Harga Minyak Terkoreksi 20%, Arah Pasar Bergantung pada Kesepakatan AS-Iran
Harga minyak dunia masih bergerak di level yang relatif rendah, memberikan angin segar bagi negara pengimpor energi, pelaku usaha, hingga konsumen. Namun, para ekonom menilai kondisi tersebut masih sangat rentan berubah karena keberlangsungan kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tetap menjadi faktor penentu utama arah pasar global pada paruh kedua 2026.
Kepala Ekonom Global Oxford Economics, Ryan Sweet, mengatakan prospek ekonomi dunia dalam beberapa bulan ke depan sangat bergantung pada apakah kesepakatan damai antara Washington dan Teheran benar-benar dapat dipertahankan atau justru kembali memicu ketegangan geopolitik.
Sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk menghentikan konflik sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, harga minyak dunia telah terkoreksi lebih dari 20%. Penurunan tersebut menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani pasar energi global.
Mengutip Yahoo Finance, Selasa (7/7/2026), kontrak berjangka minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$72 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di bawah US$69 per barel.
Pada perdagangan Selasa, harga minyak mulai pulih tipis. Brent naik sekitar 0,5% ke kisaran US$72,37 per barel, sedangkan WTI menguat ke sekitar US$68,85 per barel. Kenaikan tersebut terjadi karena pelaku pasar mulai kembali memperhatikan prospek permintaan global dan pemulihan pasokan, meski sentimen geopolitik masih menjadi perhatian utama investor.
Turunnya harga minyak juga mendorong penguatan pasar saham global karena investor melihat peluang inflasi energi yang lebih rendah dan prospek kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, menurut Sweet, sentimen positif tersebut hanya akan bertahan apabila perdamaian di Timur Tengah tidak kembali terganggu.
Harus Ada Perdamaian Permanen
Ryan Sweet menilai perdamaian yang berkelanjutan akan membawa dampak positif yang jauh lebih besar dibanding sekadar menurunkan harga minyak.
“Kesepakatan damai yang bertahan akan menghasilkan serangkaian kondisi yang lebih longgar, mulai dari turunnya inflasi energi, ruang yang lebih besar bagi bank sentral dalam menentukan kebijakan, kondisi pasar keuangan yang lebih longgar, hingga memberikan kelegaan bagi negara-negara berkembang,” tulis Sweet kepada para kliennya.
Menurutnya, inflasi energi yang lebih rendah akan membantu banyak negara mengendalikan kenaikan harga barang dan jasa. Kondisi tersebut juga dapat memberi ruang bagi bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan atau bahkan melonggarkan kebijakan suku bunga apabila tekanan inflasi terus mereda.
Namun, Sweet mengingatkan bahwa kesepakatan yang hanya bersifat sementara tanpa langkah menuju perjanjian damai permanen justru berpotensi memicu gejolak pasar yang lebih besar.
“Kesepakatan tanpa adanya perjanjian damai lanjutan akan bersifat sangat fluktuatif dan mustahil dipertahankan,” ujarnya.
Oxford Economics juga mengidentifikasi sejumlah faktor lain yang berpotensi memengaruhi pasar pada sisa tahun ini, mulai dari kebijakan perdagangan global, perkembangan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keputusan bank-bank sentral utama, stimulus ekonomi China, hingga dinamika politik menjelang pemilu sela di Amerika Serikat.
Jika ketegangan kembali meningkat dan harga energi melonjak, The Fed berpotensi menghadapi tekanan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan biaya produksi berbagai sektor industri, termasuk manufaktur semikonduktor, pusat data AI, serta negara-negara Asia yang masih bergantung pada impor minyak dan gas.
Selain itu, harga minyak yang kembali naik juga berpotensi meningkatkan biaya logistik global dan mendorong inflasi di berbagai negara. Hal ini dapat mengurangi daya beli masyarakat dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi dunia.
Selat Hormuz Masih Jadi Titik Kritis
Sweet menegaskan hampir seluruh risiko tersebut pada akhirnya bermuara pada perkembangan situasi di Timur Tengah.
“Semua risiko ini saling berhubungan. Pertanyaan utamanya adalah bagaimana perkembangan kesepakatan damai di Timur Tengah,” katanya.
Jika proses perdamaian terus berlanjut, aktivitas perdagangan energi diperkirakan semakin pulih. Berdasarkan data perusahaan intelijen energi Kpler, sebanyak 108 kapal berhasil melintasi jalur masuk dan keluar Selat Hormuz setelah nota kesepahaman mulai diterapkan, menandakan aktivitas pelayaran mulai meningkat meski belum kembali ke level normal sebelum konflik.
Kpler juga memperkirakan normalisasi lalu lintas kapal akan berlangsung secara bertahap hingga September atau Oktober karena perusahaan pelayaran dan asuransi masih berhati-hati terhadap risiko keamanan di kawasan tersebut.
Di sisi lain, keputusan OPEC+ untuk kembali meningkatkan produksi mulai Agustus diperkirakan akan menambah pasokan minyak ke pasar global. Langkah tersebut diyakini menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga harga minyak tetap terkendali meski risiko geopolitik masih membayangi.
Beberapa produsen utama, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, juga terus meningkatkan produksi sebagai respons terhadap membaiknya kondisi pasar dan tingginya permintaan global. Bertambahnya pasokan ini diperkirakan akan membatasi kenaikan harga minyak dalam jangka pendek.
Risiko Geopolitik Masih Tinggi
Meski prospek pasar terlihat lebih baik dibanding beberapa bulan lalu, para analis mengingatkan bahwa situasi di Timur Tengah masih jauh dari benar-benar aman.
Sejumlah insiden keamanan di sekitar Selat Hormuz masih dilaporkan terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses perdamaian masih sangat rapuh meskipun negosiasi diplomatik terus berlangsung.
Sweet juga menilai konflik di Lebanon, potensi serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz, hingga kemungkinan meningkatnya kembali aksi militer antara AS dan Iran dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar.
Di sisi lain, ia melihat masih terdapat faktor positif yang mampu menopang ekonomi global, yakni investasi sektor kecerdasan buatan yang tumbuh lebih kuat dari perkiraan. Belanja besar untuk pembangunan pusat data, jaringan kelistrikan, infrastruktur digital, hingga berbagai proyek infrastruktur diperkirakan tetap menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia.
Meski demikian, menurut Oxford Economics, pasar global masih akan sangat sensitif terhadap setiap perkembangan diplomatik di Timur Tengah. Selama kesepakatan damai belum berubah menjadi perjanjian permanen, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi dan berpotensi memengaruhi pasar saham, obligasi, nilai tukar, hingga prospek pertumbuhan ekonomi global pada sisa tahun 2026.
0 Comments