QRIS Cross Border di Korea Selatan Bisa Pakai BCA

QRIS Cross Border di Korea Selatan Bisa Pakai BCA

PT Bank Central Asia Tbk (Bank Central Asia Tbk atau BCA) menyatakan dukungan penuh terhadap implementasi QRIS Cross Border di Korea Selatan yang menjadi bagian dari perluasan ekosistem pembayaran digital lintas negara. Inisiatif ini merupakan langkah strategis yang diinisiasi oleh Bank Indonesia untuk memperkuat konektivitas sistem pembayaran Indonesia dengan negara lain, sekaligus mendorong transaksi yang lebih cepat, mudah, dan aman bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menegaskan bahwa kehadiran QRIS Cross Border di Korea Selatan menjadi momentum penting dalam transformasi sistem pembayaran digital nasional ke level internasional. Menurutnya, BCA berkomitmen untuk terus mendukung kebutuhan nasabah, terutama yang aktif bertransaksi saat bepergian atau beraktivitas di luar negeri.

“BCA siap mendukung implementasi layanan QRIS Cross Border di Korea Selatan. Kami mengapresiasi inisiatif Bank Indonesia dalam mengembangkan QRIS Cross Border sebagai solusi pembayaran yang mudah, cepat, dan efisien bagi masyarakat Indonesia di luar negeri,” ujar Hendra Lembong dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

Ekspansi QRIS Cross Border ke Korea Selatan

Implementasi QRIS Cross Border di Korea Selatan secara resmi diluncurkan pada 1 April 2026. Program ini merupakan hasil kerja sama antara Bank Indonesia dan Bank of Korea, yang bertujuan menghadirkan sistem pembayaran lintas negara yang lebih efisien, inklusif, dan terintegrasi.

Dengan peluncuran tersebut, QRIS Cross Border kini semakin memperluas jangkauannya setelah sebelumnya telah terhubung dengan beberapa negara mitra seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan kini Korea Selatan. Ekspansi ini menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam pengembangan interoperabilitas sistem pembayaran di kawasan Asia.

Bank Indonesia mencatat bahwa hingga awal 2026, total transaksi QRIS lintas negara telah menembus lebih dari 7,6 juta transaksi. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,9 juta transaksi berasal dari inbound (wisatawan asing di Indonesia), sementara 1,7 juta transaksi merupakan outbound yang dilakukan masyarakat Indonesia di luar negeri.

Pertumbuhan Transaksi QRIS Cross Border di BCA

BCA juga mencatat kontribusi signifikan dalam pertumbuhan penggunaan QRIS Cross Border. Berdasarkan data internal, transaksi yang diproses melalui sistem BCA di negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Jepang mengalami kenaikan sebesar 185% secara tahunan (year-on-year/YoY) per akhir Desember 2025.

Sementara itu, nilai transaksi yang tercatat mencapai sekitar Rp 632 miliar, atau meningkat 148% YoY pada periode yang sama. Lonjakan ini menunjukkan meningkatnya adopsi masyarakat terhadap pembayaran digital lintas negara, khususnya dalam mendukung aktivitas perjalanan, wisata, hingga kebutuhan konsumsi sehari-hari.

“Sejauh ini, QRIS Cross Border telah mendukung kebutuhan nasabah yang beraktivitas di luar negeri, mulai dari transaksi ritel harian, konsumsi, hingga pembayaran di sektor pariwisata dan gaya hidup. BCA senantiasa berkomitmen mengembangkan dan memperluas layanan digital guna memenuhi kebutuhan nasabah yang terus berkembang,” tambah Hendra.

Dampak QRIS Cross Border bagi Ekosistem Digital

Pengembangan QRIS Cross Border dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat integrasi ekonomi digital Indonesia dengan dunia internasional. Sistem ini memungkinkan pengguna melakukan pembayaran di luar negeri hanya dengan memindai kode QR lokal, tanpa perlu menukar uang tunai dalam jumlah besar.

Selain memberikan kemudahan bagi masyarakat, sistem ini juga mendukung efisiensi biaya transaksi, meningkatkan transparansi nilai tukar, serta mempercepat proses pembayaran di sektor pariwisata dan perdagangan ritel.

Ke depan, Bank Indonesia bersama berbagai mitra internasional diperkirakan akan terus memperluas kerja sama QRIS Cross Border ke lebih banyak negara. Hal ini sejalan dengan visi jangka panjang untuk membangun ekosistem pembayaran digital global yang saling terhubung dan inklusif, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam inovasi sistem keuangan digital di kawasan Asia.