Harga Minyak Menguat 3% Setelah Ketegangan AS dan Iran Memanas

Harga Minyak Menguat 3% Setelah Ketegangan AS dan Iran Memanas

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Selasa setelah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengguncang pasar energi global. Lonjakan ini dipicu oleh laporan serangan militer AS di wilayah selatan Iran serta pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi negosiasi yang masih penuh ketidakpastian.

Mengutip CNBC, Rabu (27/5/2026), minyak mentah Brent yang menjadi acuan global naik lebih dari 3% dan ditutup di level USD 99,58 per barel dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar minyak akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang tidak diperdagangkan pada Senin karena libur Memorial Day selama tiga hari, sempat melemah hampir 3% menjadi USD 93,89 per barel dibandingkan posisi Jumat lalu. Namun harga WTI kemudian kembali pulih setelah muncul laporan mengenai aksi militer AS di Iran yang memicu kembali kekhawatiran pasar.

Meski sempat mengalami tekanan, baik Brent maupun WTI masih bergerak di bawah level penutupan akhir pekan sebelumnya. Hal ini terjadi setelah pernyataan Trump yang sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran, yang sempat meredakan ketegangan dan menekan harga minyak.

Ketegangan AS–Iran Kembali Picu Volatilitas Pasar

Lonjakan harga minyak ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan geopolitik, terutama yang berkaitan dengan Iran sebagai salah satu pemain kunci di kawasan Teluk. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia, kembali menjadi fokus perhatian investor karena potensi gangguan distribusi.

Militer AS menyatakan telah melakukan serangan yang disebut sebagai langkah “pertahanan diri” di wilayah selatan Iran pada Selasa dini hari. Serangan tersebut dilaporkan menargetkan kapal yang diduga sedang mencoba memasang ranjau serta lokasi peluncuran rudal.

Komando Pusat AS (US Central Command) menyebut operasi itu dilakukan untuk melindungi personel militer Amerika dari ancaman langsung yang berasal dari aktivitas militer Iran di kawasan tersebut.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan balasan terhadap apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran gencatan senjata. Iran juga mengklaim telah mendeteksi dan menghadapi drone AS serta pesawat tempur F-35 yang memasuki wilayah udaranya, yang semakin memperkeruh situasi.

Dampak Langsung ke Pasar Minyak Global

Ketegangan yang meningkat ini langsung tercermin pada harga minyak yang bergerak cepat dalam rentang volatil. Pasar saat ini cenderung memasukkan “risk premium” atau premi risiko geopolitik, yang membuat harga minyak naik meski data fundamental tidak berubah signifikan.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga masih memantau kondisi pasokan global yang relatif ketat. Gangguan distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz dapat berdampak besar, mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute pengiriman minyak paling penting di dunia.

Dalam situasi seperti ini, harga minyak biasanya bereaksi lebih sensitif terhadap berita politik dibandingkan data permintaan atau produksi jangka pendek.

Peran OPEC+ dan Ketatnya Pasokan Global

Di luar konflik geopolitik, pasar minyak juga masih dipengaruhi kebijakan produksi dari OPEC+ yang selama beberapa waktu terakhir menjaga disiplin pasokan untuk menstabilkan harga. Pengurangan produksi dari beberapa negara anggota turut membuat stok global lebih ketat.

Kondisi ini diperkuat oleh data yang menunjukkan penurunan persediaan minyak di beberapa wilayah utama konsumsi energi. Ketika stok turun di tengah risiko gangguan pasokan, pasar cenderung bereaksi dengan kenaikan harga yang lebih tajam.

Kesepakatan Masih Tidak Pasti

Meski situasi militer memanas, laporan dari kantor berita Iran, Tasnim, menyebutkan bahwa pembicaraan dengan AS secara umum masih menunjukkan perkembangan positif. Namun, sumber yang dikutip menyatakan bahwa kesepakatan apa pun sangat bergantung pada pencairan dana Iran senilai sekitar USD 24 miliar yang saat ini masih dibekukan.

Di sisi lain, ketidakpastian semakin meningkat setelah Trump mendorong beberapa negara seperti Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania untuk bergabung dalam Abraham Accords, sebuah inisiatif normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.

Trump juga menegaskan bahwa negosiasi dengan Iran “berjalan dengan baik”, tetapi tetap memperingatkan bahwa AS bisa kembali mengambil langkah militer jika pembicaraan gagal. Ia menekankan bahwa hasil akhir harus berupa kesepakatan besar atau tidak ada kesepakatan sama sekali.

UBS: Stok Minyak Global Semakin Menyusut

Dalam laporan terbarunya, bank investasi UBS menyoroti bahwa pasar minyak global saat ini berada di bawah tekanan akibat penurunan persediaan yang cukup tajam serta potensi gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.

UBS mencatat bahwa stok minyak global turun sekitar 246 juta barel sepanjang periode Maret hingga April. Penurunan ini menunjukkan bahwa permintaan tetap kuat atau pasokan tidak sepenuhnya mampu mengimbanginya.

Bank tersebut juga memperkirakan bahwa total gangguan produksi global dapat mencapai angka yang signifikan hingga akhir Mei, yang semakin memperkuat pandangan bahwa pasar berada dalam kondisi “tight supply” atau pasokan yang ketat.

Outlook Pasar: Volatilitas Masih Tinggi

Ke depan, analis memperkirakan harga minyak masih akan bergerak volatil, terutama jika ketegangan AS–Iran terus berlanjut atau jika ada eskalasi baru di kawasan Teluk. Selama risiko geopolitik tetap tinggi, harga minyak cenderung bertahan di level premium.

Namun, jika negosiasi benar-benar menghasilkan kesepakatan dan risiko gangguan pasokan menurun, pasar bisa kembali mengalami koreksi karena premi risiko akan berkurang.

Dengan kondisi saat ini, pasar minyak global berada dalam posisi sensitif, di mana setiap perkembangan politik atau militer dapat langsung menggerakkan harga dalam skala yang signifikan.