Perak Antam Hari Ini Menguat, Harga Bertambah Rp 600

Perak Antam Hari Ini Menguat, Harga Bertambah Rp 600

Harga perak PT Aneka Tambang Tbk atau Antam melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Sabtu (9/5/2026), mengikuti penguatan harga perak global di tengah meningkatnya optimisme pasar terhadap meredanya ketegangan geopolitik dan prospek ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tetap solid.

Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga perak Antam hari ini naik Rp600 menjadi Rp51.700 per gram. Sebelumnya, harga perak Antam berada di level Rp51.100 per gram. Sementara itu, harga emas Antam tercatat stagnan dibanding perdagangan sebelumnya.

Antam saat ini menawarkan produk perak dalam beberapa varian, mulai dari perak batangan 250 gram, 500 gram hingga perak butiran dengan kadar kemurnian 99,95%. Harga perak batangan 250 gram dibanderol Rp13.450.000, sedangkan ukuran 500 gram dipatok Rp25.975.000.

Kenaikan harga perak domestik sejalan dengan reli harga perak dunia. Berdasarkan data Trading Economics, harga perak global melonjak sekitar 2,05% menjadi USD 79,97 per ounce. Bahkan pada perdagangan Jumat pekan ini, harga perak sempat menembus level psikologis USD 80 per ounce, level tertinggi sejak pertengahan Maret 2026.

Secara mingguan, harga perak dunia diperkirakan mencatat kenaikan lebih dari 7%. Reli ini didorong optimisme investor terhadap potensi kesepakatan damai antara AS dan Iran yang dinilai dapat meredakan tekanan inflasi global serta membuka ruang bagi bank sentral untuk lebih fleksibel terhadap kebijakan suku bunga.

Pasar juga mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah. Meski sempat terjadi serangan baru yang menjadi ujian serius terhadap gencatan senjata selama sebulan terakhir, pemerintah Iran menyebut situasi telah kembali normal. Presiden AS Donald Trump juga menegaskan bahwa gencatan senjata masih tetap berlaku.

Selain faktor geopolitik, sentimen positif juga datang dari data ekonomi AS. Laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan ekonomi Negeri Paman Sam menambah sekitar 115.000 pekerjaan pada bulan lalu, lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar sebesar 62.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran AS juga tetap stabil di level 4,3%, menandakan pasar tenaga kerja masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global.

Analis menilai kondisi tersebut meningkatkan minat investor terhadap logam mulia, khususnya perak, yang memiliki fungsi ganda sebagai aset safe haven sekaligus bahan baku industri. Berbeda dengan emas yang lebih dominan sebagai aset lindung nilai, perak juga banyak digunakan dalam industri elektronik, panel surya, kendaraan listrik, hingga teknologi energi bersih.

Permintaan industri yang terus meningkat menjadi salah satu faktor yang menopang harga perak sepanjang tahun ini. International Energy Agency (IEA) sebelumnya memperkirakan permintaan panel surya global masih akan tumbuh signifikan pada 2026, sehingga kebutuhan perak sebagai komponen utama diprediksi tetap tinggi.

Meski demikian, volatilitas harga logam mulia masih cukup tinggi. Sejak konflik geopolitik memanas pada akhir Februari lalu, harga perak tercatat sempat terkoreksi hampir 14%. Pelemahan itu dipicu lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mempersulit arah kebijakan suku bunga bank sentral global, terutama Federal Reserve.

Di sisi lain, harga emas dunia juga melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Mengutip CNBC, harga emas spot naik 0,8% menjadi USD 4.723,28 per ounce. Secara mingguan, harga emas batangan tercatat menguat sekitar 2,4%.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Juni naik 0,5% menjadi USD 4.733 per ounce. Penguatan harga emas terjadi di tengah kombinasi data ekonomi AS yang kuat dan meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran.

Tidak hanya emas dan perak, harga logam mulia lainnya juga bergerak variatif. Harga platinum naik 0,2% menjadi USD 2.026,80 per ounce dan berpotensi mencatat kenaikan mingguan. Sebaliknya, palladium turun 0,3% menjadi USD 1.476,18 per ounce dan masih melemah hampir 3% sepanjang pekan ini.

Direktur High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data tenaga kerja AS yang lebih kuat biasanya akan memperkuat dolar AS dan memberi tekanan terhadap emas. Namun kali ini pasar justru menunjukkan respons berbeda.

“Secara tradisional, kita akan berpikir angka pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan akan memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan pada emas. Namun, kita tidak benar-benar melihat hal itu terjadi hari ini,” ujar Meger dikutip dari CNBC.

Sejumlah analis memperkirakan harga perak masih berpotensi melanjutkan penguatan dalam jangka pendek apabila ketegangan geopolitik terus mereda dan permintaan industri tetap tinggi. Namun investor tetap diminta mewaspadai pergerakan dolar AS, kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta perkembangan konflik global yang dapat memicu volatilitas pasar sewaktu-waktu.