Persaingan Mengembangkan AI Telepati Kian Memanas, Peneliti OpenAI Rela Tinggalkan Kariernya

Persaingan Mengembangkan AI Telepati Kian Memanas, Peneliti OpenAI Rela Tinggalkan Kariernya

Mantan peneliti alignment OpenAI, Naomi Bashkansky, mengundurkan diri dari perusahaan tersebut pada 23 Juli dan bergabung dengan startup AI Conduit sehari kemudian sebagai peneliti pendiri (founding researcher). Di Conduit, ia mengembangkan model AI yang bertujuan mengubah sinyal otak non-invasif menjadi teks yang dapat dipahami agen AI. Bashkansky menyebut konsep ini sebagai “AI telepati.”

Dalam sebuah esai yang diterbitkan pada 4 Agustus, Bashkansky mengungkapkan bahwa ia bekerja di OpenAI selama sekitar 1,5 tahun sebelum memutuskan pindah. Menurutnya, pada 2027 sebuah headband (ikat kepala pintar) berpotensi mampu membaca niat dasar seseorang dan mengubahnya menjadi perintah (prompt) bagi agen AI, misalnya untuk membantu menulis kode.

Ia juga memprediksi bahwa pada 2030 sistem AI dapat memproses representasi sinyal otak secara langsung. Sementara pada 2035, teknologi komunikasi dua arah antara otak dan AI—yang mampu membaca sekaligus menulis informasi ke otak—berpotensi menjadi kenyataan. Namun, Bashkansky menegaskan bahwa seluruh skenario tersebut hanyalah prediksi optimistis dan bukan jadwal peluncuran produk resmi.

Conduit Bertaruh pada Data Sinyal Otak

Conduit meyakini bahwa kunci mewujudkan teknologi tersebut adalah mengumpulkan data sinyal otak dalam jumlah besar. Pada Desember 2025, perusahaan mengklaim telah mengumpulkan sekitar 10.000 jam data neuro-language dari ribuan partisipan.

Dalam proses pengumpulan data, para peserta mengenakan headset multimodal saat mengetik, berbicara, membaca, atau mendengarkan sambil berinteraksi dengan model bahasa besar (Large Language Model/LLM).

Conduit memang telah menampilkan beberapa contoh kemampuan sistemnya tanpa pelatihan tambahan (zero-shot). Namun, perusahaan belum merilis metrik performa secara keseluruhan, metode evaluasi, maupun hasil verifikasi dari pihak independen.

Menurut Bashkansky, performa model terus meningkat seiring bertambahnya data pelatihan. Ia juga menilai proyek di Conduit menawarkan ruang penelitian yang lebih luas dibandingkan riset alignment AI yang ia kerjakan saat masih berada di OpenAI.

Teknologi Brain-to-Text Masih Menghadapi Tantangan Besar

Meski perkembangan teknologi antarmuka otak dan AI terus berlanjut, berbagai penelitian menunjukkan bahwa teknologi brain-to-text masih berada pada tahap awal.

Pada Juni lalu, Meta melaporkan bahwa sistem Brain2Qwerty miliknya mampu mencapai akurasi pengenalan kata rata-rata sebesar 61%, bahkan mencapai 78% pada peserta dengan hasil terbaik. Penelitian tersebut melibatkan sembilan orang yang menggunakan perangkat magnetoencephalography (MEG) saat mengetik kalimat, dan hasilnya menunjukkan akurasi meningkat seiring bertambahnya data pelatihan.

Sementara itu, studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications dan melibatkan 723 partisipan juga menemukan bahwa penambahan data EEG dan MEG mampu meningkatkan performa model. Namun, penelitian tersebut hanya menguji aktivitas membaca dan mendengarkan, bukan menerjemahkan pikiran bebas menjadi teks. Tingkat akurasi yang dicapai pun masih sekitar 20% pada pengujian 50 kata.

Para peneliti menyimpulkan bahwa teknologi penerjemah sinyal otak menjadi teks tanpa prosedur invasif masih menjadi tantangan besar.

Bagi Conduit, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa kumpulan data selama 10.000 jam tersebut benar-benar dapat digunakan untuk membangun perangkat portabel yang mampu menerjemahkan pikiran manusia menjadi teks secara akurat. Hingga saat ini, perusahaan belum menunjukkan bukti publik bahwa teknologi tersebut telah berhasil diwujudkan.