Indonesia Perkuat Kerja Sama dengan Belarus, Nilai Potensi Capai Rp 8,9 Triliun
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berharap hubungan dagang antara Indonesia dengan Belarus dapat terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Harapan tersebut menguat seiring langkah Indonesia memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU) melalui sejumlah kesepakatan strategis yang tengah memasuki tahap finalisasi dan ratifikasi.
Indonesia dan Belarus diketahui telah menyepakati sebanyak 17 kerja sama bisnis yang dituangkan dalam memorandum of understanding (MoU). Kesepakatan tersebut diumumkan dalam Forum Bisnis Indonesia-Belarus dan agenda business matching yang berlangsung di Jakarta pada Selasa (30/6/2026).
“Pada kesempatan ini tadi disaksikan 17 MoU business to business yang menunjukkan minat kuat dari pelaku usaha kedua negara untuk memperluas kerja sama perdagangan dan investasi,” kata Airlangga Hartarto, dikutip dari Antara.
Menurut Airlangga, hubungan bilateral Indonesia dan Belarus sebenarnya telah terjalin cukup lama, namun kini memasuki babak baru setelah Indonesia menjalin kerja sama perdagangan yang lebih luas dengan Eurasian Economic Union (EAEU). Organisasi ekonomi regional tersebut beranggotakan Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Rusia.
Pemerintah Indonesia saat ini sedang menunggu proses ratifikasi sejumlah perjanjian kerja sama strategis tersebut, khususnya yang melibatkan Rusia dan Belarus sebagai mitra utama dalam kawasan Eurasia. Ratifikasi menjadi tahap penting agar implementasi kerja sama dapat berjalan secara penuh dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi kedua belah pihak.
Airlangga menjelaskan bahwa nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Belarus saat ini telah mencapai sekitar US$220 juta atau setara lebih dari Rp3,5 triliun, dan angka tersebut menunjukkan tren peningkatan sejak pembahasan kerja sama ekonomi dengan EAEU dimulai.
“Kita berharap penandatanganan EAEU ini segera diratifikasi. Bapak Presiden sudah mempersiapkan surat ke DPR untuk proses tersebut, sementara Rusia dan Belarus sendiri sudah lebih dulu meratifikasi perjanjian ini,” ujar Airlangga.
Pemerintah menargetkan hubungan perdagangan dan investasi Indonesia-Belarus dapat meningkat lebih dari dua kali lipat dalam waktu dekat. Airlangga optimistis nilai perdagangan kedua negara dapat mencapai US$500 juta atau sekitar Rp8,9 triliun apabila seluruh perjanjian perdagangan mulai diimplementasikan.
“Kita berharap dalam waktu dekat nilainya bisa mencapai sampai dengan US$500 juta,” lanjutnya.
Selain perdagangan barang, kerja sama yang dijajaki kedua negara juga mencakup sektor industri manufaktur, teknologi pertanian, pupuk, alat berat, industri makanan, farmasi, logistik, hingga potensi kerja sama pada sektor energi dan pengembangan infrastruktur.
Airlangga menambahkan bahwa salah satu manfaat terbesar setelah ratifikasi perjanjian perdagangan tersebut adalah terbukanya akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia. Ia menyebut hampir 90 persen lebih produk Indonesia yang masuk ke pasar EAEU, termasuk Belarus, nantinya akan dibebaskan dari tarif bea masuk.
Hal yang sama juga berlaku bagi produk Belarus yang masuk ke Indonesia, sehingga kedua negara akan menikmati sistem perdagangan yang lebih kompetitif dengan hambatan tarif yang jauh lebih rendah.
“Dengan ratifikasi ini, hampir lebih dari 90 persen produk Indonesia yang masuk ke EAEU termasuk Belarus tidak dikenakan biaya. Begitu juga produk Belarus yang masuk ke Indonesia akan mendapatkan fasilitas serupa,” jelasnya.
Sejumlah produk ekspor Indonesia yang berpotensi mengalami peningkatan permintaan dari kawasan Eurasia antara lain produk kelapa sawit dan turunannya, kopi, karet, tekstil, alas kaki, komponen otomotif, produk makanan olahan, hingga berbagai komoditas pertanian tropis yang selama ini memiliki pasar cukup besar di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Belarus dikenal sebagai salah satu negara dengan basis industri manufaktur dan mesin berat yang cukup kuat di kawasan Eropa Timur. Negara tersebut memiliki reputasi global dalam produksi traktor, kendaraan industri, pupuk potash, serta teknologi pertanian modern yang berpotensi mendukung pembangunan sektor industri Indonesia.
Pemerintah juga berharap kunjungan kenegaraan Presiden Belarus Alexander Lukashenko ke Indonesia pada awal Juli 2026 dapat mempercepat realisasi berbagai kesepakatan ekonomi yang sebelumnya telah dibahas dalam Joint Commission Meeting antara kedua negara.
Airlangga mengatakan pertemuan tingkat tinggi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat implementasi delapan agenda kerja sama yang telah dibahas pada Joint Commission Meeting yang digelar di Belarus pada Mei 2026 lalu.
“Kunjungan negara ini tentunya diharapkan bisa mendorong kesepakatan dalam delapan Joint Commission Meeting yang dilakukan bulan Mei lalu di Belarus. Jadi belum satu bulan mereka sudah hadir kembali dan mereka sangat berharap Indonesia bisa meningkatkan baik investasi maupun perdagangannya,” kata Airlangga.
Penguatan hubungan Indonesia dengan Belarus juga menjadi bagian dari strategi pemerintah memperluas diversifikasi pasar ekspor nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selama ini Indonesia masih sangat bergantung pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan negara-negara ASEAN.
Dengan memperluas akses ke kawasan Eurasia melalui kerja sama EAEU, pemerintah berharap eksportir nasional mendapatkan alternatif pasar baru yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai langkah ini akan menjadi salah satu strategi penting Indonesia dalam memperkuat posisi perdagangan global sekaligus membuka peluang investasi baru dari kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah dalam beberapa tahun mendatang.
0 Comments