Negosiasi Tarif AS Hampir Selesai, Apakah Ada Perubahan?

Negosiasi Tarif AS Hampir Selesai, Apakah Ada Perubahan?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa proses negosiasi tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah memasuki tahap akhir dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Kesepakatan final nantinya akan ditandatangani langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat hubungan dagang kedua negara.

Airlangga menjelaskan bahwa tim delegasi Indonesia telah berangkat ke Amerika Serikat untuk melakukan pembahasan terakhir. Saat ini, kedua pihak tengah fokus pada penyusunan dan penelaahan dokumen perjanjian final atau yang dikenal dengan proses legal scrubbing, guna memastikan seluruh aspek hukum, teknis, dan substansi kerja sama telah sesuai dengan kepentingan masing-masing negara.

“Delegasi sedang berangkat. Minggu depan kita akan melihat perkembangan proses legal scrubbing-nya. Kalau tahap ini sudah selesai, barulah kita mengatur jadwal Bapak Presiden untuk menandatangani kesepakatan tersebut,” ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Menurutnya, dari sisi substansi, tidak terdapat perubahan besar terkait struktur tarif yang telah disepakati sebelumnya. Penyesuaian yang dilakukan lebih bersifat teknis dan detail administratif dalam dokumen perjanjian. “Secara konten tidak ada perubahan. Ini lebih kepada perapihan dan penyesuaian detail agar implementasinya nanti berjalan lancar,” tegasnya.

Akses Mineral Kritis Sudah Lama Diberikan

Menanggapi isu akses Amerika Serikat terhadap mineral kritis Indonesia, Airlangga menegaskan bahwa kerja sama tersebut bukanlah hal baru. Indonesia telah memberikan akses terhadap komoditas strategis, khususnya tembaga, sejak puluhan tahun lalu melalui kerja sama dengan PT Freeport Indonesia.

“Akses Amerika terhadap mineral kritis itu sebenarnya sudah kita berikan sejak tahun 1967 melalui Freeport. Jadi ini bukan kebijakan baru,” jelas Airlangga. Ia menambahkan bahwa pengelolaan sumber daya alam Indonesia tetap berada dalam kerangka kedaulatan nasional dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Mandat Presiden: Seimbangkan Perdagangan Energi dan Pertanian

Selain tarif dan mineral kritis, sektor pertanian juga menjadi perhatian utama dalam negosiasi kali ini. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar neraca perdagangan Indonesia-AS lebih seimbang, terutama di sektor energi dan agrikultur.

“Perwakilan Amerika banyak membahas soal agriculture. Untuk sektor pertanian, perdagangan kita dengan Amerika sebenarnya masih positif,” ujar Airlangga.

Ia mengungkapkan bahwa nilai perdagangan energi yang dibahas mencapai sekitar USD 15 miliar, sementara sektor pertanian berada di kisaran USD 4,5 miliar. Saat ini, pembahasan tinggal difokuskan pada rincian komoditas pertanian apa saja yang akan masuk dalam kesepakatan tersebut.

“Sekarang tinggal detailnya, agriculture itu apa saja. Itu yang sedang difinalkan,” tambahnya.

Tarif 19 Persen untuk Lindungi Industri dan Pekerja

Dalam kesempatan terpisah, Airlangga juga menekankan bahwa pemerintah Indonesia masih terus bernegosiasi agar beberapa komoditas tertentu tidak dikenakan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat. Secara umum, tarif yang disepakati untuk produk Indonesia yang masuk ke pasar AS adalah sebesar 19 persen, jauh lebih rendah dibandingkan rencana awal yang mencapai 32 persen.

“Angka 19 persen ini sudah menjadi kesepakatan antara Bapak Presiden dan pemerintah Amerika Serikat. Dan ini sangat penting karena melindungi sekitar 5 juta pekerja di sektor padat karya,” kata Airlangga dalam acara Indonesia Connect Outlook 2026 di Jakarta.

Sektor-sektor yang dinilai paling diuntungkan antara lain industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furnitur, produk karet, kopi, serta kakao. Penurunan tarif ini diharapkan dapat menjaga daya saing produk Indonesia di pasar global sekaligus mencegah potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di dalam negeri.

Dorong Tarif Nol untuk Komoditas Unggulan RI

Lebih lanjut, Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia juga mengajukan permintaan tarif nol persen untuk sejumlah komoditas unggulan, seperti kopi, kakao, kelapa sawit, dan karet. Alasannya, komoditas tersebut tidak diproduksi secara signifikan di Amerika Serikat sehingga tidak menimbulkan persaingan langsung dengan petani atau industri lokal AS.

“Kopi, kakao, kelapa sawit, dan karet termasuk produk yang kita dorong untuk mendapatkan bea masuk nol ke Amerika,” jelasnya.

Untuk memastikan kelanjutan negosiasi berjalan sesuai target, Airlangga dijadwalkan kembali melakukan pertemuan dengan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut akan membahas jadwal dan tahapan akhir menuju penandatanganan reciprocal agreement antara Indonesia dan Amerika Serikat.

“Sampai saat ini pembicaraan masih terus berjalan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa menentukan target penandatanganan kesepakatan tersebut,” pungkas Airlangga.