Industri Batu Bara Dapat Suntikan Dana Rp 12,6 Triliun dari Trump

Industri Batu Bara Dapat Suntikan Dana Rp 12,6 Triliun dari Trump

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan investasi senilai sekitar US$700 juta atau setara Rp12,62 triliun (asumsi kurs Rp18.040 per dolar AS) untuk menghidupkan kembali industri batu bara nasional. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintahannya untuk menjaga ketahanan energi Amerika Serikat di tengah lonjakan harga energi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dalam pidatonya yang dikutip BBC pada Jumat (5/6/2026), Trump menyebut batu bara sebagai sumber energi yang masih memiliki peran penting dalam menopang kebutuhan listrik nasional. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menekan biaya energi sekaligus membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup.

“Jadi hari ini kita mengambil tindakan bersejarah untuk menurunkan harga energi dan biaya hidup bagi semua warga Amerika Serikat dengan kekuatan batu bara yang bersih dan indah,” kata Trump.

Gunakan Undang-Undang Produksi Pertahanan

Untuk mendanai program tersebut, Trump memanfaatkan Defense Production Act (DPA) atau Undang-Undang Produksi Pertahanan, sebuah regulasi yang pertama kali diterbitkan pada era Perang Dingin. Aturan tersebut memberikan kewenangan kepada presiden untuk mengarahkan sumber daya pemerintah guna mendukung sektor-sektor yang dianggap penting bagi keamanan nasional.

Trump menegaskan bahwa investasi tersebut tidak hanya bertujuan menjaga pasokan listrik, tetapi juga memperkuat kemandirian energi Amerika Serikat di tengah meningkatnya risiko gangguan rantai pasok energi global.

“Sebagai hasil investasi US$700 juta yang saya umumkan hari ini, kita akan melindungi 14 pembangkit listrik tenaga batu bara dan 42 tambang batu bara, serta membangun dua pembangkit listrik tenaga batu bara baru dan satu terminal ekspor baru yang besar,” ujarnya.

Dari total dana yang disiapkan, sekitar US$500 juta atau Rp9,01 triliun akan digunakan untuk mempertahankan operasional 14 pembangkit listrik tenaga batu bara yang terancam ditutup serta mendukung pembangunan terminal ekspor batu bara baru di California.

Sementara itu, Departemen Energi AS akan mengalokasikan tambahan US$200 juta atau sekitar Rp3,6 triliun untuk pembangunan dua pembangkit listrik tenaga batu bara baru di Alaska dan West Virginia. Proyek tersebut menjadi pembangunan PLTU baru pertama di Amerika Serikat dalam lebih dari satu dekade sejak 2013.

Fokus pada Ketahanan Energi Nasional

Pemerintahan Trump menilai pembangkit listrik berbasis batu bara masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas jaringan listrik nasional, terutama ketika permintaan energi meningkat tajam akibat pertumbuhan pusat data kecerdasan buatan (AI), industri manufaktur, dan sektor teknologi.

Sejumlah pejabat energi AS sebelumnya telah memperingatkan bahwa penghentian dini pembangkit listrik konvensional berpotensi meningkatkan risiko kekurangan pasokan listrik di beberapa wilayah, khususnya saat musim panas dan musim dingin ketika konsumsi energi mencapai puncaknya.

Trump juga menegaskan bahwa ketergantungan yang terlalu besar pada sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya dapat menimbulkan tantangan baru bagi keandalan sistem kelistrikan apabila tidak didukung kapasitas penyimpanan energi yang memadai.

Klaim Ciptakan Ribuan Lapangan Kerja

Menurut Trump, pembangunan terminal ekspor batu bara di Oakland, California diperkirakan mampu menciptakan lebih dari 1.400 lapangan kerja baru. Secara keseluruhan, paket investasi tersebut diklaim akan mendukung sekitar 14.000 pekerjaan di sektor pertambangan, pembangkitan listrik, konstruksi, hingga logistik.

Adapun pembangkit listrik tenaga batu bara yang akan menerima dukungan investasi tersebar di sejumlah negara bagian, termasuk Kentucky, North Carolina, Indiana, Tennessee, Arkansas, Arizona, Oklahoma, North Dakota, Wisconsin, dan West Virginia.

Wilayah-wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai pusat industri batu bara AS yang mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir akibat persaingan dari gas alam yang lebih murah dan percepatan pengembangan energi terbarukan.

Harga Energi Melonjak akibat Konflik Timur Tengah

Pengumuman investasi ini datang di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi global. Konflik yang melibatkan Iran serta gangguan terhadap jalur distribusi minyak dunia, termasuk risiko penutupan Selat Hormuz, telah memicu kenaikan harga minyak mentah dan bahan bakar.

Trump berpendapat bahwa penguatan sektor batu bara dapat membantu mengurangi ketergantungan AS terhadap gejolak pasar energi internasional sekaligus menjaga harga listrik tetap terjangkau bagi rumah tangga dan pelaku usaha.

Ia mengklaim bahwa rencana tersebut berpotensi menghemat biaya pembangunan pembangkit listrik baru hingga US$50 miliar atau sekitar Rp901,9 triliun. Menurutnya, tanpa kebijakan tersebut, biaya investasi energi yang lebih mahal pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen melalui tarif listrik yang lebih tinggi.

Data dari AAA menunjukkan rata-rata harga bensin di Amerika Serikat mencapai US$4,24 per galon pada Kamis pekan ini, meningkat signifikan dibandingkan US$2,98 per galon ketika konflik antara AS, Israel, dan Iran mulai memanas.

Sementara itu, data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan harga energi secara keseluruhan naik 17,9% hingga April 2026. Kenaikan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi dan meningkatkan biaya hidup masyarakat.

Menuai Dukungan dan Kritik

Kebijakan Trump untuk menghidupkan kembali industri batu bara mendapat dukungan dari kelompok pekerja tambang, perusahaan energi konvensional, dan sejumlah negara bagian penghasil batu bara yang menilai langkah tersebut dapat menjaga lapangan kerja serta meningkatkan keamanan energi nasional.

Namun, sejumlah kelompok lingkungan mengkritik kebijakan tersebut karena dinilai berpotensi memperlambat transisi menuju energi bersih. Mereka berargumen bahwa investasi besar di sektor batu bara dapat meningkatkan emisi karbon dan menyulitkan AS mencapai target pengurangan emisi jangka panjang.

Meski demikian, pemerintahan Trump menegaskan bahwa teknologi batu bara modern telah mengalami peningkatan efisiensi dan pengurangan emisi dibandingkan pembangkit generasi lama. Pemerintah juga berpendapat bahwa batu bara tetap menjadi bagian penting dari bauran energi nasional selama proses transisi energi berlangsung.

Dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan tingginya permintaan energi domestik, langkah Trump menggelontorkan ratusan juta dolar ke sektor batu bara diperkirakan akan menjadi salah satu kebijakan energi paling kontroversial sekaligus paling berpengaruh di Amerika Serikat sepanjang 2026.