Kunjungan Kerja Prabowo ke Sejumlah Negara Hasilkan Investasi Rp2.430 Triliun

Kunjungan Kerja Prabowo ke Sejumlah Negara Hasilkan Investasi Rp2.430 Triliun

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa rangkaian kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke berbagai negara selama sekitar 1,5 tahun terakhir telah menghasilkan sejumlah capaian konkret bagi Indonesia. Menurutnya, diplomasi yang dilakukan Presiden tidak hanya bersifat seremonial, melainkan memberikan manfaat nyata dalam bentuk peningkatan investasi, perluasan akses pasar ekspor, penguatan sektor pertahanan, hingga peningkatan kerja sama strategis di berbagai bidang.

Teddy menilai anggapan yang menyebut kunjungan luar negeri Presiden hanya sebatas agenda simbolis tidak sesuai dengan fakta yang ada. Ia mengatakan hasil yang diperoleh dari berbagai pertemuan bilateral maupun forum internasional telah memberikan dampak langsung terhadap kepentingan nasional Indonesia.

“Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” ujar Teddy dalam tayangan Sekretariat Kabinet, Selasa (2/6/2026).

Menurut Teddy, salah satu capaian penting dalam diplomasi pemerintahan Presiden Prabowo adalah keberhasilan Indonesia bergabung dalam kelompok negara berkembang BRICS. Keanggotaan tersebut dinilai memiliki nilai strategis karena membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas dengan sejumlah negara besar seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan serta negara-negara mitra lainnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan Indonesia di BRICS dapat memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan internasional sekaligus memperluas akses terhadap pembiayaan pembangunan, investasi, dan kerja sama energi. Selain itu, kerja sama yang lebih erat dengan negara-negara anggota BRICS juga dinilai dapat membantu menjaga stabilitas pasokan energi nasional, termasuk bahan bakar minyak (BBM), di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.

Di sektor perdagangan, Teddy menyebut Indonesia memperoleh keuntungan signifikan melalui perluasan akses pasar ekspor. Sejak tahun 2025, berbagai produk ekspor Indonesia disebut telah menikmati tarif masuk 0 persen ke 25 negara di kawasan Uni Eropa. Kebijakan tersebut membuka peluang yang lebih besar bagi produk Indonesia untuk bersaing di pasar internasional.

Komoditas unggulan seperti produk perikanan, tekstil, alas kaki, furnitur, produk pertanian, hingga berbagai produk manufaktur diperkirakan akan mendapatkan manfaat dari kebijakan tersebut. Dengan hambatan tarif yang semakin rendah, pelaku usaha nasional memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan volume ekspor sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Pemerintah berharap peningkatan akses pasar tersebut dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan devisa negara dari sektor perdagangan luar negeri.

Investasi Tembus Rp2.430 Triliun

Di sektor ekonomi, Teddy memaparkan data yang menunjukkan tingginya minat investor terhadap Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total investasi yang masuk ke Indonesia selama 1,5 tahun terakhir mencapai Rp2.430 triliun.

Nilai investasi tersebut berasal dari kombinasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) yang tersebar di berbagai sektor strategis, mulai dari industri manufaktur, hilirisasi mineral, energi baru terbarukan, infrastruktur, teknologi digital, hingga industri kendaraan listrik.

Menurut Teddy, angka tersebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap kuat di tengah perlambatan ekonomi dunia dan berbagai ketidakpastian geopolitik.

Jumlah investasi tersebut bahkan masih berpotensi bertambah. Teddy mengungkapkan bahwa kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan pada bulan lalu berhasil menghasilkan komitmen investasi baru senilai Rp575 triliun.

Komitmen investasi tersebut mencakup sejumlah proyek strategis, termasuk pengembangan industri hilirisasi, manufaktur berteknologi tinggi, penguatan rantai pasok kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur energi, serta kerja sama di sektor teknologi dan ekonomi digital.

Dengan tambahan komitmen tersebut, total nilai investasi dan komitmen investasi yang berhasil dihimpun pemerintah mencapai lebih dari Rp3.000 triliun. Pemerintah optimistis realisasi investasi tersebut akan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun ke depan.

Perkuat Ketahanan dan Kerja Sama Pertahanan

Selain fokus pada ekonomi, pemerintah juga terus memperkuat sektor pertahanan melalui kerja sama dengan berbagai negara mitra. Teddy mengatakan Indonesia kini memiliki dukungan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang semakin kuat berkat kolaborasi dengan sejumlah negara sahabat.

Kerja sama tersebut melibatkan berbagai negara, antara lain Prancis, Amerika Serikat, Rusia, China, dan Inggris. Bentuk kerja sama tidak hanya mencakup pengadaan alutsista, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelatihan militer, hingga pengembangan industri pertahanan dalam negeri.

Menurut Teddy, penguatan sektor pertahanan merupakan bagian penting dari strategi diplomasi Indonesia untuk menjaga stabilitas dan kedaulatan nasional. Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan berbagai tantangan keamanan kawasan, Indonesia perlu memastikan kesiapan sistem pertahanannya agar mampu menghadapi berbagai potensi ancaman.

Ia menegaskan bahwa diplomasi yang dijalankan Presiden Prabowo mengedepankan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi landasan hubungan internasional Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, Indonesia berupaya menjalin hubungan baik dengan seluruh negara mitra tanpa berpihak pada blok kekuatan tertentu.

Pemerintah meyakini bahwa kombinasi antara penguatan ekonomi, perluasan akses pasar, peningkatan investasi, serta modernisasi pertahanan akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan target Indonesia sebagai negara maju dan kekuatan ekonomi besar dunia dalam beberapa dekade mendatang.