Pasokan Stablecoin Arc Melonjak 33,51%, USDC Capai US$821 Juta

Pasokan Stablecoin Arc Melonjak 33,51%, USDC Capai US$821 Juta

Pasokan stablecoin di blockchain Arc mengalami peningkatan tajam dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data DefiLlama, total pasokan stablecoin di jaringan tersebut naik 33,51% menjadi sekitar US$830,34 juta. Kenaikan ini terjadi ketika pasokan stablecoin global justru mengalami penurunan.

Dalam periode yang sama, total pasokan stablecoin global berkurang sekitar US$1,25 miliar menjadi US$304,89 miliar. Perbedaan tren ini menunjukkan adanya pergeseran likuiditas ke jaringan Arc di tengah kontraksi pasar stablecoin secara keseluruhan.

Hampir seluruh pasokan stablecoin di Arc berasal dari USD Coin (USDC), stablecoin yang diterbitkan oleh Circle. Nilai USDC di jaringan tersebut mencapai sekitar US$821 juta, atau setara dengan 98,9% dari total pasokan stablecoin Arc.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 34% dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, stablecoin yang nilainya dipatok terhadap euro dan pound sterling masih memiliki kontribusi yang relatif kecil.

USDT Masih Mendominasi Pasar Stablecoin Global

Di pasar global, Tether (USDT) masih menjadi stablecoin dengan kapitalisasi terbesar. Berdasarkan data yang dikutip, pasokan USDT mencapai sekitar US$182,51 miliar, atau 59,86% dari total pasokan stablecoin global.

USDC menempati posisi kedua dengan pasokan sekitar US$72,10 miliar.

Meskipun pasokan USDC di Arc meningkat tajam, pertumbuhan tersebut belum menunjukkan pemulihan menyeluruh di pasar stablecoin. Sebaliknya, data tersebut mengindikasikan bahwa likuiditas USDC semakin terkonsentrasi di jaringan Arc.

Dengan demikian, kenaikan pasokan stablecoin di Arc lebih mencerminkan perpindahan likuiditas antarjaringan daripada pertumbuhan pasar secara keseluruhan.

Mengenal Arc, Blockchain Layer-1 Milik Circle

Arc merupakan blockchain Layer-1 terbuka yang dikembangkan oleh Circle dengan fokus pada kebutuhan perusahaan dan institusi. Jaringan ini kompatibel dengan Ethereum Virtual Machine (EVM), sehingga dirancang untuk mendukung ekosistem aplikasi yang menggunakan teknologi Ethereum.

Salah satu keunggulan yang ditawarkan Arc adalah biaya transaksi yang dirancang agar lebih mudah diprediksi. Jaringan ini menggunakan stablecoin seperti USDC sebagai dasar penetapan biaya transaksi, bukan mengandalkan token asli yang harganya dapat berfluktuasi.

Pendekatan tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan pembayaran, penyelesaian transaksi, dan pengelolaan likuiditas digital bagi perusahaan maupun institusi keuangan.

Lonjakan pasokan USDC di Arc menunjukkan bahwa semakin banyak likuiditas stablecoin berada di jaringan tersebut. Pengguna dapat menyimpan, mentransfer, atau memanfaatkan USDC melalui berbagai aktivitas yang didukung oleh ekosistem Arc.

Namun, dari sisi total likuiditas stablecoin, Arc masih berada di bawah blockchain besar seperti Ethereum dan Tron yang memiliki cadangan stablecoin bernilai miliaran dolar AS.

Perpindahan Likuiditas Jadi Sorotan Pasar

Kenaikan pasokan stablecoin di Arc ketika pasar global mengalami penurunan memperlihatkan adanya perbedaan pergerakan likuiditas antarjaringan blockchain.

Sejumlah faktor berpotensi menjelaskan perubahan tersebut, termasuk penerbitan USDC baru, pemindahan aset melalui mekanisme bridging, atau penyesuaian alokasi dana oleh Circle dan pelaku pasar lainnya.

Namun, data pasokan yang tersedia belum cukup untuk memastikan penyebab utama lonjakan tersebut. Data itu hanya menunjukkan bahwa jumlah USDC yang berada di jaringan Arc meningkat dibandingkan tujuh hari sebelumnya.

Karena itu, pelaku pasar perlu membedakan antara pertumbuhan pasokan pada satu blockchain dan pertumbuhan pasar stablecoin secara keseluruhan.

Pemantauan arus likuiditas menjadi penting karena dapat membantu investor memahami bagaimana aset digital digunakan dan didistribusikan di berbagai jaringan. Perubahan tersebut juga dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan ekosistem blockchain yang berfokus pada transaksi stablecoin.

Stablecoin dan Pergerakan Token Kripto

Selain perpindahan likuiditas stablecoin, pasar kripto juga menghadapi perubahan cepat pada segmen token meme. Pergerakan harga aset tersebut sering dipengaruhi tren internet, aktivitas komunitas, dan perubahan minat investor.

Salah satu contoh yang disebutkan dalam data Fomo App adalah token meme Niu Lai. Berdasarkan laporan tersebut, investasi awal sebesar US$99 disebut berkembang menjadi US$370.000.

Meski demikian, hasil tersebut merupakan contoh individual dan tidak mencerminkan potensi keuntungan yang dapat diharapkan oleh semua investor. Token meme memiliki volatilitas tinggi dan berisiko mengalami penurunan harga secara tajam.

Platform seperti Fomo App menyediakan fitur penemuan token, perdagangan, informasi sosial, peringkat investor, dan pemberitahuan aktivitas transaksi. Informasi tersebut dapat membantu pengguna memantau perkembangan pasar, tetapi tidak menjamin keuntungan investasi.

Prospek Stablecoin di Berbagai Blockchain

Lonjakan pasokan USDC di Arc menegaskan pentingnya memperhatikan distribusi stablecoin di berbagai jaringan, bukan hanya melihat perubahan total pasokan global.

Stablecoin digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari perdagangan aset kripto hingga transfer dana dan penyelesaian transaksi digital. Karena itu, perubahan jumlah stablecoin pada suatu jaringan dapat menjadi indikator aktivitas dan pergeseran likuiditas di dalam ekosistemnya.

Meski pasokan stablecoin Arc meningkat 33,51% dalam sepekan, data tersebut belum membuktikan adanya peningkatan permintaan stablecoin secara menyeluruh.

Perkembangan berikutnya akan bergantung pada keberlanjutan arus USDC ke Arc, aktivitas pengguna, serta kemampuan jaringan tersebut menarik penggunaan dari perusahaan dan institusi.

Bagi pelaku pasar, memantau perubahan pasokan USDC di Arc bersama perkembangan USDT dan USDC secara global dapat membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai arah likuiditas di pasar kripto.