Iran Serang Kuwait, Harga Minyak Justru Merosot

Iran Serang Kuwait, Harga Minyak Justru Merosot

Harga Minyak Dunia Bergerak Tipis, Konflik AS-Iran dan Serangan ke Kuwait Jadi Sorotan

Harga minyak dunia bergerak relatif terbatas pada perdagangan Kamis, 3 September 2026, atau Jumat pagi waktu Indonesia. Pergerakan harga minyak masih dibayangi meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah serangkaian serangan kembali terjadi di kawasan Timur Tengah.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian pasar adalah serangan terhadap sejumlah sekutu AS di kawasan Teluk. Kuwait pada Kamis melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya berupaya mencegat rudal dan pesawat nirawak atau drone yang masuk ke wilayah negara tersebut.

Mengutip CNBC, Jumat (4/9/2026), harga minyak mentah Brent turun 11 sen menjadi US$95,52 per barel. Brent sebelumnya sempat menembus level US$97 per barel dalam sesi perdagangan sebelumnya sebelum kembali melemah.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat justru menguat 29 sen dan menetap di US$91,30 per barel.

Perbedaan arah pergerakan Brent dan WTI menunjukkan bahwa pasar minyak masih berada dalam kondisi sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Investor harus menimbang dua faktor sekaligus, yakni risiko terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah dan kemungkinan konflik tidak berlangsung dalam waktu lama.

Kuwait Hadapi Serangan Iran

Angkatan bersenjata Kuwait menyatakan pada Kamis bahwa negaranya sedang menghadapi apa yang disebut sebagai “agresi Iran yang berkelanjutan”.

Sistem pertahanan udara Kuwait dikerahkan untuk menghadapi rudal dan drone yang masuk ke wilayah negara tersebut, menurut laporan Kuwait Times.

Kuwait memiliki posisi strategis dalam industri energi global. Negara tersebut merupakan salah satu produsen minyak utama di kawasan Teluk dan memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Amerika Serikat.

Karena itu, serangan terhadap Kuwait menjadi perhatian pasar minyak. Bukan hanya karena potensi dampaknya terhadap produksi minyak Kuwait, tetapi juga karena eskalasi serangan terhadap negara-negara Teluk dapat meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi, fasilitas ekspor, jalur pelayaran, dan fasilitas penyimpanan minyak.

Pasar biasanya langsung memasukkan risiko tersebut ke dalam harga ketika muncul kemungkinan bahwa konflik dapat meluas dari serangan terhadap target militer menjadi gangguan terhadap infrastruktur energi.

Harga Minyak AS Naik Lebih dari 9% dalam Sepekan

Kenaikan harga minyak semakin terlihat dalam perdagangan pekan ini. Harga WTI telah menguat lebih dari 9% sepanjang pekan setelah konflik AS-Iran kembali memanas.

Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik di pasar minyak.

Selama konflik berlangsung, perhatian utama investor tertuju pada Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut merupakan salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi dunia karena menjadi jalur bagi pengiriman minyak mentah dan produk minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.

Gangguan terhadap Selat Hormuz dapat memberikan dampak besar terhadap harga minyak karena negara-negara konsumen di Asia, Eropa, dan kawasan lainnya bergantung pada arus energi yang melewati jalur tersebut.

Lebih dari 17 Juta Barel Minyak Lewat Selat Hormuz

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada CNBC bahwa lebih dari 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin.

Angka tersebut menjadi salah satu volume tertinggi selama konflik berlangsung dan menunjukkan bahwa jalur perdagangan minyak masih beroperasi meskipun risiko keamanan meningkat.

Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak dilaporkan melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Dengan demikian, arus minyak pada Senin memang masih berada di bawah tingkat sebelum perang, tetapi tetap menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas perdagangan energi masih dapat berlangsung.

Bagi pasar, kondisi ini menjadi faktor penting. Selama kapal tanker masih dapat melewati Selat Hormuz, kekhawatiran mengenai kelangkaan pasokan minyak global dapat ditekan.

Namun, situasinya dapat berubah dengan cepat apabila serangan militer membuat perusahaan pelayaran mengurangi aktivitas atau meningkatkan premi asuransi dan biaya pengiriman.

Selat Hormuz Jadi Kunci Pergerakan Harga Minyak

Selat Hormuz menjadi pusat perhatian karena posisinya sebagai jalur penghubung antara produsen minyak utama di Teluk dan konsumen energi dunia.

Jika konflik semakin meluas dan lalu lintas kapal tanker terganggu, pasar dapat menghadapi risiko penurunan pasokan yang signifikan.

Gangguan tidak harus berupa penutupan total selat untuk memberikan dampak terhadap harga. Peningkatan risiko keamanan saja dapat membuat perusahaan pelayaran lebih berhati-hati, memperpanjang rute, meningkatkan biaya asuransi, atau menunda pengiriman.

Kondisi tersebut dapat menciptakan tekanan tambahan pada harga minyak.

Sebaliknya, jika jalur pelayaran tetap terbuka dan konflik mulai mereda, premi risiko geopolitik yang sebelumnya masuk ke harga minyak dapat berkurang. Dalam skenario tersebut, harga minyak berpotensi kembali dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti tingkat produksi, permintaan global, persediaan minyak, serta kebijakan negara-negara produsen.

AS Berupaya Melemahkan Kemampuan Iran

Konflik kembali memanas setelah periode relatif tenang. Washington berupaya mengurangi kemampuan Teheran untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Komando Pusat AS atau CENTCOM sebelumnya menyatakan bahwa militer AS telah menyelesaikan serangkaian serangan terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran.

