Stablecoin Diam-Diam Jadi Pembeli Utama Utang AS
Stablecoin Berpotensi Memperkuat Jangkauan Dolar AS di Dunia Kripto
Presiden Circle, Heath Tarbert, mengatakan kepada Kongres AS pada 2 September bahwa aturan AS untuk infrastruktur dolar digital dapat membantu memperkuat peran dolar di tingkat global.
Menurutnya, regulasi stablecoin dan aset digital dapat menjadi bagian penting dari strategi AS untuk mempertahankan dominasi dolar. Dengan aturan yang jelas, stablecoin berbasis dolar dapat berkembang lebih luas dan meningkatkan penggunaan dolar dalam pembayaran digital.
Namun, stablecoin tidak secara langsung menentukan seberapa banyak dolar yang disimpan oleh bank sentral sebagai cadangan devisa.
Stablecoin dan Cadangan Dolar Adalah Dua Hal Berbeda
Dolar AS menyumbang 57,13% dari total cadangan devisa global pada kuartal pertama 2026, naik dari 56,42% pada kuartal sebelumnya, berdasarkan data terbaru International Monetary Fund (IMF).
Namun, sekitar setengah dari kenaikan tersebut berasal dari perubahan nilai tukar. Artinya, peningkatan tersebut tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan pertumbuhan stablecoin.
IMF juga mengukur hal yang berbeda dengan pasar stablecoin. IMF mencatat cadangan valuta asing yang dimiliki bank sentral, sedangkan kapitalisasi pasar stablecoin menunjukkan nilai token yang diterbitkan perusahaan swasta.
Di pasar stablecoin, dominasi dolar jauh lebih kuat. Bank for International Settlements (BIS) memperkirakan sekitar 98% nilai stablecoin menggunakan denominasi dolar AS.
Hal ini menunjukkan bahwa stablecoin membantu memperluas penggunaan dolar dalam pembayaran dan penyimpanan nilai secara digital.
Bagaimana Regulasi Stablecoin Bisa Membantu Dolar?
GENIUS Act menetapkan sejumlah aturan bagi penerbit stablecoin di AS. Penerbit diwajibkan memiliki cadangan yang memenuhi syarat, menyediakan penebusan stablecoin pada nilai nominal, memberikan informasi kepada pengguna, serta mematuhi aturan terkait kejahatan keuangan.
Aturan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan terhadap stablecoin. Regulasi juga dapat mendorong penerbit untuk menyimpan lebih banyak aset yang aman dan likuid, termasuk surat utang jangka pendek pemerintah AS atau Treasury bills.
GENIUS Act disahkan menjadi undang-undang pada Juli 2025. Namun, sebagian besar ketentuan utamanya belum berlaku ketika Tarbert memberikan kesaksian.
Berdasarkan pemberitahuan Departemen Keuangan AS pada Agustus, aturan tersebut diperkirakan mulai berlaku secara umum pada 18 Januari 2027, kecuali aturan pelaksana final mengubah jadwal tersebut.
Sementara itu, pembatasan yang lebih luas terhadap penerbit tidak berlisensi yang menawarkan payment stablecoin dijadwalkan mulai berlaku pada 18 Juli 2028.
Stablecoin Bisa Meningkatkan Permintaan Treasury AS
Penerbit stablecoin membutuhkan aset yang likuid untuk memenuhi permintaan penebusan dari pengguna. Treasury bills menjadi salah satu aset yang dapat digunakan untuk kebutuhan tersebut.
Analisis Treasury Borrowing Advisory Committee menunjukkan bahwa Treasury bills menyumbang sekitar 53% dari aset yang dimiliki Tether dan Circle, berdasarkan data hingga September 2025.
Kepemilikan Treasury bills oleh kedua perusahaan tersebut meningkat sekitar US$70 miliar sejak 2022.
Meski demikian, kepemilikan penerbit stablecoin masih kurang dari 1% dari total Treasury AS yang beredar.
Artinya, pembelian stablecoin memang dapat memberikan tambahan permintaan terhadap Treasury bills, tetapi belum cukup besar untuk menentukan keseluruhan permintaan terhadap utang pemerintah AS.
Federal Reserve memperkirakan kapitalisasi pasar stablecoin mencapai sekitar US$317 miliar pada 6 April 2026, atau lebih dari 50% lebih tinggi dibandingkan awal 2025.
Pertumbuhan Stablecoin Juga Membawa Risiko
Pertumbuhan stablecoin tidak hanya memberikan manfaat. Ada juga risiko terhadap sistem keuangan.
Federal Reserve memperingatkan bahwa semakin erat hubungan stablecoin dengan bank dan pasar keuangan tradisional, semakin besar pula kemungkinan masalah menyebar ke sektor lain.
Jika penerbit stablecoin besar mengalami masalah likuiditas atau gangguan operasional, dampaknya dapat merembet ke pasar keuangan yang lebih luas.
BIS juga memperingatkan bahwa penggunaan stablecoin berbasis dolar secara besar-besaran dapat mendorong masyarakat di sejumlah negara meninggalkan mata uang lokal mereka.
Kondisi ini berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan moneter dan membuat pemerintah lebih sulit mengendalikan arus modal.
Selain itu, tabungan dari negara berkembang dapat semakin banyak mengalir ke aset berbasis dolar, termasuk Treasury bills AS.
Jika terjadi penarikan besar-besaran terhadap stablecoin, tekanan tersebut juga dapat menyebar ke pasar keuangan lokal maupun pasar dolar jangka pendek.
Stablecoin Bisa Memperluas Dominasi Dolar, Tapi Tidak Menjaminya
Argumen Tarbert paling kuat terlihat dari sisi penggunaan dolar di sektor swasta dan ekonomi digital.
Regulasi AS dapat menentukan bagaimana stablecoin beroperasi, aset apa yang menjadi cadangannya, serta seberapa luas stablecoin berbasis dolar digunakan dalam pembayaran digital.
Dengan demikian, stablecoin dapat membantu memperluas jangkauan dolar di ekonomi digital global.
Namun, keputusan mengenai cadangan devisa tetap berada di tangan bank sentral masing-masing negara.
Bank sentral mempertimbangkan berbagai faktor, seperti stabilitas ekonomi, kebijakan pemerintah, kondisi institusi, likuiditas pasar, serta tingkat kepercayaan terhadap ekonomi AS.
Singkatnya, stablecoin dapat memperluas penggunaan dolar secara digital dan meningkatkan permintaan terhadap utang pemerintah AS jangka pendek. Namun, stablecoin tidak bisa menjamin dolar tetap menjadi mata uang cadangan utama dunia.
Dominasi dolar dalam cadangan devisa pada akhirnya tetap bergantung pada kebijakan ekonomi dan tingkat kepercayaan global terhadap dolar AS.
0 Comments