Purbaya: Depresiasi Rupiah Masih Lebih Baik Dibanding Malaysia dan Thailand
Pemerintah menyatakan nilai tukar rupiah masih relatif stabil meskipun menghadapi tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini masih tergolong moderat dan bahkan lebih baik dibandingkan beberapa mata uang negara lain di kawasan Asia.
Menurut Purbaya, depresiasi rupiah tidak terlepas dari kondisi global yang sedang mengalami ketidakpastian, terutama akibat meningkatnya tensi geopolitik dan kebijakan moneter ketat di negara maju. Namun demikian, ia menilai tekanan terhadap rupiah masih dalam batas yang wajar dan mencerminkan ketahanan ekonomi nasional.
“Rupiah terdepresiasi secara moderat, sejalan dengan penguatan dolar AS secara global dan relatif lebih baik dibandingkan banyak negara di kelompok kita. Ini menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal dan moneter yang kuat,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan, sejak meningkatnya ketegangan geopolitik global—termasuk konflik yang melibatkan sejumlah negara di Timur Tengah—nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 0,3%. Meski mengalami tekanan, angka tersebut dinilai masih lebih baik dibandingkan depresiasi yang dialami beberapa mata uang regional.
Sebagai perbandingan, mata uang Malaysia tercatat melemah sekitar 0,5%, sementara mata uang Thailand bahkan mengalami pelemahan sekitar 1,6% pada periode yang sama. Kondisi ini, menurut Purbaya, menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia masih cukup terjaga di tengah dinamika global yang tidak menentu.
“Sejak konflik meningkat kita melihat rupiah terdepresiasi sekitar 0,3 persen. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara di sekitar kita, misalnya Malaysia sekitar 0,5 persen dan Thailand sekitar 1,6 persen,” jelasnya.
Fundamental Ekonomi Dinilai Tetap Kuat
Purbaya menegaskan bahwa kondisi ekonomi suatu negara tidak dapat dinilai hanya dari pergerakan nilai tukar. Menurutnya, penting untuk melihat indikator lain seperti stabilitas fiskal, pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa, hingga kondisi pasar keuangan secara keseluruhan.
Indonesia sendiri masih menunjukkan sejumlah indikator yang relatif positif. Pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di kisaran 5%, inflasi terjaga dalam target pemerintah, serta cadangan devisa dinilai cukup kuat untuk menahan gejolak eksternal.
Selain itu, koordinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter bank sentral juga dinilai berjalan efektif. Kolaborasi tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, khususnya ketika pasar global menghadapi tekanan dari kenaikan suku bunga di negara maju dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Ia juga menilai kekuatan fundamental ekonomi pada akhirnya akan tercermin pada kinerja pasar keuangan, termasuk pasar saham. Jika kondisi ekonomi tetap stabil, maka kepercayaan investor berpotensi meningkat kembali.
“Kalau fundamental ekonomi tetap kuat, pasar modal juga akan mencerminkan hal tersebut dalam jangka menengah hingga panjang,” kata Purbaya.
Bank Indonesia Siapkan Berbagai Strategi Stabilitas Rupiah
Sementara itu, Bank Indonesia memastikan akan terus mengambil langkah aktif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan internasional.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bank sentral akan terus hadir di pasar guna meminimalkan dampak dari gejolak eksternal tersebut.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar untuk mencegah dampak dari meluasnya konflik di Timur Tengah,” ujar Destry dalam keterangannya.
Bank sentral menegaskan komitmennya untuk melakukan intervensi secara tegas dan konsisten agar pergerakan rupiah tetap stabil serta sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.
Intervensi Dilakukan di Pasar Domestik dan Global
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia menggunakan berbagai instrumen kebijakan. Di pasar luar negeri, bank sentral melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF). Instrumen ini biasanya digunakan untuk mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap nilai tukar di pasar global.
Sementara di pasar domestik, intervensi dilakukan melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Kedua instrumen tersebut bertujuan menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran valas di dalam negeri.
Selain intervensi di pasar valuta asing, Bank Indonesia juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kebijakan ini bertujuan menjaga likuiditas di pasar keuangan sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
“Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi NDF di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” ujar Destry.
Dampak Global Masih Perlu Diwaspadai
Sejumlah analis menilai volatilitas nilai tukar rupiah masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga Federal Reserve di Amerika Serikat, pergerakan harga komoditas dunia, hingga perkembangan konflik geopolitik.
Meski demikian, stabilitas ekonomi domestik dan kebijakan yang responsif dari pemerintah serta Bank Indonesia dinilai dapat menjadi penopang utama bagi rupiah.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang hati-hati, stabilitas inflasi, serta intervensi aktif bank sentral, pemerintah optimistis nilai tukar rupiah akan tetap terjaga meskipun tekanan global masih berlangsung.
0 Comments