu opsi yang sempat dibahas adalah pemberian jaminan asuransi bagi kapal serta pengawalan militer, tetapi implementasinya masih belum jelas.
Kepala Strategi Komoditas di ING, Warren Patterson, menyatakan bahwa skala gangguan pasokan saat ini membuat pasar kesulitan menemukan solusi yang efektif. Ia menilai bahwa tanpa kejelasan langkah konkret dari pemerintah AS, volatilitas harga minyak kemungkinan akan terus berlanjut.
Patterson juga menambahkan bahwa pengawalan kapal komersial oleh angkatan laut memiliki risiko tinggi. Kapal militer bisa menjadi target serangan, terutama jika ketegangan dengan Iran terus meningkat. Oleh karena itu, AS kemungkinan akan menunda langkah tersebut hingga merasa ancaman terhadap kapal tanker dapat diminimalkan.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan salah satu chokepoint energi paling vital di dunia. Data dari perusahaan analitik energi Kpler menunjukkan bahwa sekitar 13 juta barel minyak per hari melewati jalur ini sepanjang 2025, setara dengan sekitar 31% dari total perdagangan minyak mentah global melalui laut.
Selain faktor geopolitik, analis juga menyoroti bahwa pasar minyak saat ini berada dalam kondisi yang relatif ketat. Produksi dari beberapa negara OPEC+ masih terbatas, sementara permintaan global tetap kuat, terutama dari negara-negara Asia. Kombinasi antara pasokan yang terancam dan permintaan yang stabil menjadi pendorong utama kenaikan harga.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati beberapa faktor penting, termasuk respons militer AS, sikap Iran, serta potensi keterlibatan negara-negara lain. Jika situasi di Selat Hormuz tidak segera stabil, harga minyak berpotensi terus meningkat dan bahkan bisa menembus level yang lebih tinggi dalam waktu dekat.
Kondisi ini juga berpotensi berdampak luas terhadap ekonomi global, termasuk kenaikan harga energi, inflasi, dan biaya logistik. Bagi negara-negara importir minyak seperti Indonesia, lonjakan harga ini bisa memberikan tekanan tambahan terhadap anggaran energi dan nilai tukar.
0 Comments