Rupiah Diprediksi Melemah Pekan Ini, Berpotensi Tembus Rp18.200 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada pekan ini, Senin (19/10/2026). Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.200 per dolar AS akibat sejumlah faktor, mulai dari kondisi ekonomi domestik hingga kenaikan harga minyak dunia.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut meskipun Bank Indonesia (BI) dan pemerintah telah melakukan intervensi di pasar keuangan.
Pada perdagangan Senin pagi, rupiah tercatat berada di level Rp18.069 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp18.027 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tantangan di tengah ketidakpastian pasar keuangan dan meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri.
Arus Modal Asing Jadi Tekanan bagi Rupiah
Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah adalah perkembangan pasar modal Indonesia. Langkah penyedia indeks global MSCI dinilai dapat memengaruhi persepsi investor asing terhadap pasar keuangan domestik.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut berpotensi menekan aliran modal asing dan menambah tekanan terhadap rupiah.
Jika investor asing mengurangi investasinya di pasar Indonesia, permintaan terhadap dolar AS dapat meningkat. Kondisi ini berpotensi membuat nilai tukar rupiah semakin tertekan.
Selain arus modal asing, kebutuhan valuta asing untuk berbagai keperluan juga menjadi perhatian. Kebutuhan pembayaran impor energi, kewajiban utang yang jatuh tempo, serta pembagian dividen perusahaan kepada investor turut memengaruhi permintaan dolar AS.
Ibrahim mengatakan Bank Indonesia dan pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar keuangan.
Namun, efektivitas kebijakan tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global dan kondisi pasar domestik.
Harga Minyak Dunia Berpotensi Tembus US$100 per Barel
Selain faktor pasar keuangan, kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu risiko bagi stabilitas rupiah.
Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$94,20 hingga US$104,80 per barel pada pekan ini. Harga minyak tersebut berpotensi kembali menembus level US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi Indonesia. Pasalnya, pembayaran impor minyak umumnya membutuhkan dolar AS sehingga peningkatan nilai impor dapat menambah kebutuhan valuta asing.
Ketika permintaan dolar AS meningkat, rupiah berpotensi mengalami tekanan, terutama jika pasokan valuta asing tidak bertambah dalam jumlah yang seimbang.
Selain berdampak pada nilai tukar, kenaikan harga energi juga dapat menambah beban anggaran negara. Pemerintah perlu memperhitungkan dampaknya terhadap pembiayaan impor energi dan kebutuhan belanja lainnya.
Defisit Anggaran dan Prioritas Belanja Pemerintah Jadi Sorotan
Ibrahim menilai pemerintah perlu mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Menurut dia, meningkatnya biaya impor energi dapat memperbesar tekanan terhadap anggaran negara. Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengevaluasi prioritas penggunaan anggaran agar kebutuhan energi tetap dapat terpenuhi.
Ia juga mengusulkan evaluasi pembiayaan sejumlah program pemerintah sehingga alokasi anggaran dapat lebih difokuskan pada kebutuhan impor energi.
Langkah tersebut menjadi salah satu usulan untuk menghadapi risiko kenaikan harga minyak dunia. Namun, keputusan mengenai prioritas belanja tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, keberlanjutan program pemerintah, serta kondisi keuangan negara.
Rupiah Berpotensi Menyentuh Rp18.500 per Dolar AS pada Akhir Tahun
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih perlu diwaspadai hingga akhir 2026. Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi mencapai Rp18.500 per dolar AS apabila tekanan dari dalam negeri dan kondisi global terus berlanjut.
Meski demikian, proyeksi tersebut bukan kepastian. Pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebijakan Bank Indonesia, langkah pemerintah, arus modal asing, harga minyak dunia, dan perkembangan geopolitik.
Apabila tekanan eksternal mereda dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia membaik, pergerakan rupiah dapat berbeda dari proyeksi tersebut.
Sebaliknya, kenaikan harga energi yang berkelanjutan dan meningkatnya kebutuhan dolar AS dapat memperbesar risiko pelemahan nilai tukar.
Faktor yang Perlu Dicermati dalam Pergerakan Rupiah
Pergerakan rupiah pada pekan ini akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu perkembangan arus modal asing, kebutuhan dolar AS untuk impor energi, pembayaran utang, serta kenaikan harga minyak dunia.
Respons Bank Indonesia dan pemerintah juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.
Dengan proyeksi pergerakan di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.200 per dolar AS, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan ekonomi secara berkala. Sementara itu, proyeksi rupiah mencapai Rp18.500 per dolar AS pada akhir tahun menunjukkan adanya risiko lanjutan apabila tekanan terhadap perekonomian Indonesia semakin besar.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan kebutuhan valuta asing, dan mengantisipasi dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian nasional.
0 Comments