Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Bisa Naik karena Lebaran dan Imlek

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Bisa Naik karena Lebaran dan Imlek

Pergeseran Lebaran 2026 Diprediksi Geser Momentum Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Kunci

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai pergeseran waktu Lebaran 2026 akan memengaruhi pola pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya pada awal tahun. Perubahan waktu Idul Fitri yang jatuh lebih awal dibanding tahun sebelumnya diperkirakan akan menggeser momentum konsumsi masyarakat dan berdampak pada distribusi pertumbuhan ekonomi antar kuartal.

Pada 2025, Idul Fitri jatuh pada 31 Maret, sedangkan pada 2026 diperkirakan jatuh pada 20 Maret. Perbedaan ini membuat aktivitas ekonomi yang biasanya terkonsentrasi pada kuartal kedua bergeser ke kuartal pertama.

Wijayanto menjelaskan bahwa momen Ramadan dan Lebaran merupakan salah satu periode dengan tingkat konsumsi tertinggi dalam setahun. Selama periode tersebut, masyarakat cenderung meningkatkan pengeluaran untuk berbagai kebutuhan, mulai dari makanan, pakaian, transportasi, hingga rekreasi.

“Pergeseran Idul Fitri dari 31 Maret 2025 menjadi 20 Maret 2026 tentunya akan mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026, baik secara year-on-year maupun quarter-to-quarter, mengingat momen Ramadan dan Lebaran mewakili sekitar 25–30% belanja rumah tangga,” ujarnya kepada Liputan6.com, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia, dengan porsi lebih dari 50%. Oleh karena itu, setiap perubahan dalam pola konsumsi musiman akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Ia menambahkan bahwa efek pergeseran ini bersifat musiman atau seasonal, sehingga tidak akan mengubah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dalam setahun, melainkan hanya memindahkan momentum pertumbuhan antar kuartal.

“Karena sifatnya seasonal, dampak terhadap pertumbuhan ekonomi tahunan tidak akan berubah signifikan. Hanya saja, dorongan pertumbuhan yang sebelumnya terjadi di kuartal kedua pada 2025 akan bergeser ke kuartal pertama pada 2026,” jelasnya.

Konsumsi Lebaran Selalu Jadi Motor Utama Ekonomi

Ramadan dan Lebaran secara historis menjadi pendorong utama konsumsi domestik. Pada periode ini, aktivitas ekonomi meningkat di berbagai sektor, seperti ritel, transportasi, logistik, pariwisata, dan makanan minuman.

Berdasarkan data historis Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga selalu mengalami peningkatan signifikan pada kuartal yang bertepatan dengan Ramadan dan Idul Fitri. Bahkan, sektor perdagangan dan transportasi biasanya mencatat pertumbuhan tertinggi pada periode tersebut.

Selain itu, fenomena mudik Lebaran juga menciptakan efek ekonomi berantai (multiplier effect), terutama di daerah tujuan mudik. Pengeluaran masyarakat di daerah, termasuk untuk transportasi lokal, makanan, dan akomodasi, turut mendorong perputaran ekonomi regional.

Bank Indonesia sebelumnya juga mencatat bahwa periode Ramadan dan Lebaran dapat meningkatkan peredaran uang tunai secara signifikan, yang mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi dan Insentif Transportasi

Untuk memperkuat daya beli masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, pemerintah telah menyiapkan berbagai stimulus ekonomi pada triwulan pertama 2026.

Presiden Prabowo Subianto telah menerima laporan mengenai pelaksanaan paket stimulus ekonomi dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada 11 Februari 2026.

Airlangga menyampaikan bahwa realisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kuartal pertama 2026 diperkirakan mencapai Rp60 triliun. Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi nasional.

“Dan ini tentu juga akan mendorong stimulasi perekonomian,” ujar Airlangga.

Selain itu, pemerintah juga memberikan berbagai insentif transportasi untuk mendukung mobilitas masyarakat selama periode Lebaran, antara lain

  • Diskon tiket kereta api sebesar 30%
  • Diskon angkutan laut sebesar 30%
  • Diskon tarif penyeberangan hingga 100%
  • Diskon tiket pesawat sebesar 17–18%, lebih tinggi dari tahun sebelumnya sekitar 11%
  • Diskon tarif tol di sejumlah ruas jalan

Total anggaran yang dialokasikan untuk insentif transportasi tersebut mencapai Rp911,16 miliar, yang terdiri dari Rp639,86 miliar dari APBN dan Rp271,5 miliar dari sumber non-APBN.

Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi, khususnya di sektor transportasi dan pariwisata.

Bantuan Sosial dan Dukungan Daya Beli Masyarakat

Pemerintah juga memperkuat perlindungan sosial melalui bantuan pangan kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Program ini mencakup pemberian:

  • 10 kilogram beras
  • 2 liter minyak goreng

Bantuan tersebut ditujukan kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat yang termasuk dalam kelompok desil 1 hingga desil 4, dengan total anggaran mencapai Rp11,92 triliun.

“Kami berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat menjaga kelancaran distribusi logistik agar bantuan ini tepat sasaran,” kata Airlangga.

Langkah ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan, sehingga konsumsi tetap stabil dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Kebijakan Work From Anywhere Dukung Aktivitas Ekonomi

Pemerintah juga menerapkan kebijakan kerja fleksibel atau work from anywhere (WFA) pada tanggal 16, 17, 25, 26, dan 27 Maret 2026.

Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan transportasi sekaligus memberi fleksibilitas bagi masyarakat dalam mempersiapkan perjalanan Lebaran.

Selain mendukung kelancaran mobilitas, kebijakan ini juga memungkinkan masyarakat tetap produktif sambil berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi, termasuk perjalanan dan konsumsi selama periode Lebaran.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh 5,11%

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai 5,11%. Angka ini sedikit di bawah target pemerintah yang sebelumnya diperkirakan sekitar 5,2%.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa meskipun tidak mencapai target, pertumbuhan tersebut tetap menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.

“Secara kumulatif ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11%,” ujarnya dalam konferensi pers, 5 Februari 2026.

Pada triwulan IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,39% secara tahunan (year-on-year), mendekati prediksi pemerintah sebesar 5,4%.

Nilai produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar:

  • Rp6.147,2 triliun atas dasar harga berlaku
  • Rp3.474,5 triliun atas dasar harga konstan

Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta peningkatan aktivitas sektor jasa dan perdagangan menjelang akhir tahun.

Prospek Ekonomi 2026 Tetap Stabil, Konsumsi Jadi Penopang Utama

Dengan adanya stimulus pemerintah, bantuan sosial, serta momentum konsumsi Lebaran, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan tetap stabil di kisaran 5% hingga 5,3%.

Para ekonom menilai konsumsi domestik akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global, termasuk perlambatan ekonomi di beberapa negara maju dan fluktuasi harga komoditas.

Selain konsumsi, investasi dan belanja pemerintah juga diharapkan berperan penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Secara keseluruhan, pergeseran waktu Lebaran 2026 tidak akan mengubah arah pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan, tetapi akan memengaruhi distribusi pertumbuhan antar kuartal. Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan kuatnya konsumsi domestik, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada pada jalur pertumbuhan yang positif sepanjang 2026.