Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.935 per Dolar AS, Simak Proyeksi Pergerakannya Hari Ini

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.935 per Dolar AS, Simak Proyeksi Pergerakannya Hari Ini

Rupiah Dibuka Melemah, Pasar Fokus pada Cadev BI dan Data Ketenagakerjaan AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (7/8/2026). Meski demikian, sejumlah analis menilai mata uang Garuda masih memiliki peluang untuk menguat secara terbatas menjelang penutupan pekan, ditopang oleh kinerja ekonomi domestik yang lebih baik dari perkiraan serta pelemahan dolar AS di pasar global.

Mengutip Antara, rupiah dibuka melemah 12 poin atau 0,07% ke level Rp17.935 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.923 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan sentimen domestik masih cukup positif setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year-on-year/YoY). Angka tersebut melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,10%, meski sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61%.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih mampu bertahan di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional. Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, investasi yang meningkat, serta belanja pemerintah dinilai menjadi faktor yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain data pertumbuhan ekonomi, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis cadangan devisa (cadev) Indonesia periode Juli 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada hari ini. Data tersebut dinilai penting karena menjadi salah satu indikator kekuatan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memenuhi kebutuhan pembiayaan eksternal.

Cadangan devisa yang tetap tinggi umumnya memberikan ruang lebih besar bagi BI untuk melakukan stabilisasi di pasar valas apabila terjadi gejolak nilai tukar. Sebaliknya, jika terjadi penurunan yang cukup besar, pasar berpotensi mencermati sejauh mana kemampuan bank sentral dalam meredam tekanan terhadap rupiah.

Dolar AS Melemah

Dari sisi eksternal, rupiah memperoleh dukungan dari pelemahan indeks dolar AS setelah sejumlah data ekonomi Negeri Paman Sam menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi.

Data ADP Employment mencatat penambahan tenaga kerja sektor swasta yang lebih rendah dari perkiraan, sementara indeks aktivitas sektor jasa ISM Services PMI juga berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum sehingga Federal Reserve diperkirakan tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga atau mempertahankan kebijakan moneter yang terlalu ketat.

Harapan bahwa bank sentral AS akan mengambil sikap yang lebih hati-hati membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS cenderung turun, sehingga mengurangi daya tarik dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor ekonomi, sentimen global juga membaik setelah adanya perkembangan diplomatik antara Iran dan Oman terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mengurangi permintaan investor terhadap aset safe haven seperti dolar AS, sehingga memberikan ruang bagi mata uang emerging markets untuk menguat.

Pasar Menanti Data Penting AS

Meski demikian, pelaku pasar masih memilih bersikap hati-hati menjelang serangkaian data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis pada Jumat waktu setempat.

Fokus utama investor adalah laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP), tingkat pengangguran, dan pertumbuhan upah. Ketiga indikator tersebut menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Apabila data tenaga kerja AS menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dapat kembali berkurang. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada rupiah. Sebaliknya, apabila data ketenagakerjaan lebih lemah, peluang pelonggaran kebijakan moneter akan semakin besar sehingga dapat menjadi sentimen positif bagi mata uang Asia.

Selain NFP, investor juga mencermati data klaim awal tunjangan pengangguran (Initial Jobless Claims) sebagai indikator awal kondisi pasar tenaga kerja AS.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga akan terus mengamati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan moneter maupun intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan.

Muhammad Amru Syifa menilai rupiah masih memiliki peluang menguat dalam jangka pendek berkat pertumbuhan ekonomi domestik yang melampaui ekspektasi serta pelemahan dolar AS di pasar global. Namun, ruang penguatan diperkirakan tetap terbatas karena pasar masih menunggu kepastian dari rilis cadangan devisa Indonesia serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berpotensi meningkatkan volatilitas perdagangan.

Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Pelaku pasar diperkirakan tetap mengadopsi strategi wait and see hingga arah kebijakan moneter global menjadi lebih jelas setelah rilis data ekonomi AS.