Robinhood Chain Hadapi Isu Sentralisasi, Co-Founder Arbitrum Dorong Desentralisasi Sequencer

Robinhood Chain Hadapi Isu Sentralisasi, Co-Founder Arbitrum Dorong Desentralisasi Sequencer

Robinhood Chain mulai menjadi perhatian komunitas kripto setelah struktur operasional jaringannya menimbulkan kekhawatiran soal sentralisasi. Jaringan yang dibangun menggunakan teknologi Arbitrum ini masih mengandalkan satu pihak, yaitu Robinhood, untuk mengendalikan sequencer.

Co-founder Arbitrum, Steven Goldfeder, turut menanggapi persoalan tersebut. Ia mengakui adanya keterbatasan pada arsitektur Robinhood Chain saat ini dan menilai desentralisasi sequencer dapat meningkatkan ketahanan jaringan terhadap sensor tanpa harus mengubah mekanisme fraud proof milik Arbitrum.

Bagaimana Robinhood Chain Bekerja?

Robinhood Chain resmi meluncurkan mainnet pada 1 Juli 2026. Blockchain ini berjalan sebagai Arbitrum Orbit chain dengan chain ID 4663 dan menggunakan Ethereum (ETH) sebagai aset untuk membayar biaya transaksi.

Robinhood Chain menawarkan waktu pembuatan blok sekitar 100 milidetik. Sebelum mainnet diluncurkan, jaringan tersebut juga telah memproses lebih dari 200 juta transaksi selama fase testnet.

Namun, terdapat satu aspek yang menjadi perhatian, yaitu pengelolaan sequencer.

Sequencer bertugas mengurutkan dan menggabungkan transaksi sebelum data tersebut dikirimkan ke Ethereum. Saat ini, Robinhood masih mengendalikan sequencer tersebut secara penuh.

Selain itu, hanya terdapat dua fraud-proof challenger yang masuk dalam daftar pihak yang diizinkan. Sementara itu, peningkatan protokol diatur melalui mekanisme multisig 7-dari-8, yang berarti tujuh dari delapan pemegang kunci harus menyetujui perubahan sebelum diterapkan.

Co-Founder Arbitrum Dorong Desentralisasi Sequencer

Menurut Goldfeder, persoalan tersebut masih dapat diselesaikan tanpa harus mengubah sistem fraud proof yang digunakan Arbitrum.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mendesentralisasi sequencer dengan melibatkan beberapa operator independen untuk menjalankan proses pengurutan transaksi.

Desentralisasi ini dinilai dapat mengurangi risiko sensor sekaligus membuat jaringan tidak terlalu bergantung pada satu operator.

Dengan lebih banyak pihak yang terlibat dalam pengoperasian sequencer, gangguan teknis pada satu operator juga tidak serta-merta menghentikan seluruh aktivitas jaringan.

Robinhood Chain Mulai Menghasilkan Pendapatan untuk Arbitrum DAO

Selain persoalan teknis, Robinhood Chain juga mulai memberikan kontribusi finansial kepada ekosistem Arbitrum.

Robinhood Chain mengalokasikan 10% dari pendapatan bersih protokol kepada ekosistem Arbitrum. Dari jumlah tersebut, 8% masuk ke kas Arbitrum DAO yang dikelola melalui tata kelola ARB, sedangkan 2% diberikan kepada Developer Guild.

Pada Juli 2026, bulan pertama setelah mainnet beroperasi, Robinhood Chain menyumbang sekitar US$360.000 kepada Arbitrum DAO.

Jumlah tersebut disebut setara dengan sekitar 35% dari pendapatan bulanan DAO, sehingga Robinhood Chain langsung menjadi salah satu sumber pendapatan penting bagi ekosistem Arbitrum.

Pada 1 September 2026, Robinhood Chain juga mencatat total biaya transaksi sekitar US$3,75 juta dalam satu hari.

Ketika aktivitas jaringan berada di level tinggi, biaya transaksi rata-rata mencapai sekitar US$0,40. Aktivitas decentralized exchange (DEX), terutama perdagangan memecoin, disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya aktivitas transaksi.

Robinhood Chain Sempat Mengalami Gangguan

Persoalan mengenai sequencer terpusat semakin mendapat perhatian setelah Robinhood Chain mengalami gangguan pada 4 September 2026.

Gangguan tersebut menyebabkan produksi blok terhenti selama setidaknya 14 menit.

Karena sequencer saat ini dikendalikan oleh satu entitas, masalah pada komponen tersebut berpotensi menghentikan produksi blok di seluruh jaringan.

Insiden tersebut menjadi gambaran nyata mengenai risiko dari ketergantungan pada satu operator. Desentralisasi sequencer dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ketahanan Robinhood Chain terhadap gangguan teknis maupun risiko sensor.

Robinhood Chain dan Masa Depan Arbitrum Orbit

Robinhood Chain menjadi contoh dari tren baru di industri kripto, ketika perusahaan fintech besar memilih membangun blockchain khusus menggunakan infrastruktur rollup yang sudah tersedia.

Melalui Arbitrum Orbit, perusahaan dapat membuat blockchain dengan parameter yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka tanpa harus membangun jaringan Layer 1 dari awal.

Model tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh fleksibilitas dalam mengatur jaringan sekaligus tetap terhubung dengan Ethereum untuk proses settlement dan keamanan.

Bagi ekosistem Arbitrum, pertumbuhan Robinhood Chain juga berpotensi menjadi semakin penting jika volume transaksi dan pendapatannya terus meningkat.

Apa yang Perlu Diperhatikan Pemegang ARB?

Perkembangan Robinhood Chain menjadi salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan oleh komunitas Arbitrum dan pemegang ARB.

Ada dua indikator utama yang layak dipantau, yaitu volume transaksi Robinhood Chain dan perkembangan rencana desentralisasi sequencer.

Pertumbuhan transaksi dapat memengaruhi jumlah pendapatan yang mengalir ke Arbitrum DAO. Sementara itu, perubahan struktur sequencer dan penambahan pihak yang dapat menjadi challenger dapat menunjukkan sejauh mana Robinhood Chain bergerak menuju jaringan yang lebih terdesentralisasi.

Ke depan, tantangan utama Robinhood Chain adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan transaksi, pendapatan, keamanan, dan desentralisasi. Bagaimana Robinhood menangani persoalan tersebut dapat menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan jaringan dan ekosistem Arbitrum secara keseluruhan.