Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS Jelang Rilis Risalah The Fed

Rupiah Nyaris Sentuh Rp18.000 per Dolar AS Jelang Rilis Risalah The Fed

Kurs Rupiah Dekati 18.000 per Dolar AS, Pasar Menanti Risalah The Fed dan Data Ekonomi Domestik

Kurs rupiah dibuka bergerak datar pada perdagangan Selasa (7/7/2026) di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menantikan risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed). Selain perkembangan global, investor juga mencermati sejumlah sentimen domestik, mulai dari defisit neraca perdagangan, arus keluar modal asing, hingga data terbaru cadangan devisa Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan data pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.995 per dolar AS, tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Meski bergerak stabil pada awal sesi, rupiah masih berada di dekat level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan pergerakan rupiah masih berada dalam tekanan meski indeks dolar AS cenderung melemah dalam beberapa hari terakhir.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih dalam tekanan yang diperkirakan melemah pada kisaran Rp17.950-Rp18.020 dipengaruhi faktor global. Walaupun indeks dolar melemah, pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengantisipasi rilis notulen meeting The Fed pada Kamis, 9 Juli waktu AS,” ujar Rully.

Menurut dia, perhatian investor kini tertuju pada risalah rapat The Fed yang diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga AS dalam beberapa bulan ke depan.

Pada pertemuan sebelumnya, The Fed masih menegaskan komitmennya untuk mengembalikan inflasi ke target 2%. Namun, perkembangan terbaru di pasar tenaga kerja AS mulai memunculkan ekspektasi bahwa bank sentral akan memiliki ruang lebih besar untuk menyesuaikan kebijakan moneternya apabila perlambatan ekonomi terus berlanjut.

Rully menjelaskan, data nonfarm payrolls (NFP) yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi membuat The Fed lebih fleksibel dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Investor kini akan mencermati apakah risalah rapat menunjukkan semakin banyak pejabat The Fed yang mulai membuka peluang penurunan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Apabila risalah tersebut memberikan sinyal yang lebih dovish, tekanan terhadap dolar AS berpotensi mereda sehingga dapat memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sebaliknya, apabila mayoritas pejabat The Fed masih menilai inflasi sebagai risiko utama, dolar AS berpeluang kembali menguat sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Sentimen Domestik Masih Membayangi Rupiah

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati sejumlah indikator ekonomi yang dinilai memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah neraca perdagangan Indonesia yang mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar, menandai meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal.

Selain itu, arus modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia sejak awal Juli juga menjadi sentimen negatif. Nilai aksi jual bersih investor asing tercatat mencapai sekitar Rp2,73 triliun sehingga menambah tekanan terhadap aset keuangan domestik.

Investor sebelumnya juga menunggu data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan diumumkan Bank Indonesia pada Selasa siang.

Rully sempat memperkirakan cadangan devisa akan kembali menurun akibat intervensi BI di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, data terbaru justru menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan.

Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 meningkat menjadi US$145,6 miliar, dibandingkan posisi akhir Mei yang sebesar US$144,9 miliar. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, meskipun di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di pasar keuangan.

BI menyatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Kondisi ini dinilai masih memberikan bantalan yang kuat bagi ketahanan sektor eksternal Indonesia sekaligus mendukung kemampuan bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya volatilitas pasar global.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Selain menunggu risalah rapat The Fed, pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan imbal hasil obligasi pemerintah AS, arah pergerakan indeks dolar, harga komoditas global, serta konsistensi aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia. Selama ketidakpastian tersebut masih tinggi, volatilitas nilai tukar rupiah diperkirakan tetap akan bertahan dalam jangka pendek.