Serangan tersebut menyasar sejumlah fasilitas pertahanan udara, sistem radar, aset maritim, kemampuan peletakan ranjau, serta fasilitas komunikasi.

Tujuan dari operasi tersebut antara lain mengurangi kemampuan Iran untuk mengganggu aktivitas militer dan pelayaran di kawasan.

Namun, serangan tersebut kemudian dibalas oleh Iran. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Garda Revolusi menyerang sejumlah posisi militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Meluasnya lokasi serangan membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan konflik regional yang lebih besar.

Trump Sebut Konflik Mungkin Tidak Berlangsung Lama

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa dirinya tidak memperkirakan konflik akan berlangsung dalam waktu panjang.

Trump mengatakan bahwa ia memperkirakan pertempuran tersebut tidak akan berlangsung lebih lama.

“Saya rasa ini tidak akan berlangsung lebih lama lagi,” ujar Trump.

“Saya tidak tahu seberapa kuat lagi mereka bisa menahannya,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi kenaikan harga minyak. Jika investor menilai konflik hanya berlangsung sementara, kekhawatiran mengenai gangguan pasokan jangka panjang akan lebih kecil.

Sebaliknya, apabila konflik berlanjut dan serangan terhadap negara-negara Teluk semakin sering terjadi, pasar dapat kembali menaikkan premi risiko pada harga minyak.

Harga Minyak Hampir Menyentuh US$100

Sebelum bergerak tipis pada Kamis, harga minyak dunia telah mengalami kenaikan tajam pada perdagangan Rabu.

Harga Brent naik sekitar 1% dan ditutup di US$95,63 per barel. Sementara minyak WTI menguat hampir 1% menjadi US$91,01 per barel.

Brent bahkan sempat mendekati US$97 per barel dalam perdagangan berikutnya.

Level US$100 per barel kini kembali menjadi perhatian pasar. Jika konflik semakin meningkat dan pasokan minyak benar-benar terganggu, harga Brent berpotensi mendapatkan dorongan tambahan menuju level psikologis tersebut.

Namun, level US$100 juga menjadi area yang dapat memicu respons dari konsumen dan produsen. Harga yang terlalu tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan biaya energi, memperbesar tekanan inflasi, dan berpotensi mengurangi permintaan.

Risiko Pasokan Menjadi Perhatian Utama

Pasar minyak saat ini tidak hanya memperhatikan apakah fasilitas produksi minyak terkena serangan. Investor juga memantau seluruh rantai pasokan energi, mulai dari produksi, penyimpanan, terminal ekspor, pelayaran hingga pengiriman ke konsumen.

Gangguan pada salah satu bagian rantai tersebut dapat meningkatkan biaya dan mengurangi jumlah minyak yang tersedia di pasar.

Kawasan Teluk menjadi sangat penting karena sejumlah produsen minyak terbesar dunia berada di wilayah tersebut.

Karena itu, eskalasi yang melibatkan negara-negara seperti Kuwait, Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar dapat memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas dibandingkan konflik yang hanya berlangsung di antara dua negara.

Blokade dan Sanksi AS Tambah Tekanan

Di sisi lain, Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Pemerintah AS mengubah pendekatan dengan memperluas tekanan terhadap Teheran melalui blokade laut dan kampanye sanksi.

Kebijakan tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap perdagangan minyak Iran karena sanksi dapat membatasi kemampuan negara tersebut menjual dan mengirimkan minyak ke pasar internasional.

Bagi pasar minyak, kebijakan tersebut menciptakan dua efek yang berlawanan.

Di satu sisi, pembatasan terhadap ekspor Iran dapat mengurangi pasokan minyak global.

Di sisi lain, apabila kebijakan tersebut berhasil menekan kemampuan Iran melakukan serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi, risiko gangguan di Selat Hormuz dapat berkurang.

Karena itu, investor akan terus mencermati perkembangan kebijakan AS sekaligus respons Iran.

Investor Kini Menunggu Arah Konflik

Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih sangat bergantung pada perkembangan militer di Timur Tengah.

Jika serangan berhenti dan lalu lintas kapal tanker kembali normal, harga minyak dapat kehilangan sebagian premi risiko geopolitiknya.

Namun, apabila serangan terhadap negara-negara Teluk terus meningkat atau aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz kembali terganggu, pasar berpotensi mendorong harga lebih tinggi.

Kondisi tersebut membuat Brent berada di sekitar US$95 per barel menjadi perhatian penting. Pasar akan melihat apakah harga mampu menembus kembali US$97 dan bergerak menuju US$100 atau justru kembali turun apabila risiko gangguan pasokan mereda.

Untuk WTI, level US$91 per barel juga menjadi area penting setelah harga mencatat kenaikan lebih dari 9% sepanjang pekan.

Pada akhirnya, arah harga minyak tidak hanya ditentukan oleh aksi militer AS dan Iran. Perkembangan diplomatik, keamanan Selat Hormuz, volume pengiriman minyak, respons negara-negara Teluk, kebijakan sanksi AS, serta kondisi permintaan global akan menjadi faktor yang menentukan.

Untuk sementara, pasar masih berada dalam posisi waspada. Selama konflik belum menunjukkan tanda penyelesaian yang jelas, risiko geopolitik kemungkinan tetap menjadi salah satu penggerak utama harga minyak dunia.