Pengusaha Mengeluh karena Harga Plastik Naik

Pengusaha Mengeluh karena Harga Plastik Naik

Kenaikan Harga Plastik Tekan Dunia Usaha, Apindo Minta Respons Cepat Pemerintah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti dampak serius dari lonjakan harga plastik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan ini tidak hanya membebani biaya produksi, tetapi juga menempatkan pelaku usaha dalam posisi sulit karena harus menyeimbangkan antara menjaga harga jual dan menanggung kenaikan biaya.

Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menjelaskan bahwa situasi global, khususnya konflik geopolitik di Timur Tengah, menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga plastik. Kondisi tersebut berdampak langsung pada rantai pasok bahan baku industri petrokimia.

“Pelaku usaha saat ini berada dalam posisi yang sangat menantang. Di satu sisi harus menjaga harga tetap terjangkau bagi konsumen demi mempertahankan daya beli, namun di sisi lain biaya produksi terus meningkat signifikan,” ujarnya.

Gangguan Global Picu Lonjakan Biaya

Salah satu faktor utama adalah terganggunya jalur logistik di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi global. Ketegangan di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan nafta—dua bahan baku utama dalam produksi plastik.

Kenaikan harga energi ini kemudian berdampak berantai:

  • Harga resin plastik melonjak tajam

  • Biaya logistik meningkat akibat keterbatasan jalur distribusi

  • Pasokan bahan baku menjadi semakin terbatas

Akibatnya, berbagai sektor industri terdampak langsung, terutama yang sangat bergantung pada kemasan plastik seperti industri makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, hingga ritel.

Menurut Apindo, kenaikan harga plastik saat ini sudah melampaui batas normal. Bahkan pada beberapa jenis tertentu, lonjakan harga tercatat bisa mencapai lebih dari 100 persen dalam waktu relatif singkat.

Padahal, komponen plastik memiliki kontribusi besar dalam struktur biaya produksi. Untuk banyak produk, plastik bisa menyumbang sekitar 20–40 persen dari total biaya produksi, bahkan mencapai 50–80 persen pada produk tertentu. Kondisi ini membuat lonjakan harga plastik langsung berdampak besar terhadap harga pokok produksi.

UMKM Paling Tertekan

Dampak paling berat dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak UMKM yang bergantung pada kemasan plastik untuk operasional sehari-hari, namun memiliki margin keuntungan yang relatif tipis.

Kenaikan biaya produksi membuat keuntungan mereka semakin tergerus. Dalam beberapa kasus, pelaku usaha bahkan harus memilih antara menaikkan harga—yang berisiko menurunkan penjualan—atau menanggung kerugian.

Shinta mengingatkan, jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, maka dapat mengancam keberlanjutan usaha, terutama bagi UMKM yang tidak memiliki cadangan modal besar.

“Tekanan ini sudah mulai menggerus profitabilitas dan berpotensi mengganggu kelangsungan usaha,” katanya.

Dampak Meluas hingga Sektor Pangan

Kenaikan harga plastik juga mulai berdampak ke sektor lain, termasuk pertanian dan pangan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengakui bahwa lonjakan harga plastik telah menyebabkan gangguan di lapangan.

Salah satu contoh nyata adalah kelangkaan karung plastik yang digunakan untuk menyimpan gabah. Dalam beberapa kasus, hal ini bahkan menyebabkan pembelian hasil panen petani tertunda atau dibatalkan.

“Memang ada dampak yang terasa. Misalnya sekarang plastik, harganya naik luar biasa,” ujarnya.

Update: Tren Global dan Risiko ke Depan

Secara global, industri petrokimia memang sedang menghadapi tekanan ganda. Selain konflik geopolitik, faktor lain seperti:

  • pemangkasan produksi minyak oleh negara produsen,

  • gangguan rantai pasok pasca pandemi,

  • serta meningkatnya permintaan dari sektor industri

turut memperparah kondisi.

Beberapa analis memperkirakan harga plastik masih berpotensi fluktuatif dalam beberapa bulan ke depan, tergantung pada stabilitas kawasan Timur Tengah dan kelancaran distribusi energi global.

Di sisi lain, tren transisi ke bahan ramah lingkungan juga mulai meningkat. Namun, adopsinya masih terbatas karena biaya produksi yang relatif lebih tinggi dibanding plastik konvensional.

Perlu Respons Cepat dan Seimbang

Apindo menilai situasi ini membutuhkan respons kebijakan yang cepat dan terukur dari pemerintah. Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan dunia usaha, perlindungan tenaga kerja, dan daya beli masyarakat.

Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain:

  • menjaga stabilitas pasokan bahan baku industri,

  • memberikan insentif bagi pelaku usaha terdampak,

  • serta memperkuat rantai pasok domestik agar tidak terlalu bergantung pada impor.

Tanpa intervensi yang tepat, kenaikan harga plastik dikhawatirkan akan memicu efek domino, mulai dari kenaikan harga barang konsumsi hingga penurunan daya beli masyarakat secara luas.