IHSG Melemah 1,53% Sepekan, Turun ke Level 6.441

IHSG Melemah 1,53% Sepekan, Turun ke Level 6.441

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sepanjang perdagangan saham pada 14-18 September 2026. Dalam sepekan, IHSG turun 1,53% dan kembali berada di bawah level 6.500.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Sabtu (19/9/2026), IHSG ditutup pada level 6.441,15 pada perdagangan pekan ini. Posisi tersebut turun dari penutupan pekan sebelumnya yang berada di level 6.541,37.

Penurunan IHSG juga diikuti oleh pelemahan kapitalisasi pasar BEI. Kapitalisasi pasar tercatat turun 1,58% menjadi Rp11.266 triliun, dari sebelumnya Rp11.446 triliun.

Rupiah Melemah, Asing Masih Jual Saham

Tekanan terhadap IHSG terjadi ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, rupiah turun ke level 17.742 per dolar AS seiring penguatan mata uang AS.

Di pasar saham, investor asing juga masih mencatatkan aksi jual bersih. Hingga Kamis pekan ini, investor asing melakukan net sell sekitar US$65 juta atau Rp1,15 triliun, dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah sekitar Rp17.810.

Namun, nilai jual bersih tersebut lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai sekitar US$152 juta atau Rp2,70 triliun. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual dari investor asing mulai berkurang.

Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada rapat Bank Indonesia (BI) pada 23 September 2026.

Berdasarkan konsensus yang dikutip Ashmore Asset Management Indonesia, BI Rate diperkirakan tetap berada di level 5,75%.

Kebijakan suku bunga menjadi perhatian karena terdapat perbedaan arah kebijakan dengan sejumlah bank sentral utama dunia. Kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) dapat mempersempit selisih suku bunga Indonesia dengan negara maju.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga di dalam negeri juga dapat meningkatkan biaya pinjaman dan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Harga Minyak Jadi Perhatian Pemerintah

Selain suku bunga dan rupiah, pergerakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian pasar.

Anggaran negara 2026 menggunakan asumsi harga minyak sebesar US$70 per barel. Sementara itu, harga pasar minyak telah mendekati US$104 per barel.

Menurut riset Ashmore, selisih harga tersebut dapat meningkatkan beban pemerintah melalui subsidi bahan bakar maupun kenaikan harga jual kepada konsumen. Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Aktivitas Perdagangan Saham Menurun

Pelemahan IHSG pada pekan ini juga disertai penurunan aktivitas perdagangan di BEI.

Rata-rata nilai transaksi harian turun 6,95% menjadi Rp15,22 triliun, dari Rp16,36 triliun pada pekan sebelumnya.

Rata-rata frekuensi transaksi harian juga turun 14,73% menjadi 1,89 juta transaksi, dibandingkan 2,22 juta transaksi pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian BEI turun 20,71% menjadi 28,61 miliar saham dari sebelumnya 36,09 miliar saham.

Dengan sejumlah faktor tersebut, investor akan mencermati perkembangan rupiah, arus dana asing, harga minyak dunia, serta keputusan BI pada pekan mendatang sebagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG.