IHSG Hari Ini Ditutup Melemah Tipis 0,10% ke 6.534,69, Sempat Anjlok 2%
IHSG hari ini, Senin (14/9/2026), ditutup melemah tipis 0,10% ke level 6.534,69. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlangsung fluktuatif di tengah perubahan susunan kabinet dan kenaikan harga minyak dunia.
Mengutip data RTI, IHSG sempat mengalami tekanan cukup dalam hingga anjlok sekitar 2% pada perdagangan awal pekan. Namun, indeks berhasil memangkas sebagian besar pelemahan menjelang penutupan.
Berbeda dengan IHSG, indeks LQ45 justru menguat 1,43% ke level 659,03. Sebagian besar indeks saham acuan lainnya juga berakhir di zona hijau.
Pergerakan IHSG Hari Ini
Sepanjang perdagangan Senin, IHSG bergerak di rentang 6.371,39 hingga 6.550. Tekanan jual masih terlihat dari banyaknya saham yang berakhir di zona merah.
Sebanyak 429 saham melemah, sementara 219 saham menguat dan 141 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.121.371 kali dengan volume transaksi mencapai 35,7 miliar saham. Nilai transaksi harian saham mencapai sekitar Rp18 triliun.
Sementara itu, nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp17.651.
Mayoritas Sektor Saham Melemah
Mayoritas sektor saham mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan. Hanya sektor industri dan keuangan yang berhasil mencatat penguatan.
Sektor industri naik 0,45%, sedangkan sektor keuangan menguat 0,55%.
Di sisi lain, sektor kesehatan mencatat penurunan paling dalam, yakni 2,95%. Sektor energi juga melemah 1,65%, disusul sektor basic yang turun 1,41%.
Berikut pergerakan sejumlah sektor saham lainnya:
- Sektor consumer nonsiklikal turun 0,04%.
- Sektor consumer siklikal melemah 1,19%.
- Sektor properti turun 0,56%.
- Sektor teknologi melemah 0,77%.
- Sektor infrastruktur turun 1,45%.
- Sektor transportasi melemah 0,85%.
Saham UNVR Melemah 0,61%
Salah satu saham yang ikut tertekan adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Harga saham UNVR ditutup turun 0,61% menjadi Rp1.620 per saham.
Saham UNVR dibuka stagnan di level Rp1.630. Sepanjang perdagangan, saham tersebut sempat menyentuh level tertinggi Rp1.645 dan terendah Rp1.620.
UNVR mencatat frekuensi perdagangan sebanyak 4.431 kali dengan volume 267.384 saham. Nilai transaksi saham mencapai Rp43,4 miliar.
Saham BIPI Turun, BRIS dan BBNI Menguat
Pergerakan sejumlah saham unggulan cukup beragam pada perdagangan Senin.
Harga saham BIPI turun 1,37% ke Rp144 per saham. Saham BIPI sempat dibuka naik satu poin ke Rp147 dan bergerak pada rentang Rp138-Rp148.
Frekuensi perdagangan BIPI mencapai 14.833 kali dengan volume 4,52 juta saham. Nilai transaksinya tercatat Rp64,4 miliar.
Sementara itu, saham BRIS ditutup naik 0,58% menjadi Rp1.730 per saham. Saham tersebut dibuka stagnan di Rp1.720 dan bergerak pada rentang Rp1.675-Rp1.730.
Saham BBNI menjadi salah satu penguat dengan kenaikan 3,2% ke level Rp3.870 per saham. BBNI sempat dibuka turun 10 poin ke Rp3.740 dan bergerak hingga level tertinggi Rp3.900 serta terendah Rp3.640.
Nilai transaksi BBNI mencapai sekitar Rp337,5 miliar dengan frekuensi perdagangan 15.697 kali.
Analis: Tekanan Jual Masih Dominan, tetapi Ada Bargain Hunting
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menilai tekanan jual masih mendominasi pergerakan IHSG menjelang penutupan. Namun, mulai terlihat aksi recovery dan bargain hunting setelah indeks sempat terkoreksi lebih dari 2%.
Menurut Nafan, sentimen eksternal masih menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar saham Indonesia. Salah satunya adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak Brent menembus sekitar US$107 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini juga memunculkan risiko kebijakan moneter yang lebih ketat atau higher for longer, sehingga investor cenderung mengurangi aset berisiko di pasar negara berkembang.
Meski demikian, Nafan melihat IHSG yang mampu memangkas pelemahan menunjukkan investor domestik tidak sepenuhnya melakukan panic selling.
“Menurut saya, ada indikasi buy on weakness dan bargain hunting, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah mengalami tekanan cukup dalam,” kata Nafan.
Nafan menambahkan, pasar mulai memperhitungkan berbagai risiko eksternal. Ketika tekanan jual mulai mereda, IHSG pun mampu melakukan rebound dengan relatif cepat.
Kondisi tersebut sejalan dengan perdagangan pekan sebelumnya ketika IHSG terkoreksi 1,43% akibat eskalasi konflik AS-Iran dan kenaikan harga minyak.
Pergantian Menteri Keuangan Jadi Perhatian Investor
Selain faktor eksternal, pasar saham Indonesia juga mencermati perubahan posisi Menteri Keuangan. Suahasil Nazara disebut menjadi Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Menurut Nafan, investor tidak hanya melihat pergantian figur, tetapi juga menunggu apakah perubahan tersebut mampu meningkatkan efektivitas kebijakan ekonomi.
Investor membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan fiskal, percepatan realisasi belanja pemerintah, kualitas pertumbuhan ekonomi, stabilitas rupiah, daya beli masyarakat, serta iklim investasi.
Jika kebijakan setelah pergantian menteri dinilai market-friendly, kredibel, dan konsisten, sentimen positif terhadap pasar saham berpotensi terbentuk.
Namun, untuk jangka pendek, volatilitas IHSG diperkirakan masih tinggi karena risiko geopolitik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak belum sepenuhnya mereda.
Analis Kiwoom: Risiko Pasar Mulai Mengecil
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai koreksi IHSG yang terbatas menunjukkan adanya penurunan risiko di pasar.
Menurut Liza, pasar mulai mengapresiasi harapan terhadap keberlanjutan kebijakan serta kredibilitas fiskal.
Liza juga menilai latar belakang Suahasil Nazara sebagai bagian dari lingkungan Kementerian Keuangan menjadi faktor yang dapat mengurangi kekhawatiran investor.
Suahasil merupakan akademisi dan pejabat Kementerian Keuangan yang sebelumnya menjabat sebagai wakil menteri keuangan sejak 2019.
“Sebagai insider Kemenkeu yang paham APBN dan mesin birokrasi fiskal, pengangkatannya setidaknya mengurangi kekhawatiran kalau posisi strategis ini jatuh ke tangan politikus atau figur asing bagi pasar,” kata Liza.
Kesimpulan
IHSG hari ini berakhir melemah tipis 0,10% ke level 6.534,69 setelah sempat anjlok sekitar 2%. Tekanan datang dari kombinasi sentimen eksternal, terutama konflik Timur Tengah dan kenaikan harga minyak, serta perhatian investor terhadap perubahan kebijakan ekonomi domestik.
Meski mayoritas saham dan sektor berada di zona merah, aksi bargain hunting pada sejumlah saham berkapitalisasi besar membantu IHSG memangkas pelemahan hingga penutupan.
Investor kini akan mencermati perkembangan harga minyak dunia, kondisi geopolitik, stabilitas rupiah, serta arah kebijakan fiskal setelah perubahan posisi Menteri Keuangan.
0 Comments